Jumat, 23 Oktober 2026

Kebakaran Lahan Gambut dan Ancamannya Bagi Ketahanan Pangan

Melihat dan membaca perihal kebakaran hutan dan lahan yang saat ini masih menyelimuti berbagai wilayah di Indonesia, begitu sedih begitu menyakitkan. Padahal jika di antisipasi jauh-jauh hari kemungkinan dampaknya tidak akan meluas seperti saat ini. Bahkan di beberapa kawasan, api tak mudah dipadamkan khususnya di lahan gambut.


Meskipun padam pada wilayah permukaan, sebenarnya bagian dalam lahan gambut masih memiliki titik api, dikarenakan bahan organik di dalam lahan gambut yang melimpah. Sebagaimana yang diterangkan dalam webinar Eco Blogger Squad pada 16 Oktober 2026 yang menghadirkan Yoga Aprilliano - Communication Leads Pantau Gambut.


Indonesia adalah rumah bagi ekosistem gambut terbesar di dunia dengan 24,2 juta hektare yang tersebar luas di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Dalam pengertiannya ekosistem Gambut merupakan lahan basahnyang terbentuk dari akumulasi organik dan menyimpan karbon dengan jumlah yang sangat besar dalam meregulasi iklim.

Peran Gambut Bagi Keragaman Hayati

Gambut merupakan ekosistem yang memiliki peran strategis bagi kehidupan. Selain berperan sebagai penyimpan air dan penjamin ketersediaan air, gambut  menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati, menjadi rumah bagi berbagai flora serta fauna endemik yang memiliki nilai konservasi tinggi. Itulah sebabnya perlindungan ekosistem gambut berarti telah turut menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.

Disamping itu juga berperan sebagai penyedia spesies asli sumber pangan. Telah lama, warga lokal setempat hidup berdampingan dengan gambut, keberlangsungan hidupnya menjaga dan memanfaatkan hasil hutan serta rawa misalnya melalui praktik berladang dengan menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan.

Lahan Gambut di umpamakan layaknya spons raksasa, dimana pada kondisi alami seharusnya tidak mudah terbakar. Justru mampu menyerap serta menahan air dengan maksimal. Akan tetapi bila lahan gambut kering, api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan sangat sulit dipadamkan. Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gambut terjadi, bukan hanya vegetasi yang terbakar, tetapi juga kesehatan tanah yang menjadi fondasi seluruh ekosistem menanggung dampaknya.

Mirisnya saat ini kondisi gambut di Indonesia berada dalam situasi rentan yang sebenarnya bukan terjadi secara alamiah melainkan dampak langsung dari kekeliruan struktural akibat kanalisasi berlebihan.

Pembangunan kanal-kanal raksasa yang tidak terkendali dan cenderung berlebihan untuk kepentingan komoditas tanaman industri seperti sawit misalnya telah memaksa air keluar dari tanah gambut, sehingga menyebabkan kekeringan, padat, hingga kemudian kehilangan fungsi alami sebagai spons raksasa penyerap air. Menjadi pemicu banjir ketikamusim penghujan  tiba sebaliknya justru menjadi pemicu bahan bakar yang sangat mudah terbakar pada musim kemarau.



Tidak ada komentar: