Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Selasa, 30 April 2024

Masjid Lautze Berdesign Unik Khas Tionghoa

Indonesia begitu dikenal sebagai negeri yang ramah, dengan toleransi yang tinggi dimana masyarakatnya tetap bisa hidup berdampingan di atas segala perbedaan baik budaya, ras dan agama. Hal ini kerap menjadi suatu kekaguman bagi pendatang ataupun pihak luar. Meskipun terakhir belakangan ini sering tersulut karena adanya persinggungan.

Salah satu wujud akulturasi pun sering kali terjemahkan pada rumah ibadah, misalnya aja Masjid yang mirip kelenteng. Di Indonesia begitu banyak tersebar di beberapa wilayah. Apalagi mengingat kilas legenda ekspedisi Laksamana Cheng Hoo yang turut punya kontribusi dalam menyebarkan Isalam di Indonesia melalui pelayarannya berkeliling dunia sambil berdiplomasi, menjalin persahabatan, dan memperluas perdagangan.

Namanya pun kerap kali di abadikan menjadi nama-nama masjid di Indonesia, seperti Masjid Cheng Hoo di Surabaya, Masjid Muhammad Cheng Hoo di Pasuruan dan Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo di Palembang. Di Jakarta juga ada beberapa Masjid bergaya arsitektur Tiong hoa seperti Masjid Babah Alun yang dibangun oleh mualaf Bos Jalan tol Jusuf Hamka. Selain itu ada juga Masjid Lautze yang diresmikan pada tahun 1999 dibangun oleh Yayasan Haji Karim Oei.

Design Khas Tionghoa Masjid Lautze

Berdiri di deretan ruko beralamat Jalan Lautze No 87-89, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Masjid unik dengan design Tionghoa ini tidak memiliki kubah dan menara sebagaimana masjid di Indonesia pada umumnya. Bangunan empat lantai ini di dominasi cat merah dan kuning dilengkapi corak mencolok layaknya kelenteng.

Di halaman depannya terdapat aksesoris lampion yang menggantung serta mempunyai pintu utama berjumlah empat buah dengan dua sisi cukup lebar. Memasuki area ruang sholat utama (pria) terpasang kaligrafi dengan 3 bahasa yaitu Indonesia, Arab, dan Mandarin yang memiliki makna dan arti dari nama-nama Allah. Untuk tempat wudhu-nya berada pada tengah masjid yang juga memiliki warna bernuansa kuning dan merah.

Masjid Lautze memiliki 4 lantai dengan fungsi berbeda-beda. Lantai 1 untuk tempat ibadah laki-laki, sedangkan lantai 2 untuk ruang ibadah perempuan, di lantai 3 adalah kantor pengurus masjid, dan lantai 4 khusus aula pertemuan.

Kilas Balik Berdirinya Masjid Lautze Jakarta

Konon penamaan “Lautze” dilandaskan atas nama seorang tokoh muslim Tionghoa yang memeluk Islam pada tahun 1930-an. Yang juga punya arti bermakna dalam bahasa Mandarin yakni guru. Lewat Yayasan Karim Oei, Masjid Lautze di harapkan bisa menjadi tempat yang tepat untuk menyampaikan informasi Islam khususnya bagi warga Tionghoa ataupun orang-orang yang ingin mengetahui Islam.

Awalnya Masjid Lautze ini merupakan sebuah ruko sewaan yang digunakan untuk operasional Yayasan Haji Karim Oei. Karena statusnya hanya sewa pada tahun 1991 kerap kali membuat situasi tidak menentu dan bergantung dengan pemilik ruko sampai kemudian pemilik ruko menawarkan yayasan untuk membeli bangunan tersebut. Tetapi saat itu, yayasan belum memiliki dana yang cukup, sampai akhirnya memutuskan untuk mencari donatur.

Pada tahun 1994, Bapak BJ Habibie membeli bangunan ruko tersebut yang kemudian diwakafkan kepada yayasan serta di resmikan sebagai masjid. Adapun yang mendasari design Masjid tetap memiliki khas ala kelenteng adalah menjadi salah satu daya tarik unik cara membuat masyarakat sekitar, khususnya warga etnis Tionghoa, untuk datang ke tempat tersebut agar setidaknya lebih akrab juga tidak merasa terasing dengan budaya masyarakat Tionghoa.

Di Masjid Lautze juga menyediakan pengajar bagi mualaf yang mau belajar mengaji ataupun mendalami Islam. Seringkali juga ada beberapa relawan yang datang secara sukarela untuk membantu. Dan setiap ahad sering diadakan pengajian rutin yang terbuka untuk masyarakat umum juga sering menjadi berkumpul bareng mualaf, belajar Iqra, dan surat pendek Al-Quran.



1 komentar:

elfanmauludi mengatakan...

Toleransi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia, inilah yang mestinya menjadi ciri khas bangsa kita, tidak seperti yang ada di TV...