Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Selasa, 15 Januari 2019

Menyusuri Destinasi Yogya Selatan


Menempuh perjalanan setelah beranjak dari Magelang. Sudah kesekian kali bertandang ke Yogyakarta, tujuan Saya dan ketiga adik kala itu adalah menyusuri kawasan Selatan Yogyakarta yang memiliki panorama keindahan dengan dominasi ke eksotikan pantai serta panorama destinasi lainnya yang tidak kalah menarik tentu saja.

Melajukan kendaraan ke arah Bantul, ada kisah di balik perjalanan kali itu. Sebelum menelusuri tujuan utama Kami memang berniat untuk singgah ke sebuah air terjun yang searah dengan perjalanan saar itu. Mengandalkan google map yang Kami temui justru tebing kerontang. Menurut kabar dari masyarakat yang ditemui (setelah 2 kali bolak balik) di tempat itu sebelumnya memang ada air terjun kecil. Tapi sudah lama mengering (wuaduuh). Sedihnya lagi, Saya harus merelakan sandal gunung kesayangan yang telah lama mengiringi perjalanan harus putus terjembab di lumpur.

Gumuk Pasir

Baiklah, perjalanan harus tetap berlanjut. Kendaraan roda dua yang Kami kendarai tiba di sebuah desa kecamatan Kretek. Tepatnya Jl. Pantai Parangkusumo RT. 1, Grogol 10, Kretek, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terdapat gurun pasir yang umumnya hanya dijumpai di negara-negara Timur Tengah atau Afrika Utara. Terlihat hamparan lautan pasir seluas 2KM dengan beberapa gundukan sekitar 5-15 Meter.

Geowisata yang dinamai Gumuk Pasir ini berada di sepanjang sungai Opak, Pantai Parangtritis hingga pantai Depok. Yang menjadikannya istimewa gumuk pasir sepertu ini hanya ada 3 di Asia  Tenggara yaitu Filipina (La Paz Sand Dunes), Vietnam (Mui Ne Sand Dunes), dan Indonesia. Gumuk Pasir Parangkusumo yang masuk dalam gumuk pasir pesisir (coastal dunes). Gumuk pasir ini terdapat di seluruh garis lintang di dunia, mulai dari kutub hingga khatulistiwa, dan bertype pasir berchan.

Pasir yang ada di tempat ini merupakan material vulkanik Gunung Merapi yang dibawa oleh aliran Sungai Opak hingga sampai di muara di laut selatan. Proses selanjutnya adalah hantaman ombak samudera yang besar dan terus-menerus menyebabkan material vulkanik tersebut mengalami pengerusan dan menjadi butiran pasir yang sangat halus. Butiran pasir kemudian tersapu oleh angin ke daratan dan terciptalah sebuah gurun pasir.

Di tempat wisata ini memiliki banyak spot foto yang unik. Salah satunya adalah tulisan Gumuk Pasir yang cukup besar. Di disisi lain ada ayunan, disini pengunjung bisa merasakan keseruan bermain ayunan di atas pasir bertekstur halus dengan angin yang bertiup sepoi. Yang tak kalah unik adalah pohon kaktus yang mengidentikan sebagai tanaman padang pasir.

Daya tarik lainnya yang tak kalah seru dimana para pengunjung bisa merasakan sensasi berseluncur dari atas bukit mengunakan papan seluncur atau terkenal dengan istilah sandboarding. Ada beberapa tempat penyewaan papan seluncur dengan harga yang bervariasi tergantung lamanya durasi.

Pantai parangkusomo

Kembali menyusuri kawasan Bantul  sebelah selatan Kota Yogyakarta, Kami tiba di sebuah destinasi bernuansa peairan. Adalah Pantai Parangkusomo yang kurang lebih jaraknya  30 km dari pusat Kota Yogyakarta. Pantai ini letaknya bersebelahan dengan Pantai Parangtritis.

Masih ada keterkaitan dengan legenda Sang Ratu Pantai Selatan ketika jatuh cinta kepada orang kerajaan yang tengah bertapa. Hembusan angin dan deburan ombak khas pantai selatan cukup kental terasa. Memiliki tekstur pasir yang halus dan berwarna agak kecoklatan. Di tempat ini juga ditumbuhi beberapa tanaman sejenis kelapa sawit.

Siang yang begitu terik, tak perlu khawatir sebab di pinggiran pantai tersedia banyak bilik warung yang menjual kudapan dan air kelapa.

Pantai Parangtritis

Masih satu garis pantai dengan parangkusomo . berada di selatan Kota Yogyakarta tepatnya ada di Kecamatan Kretek , Kabupaten Bantul – Yogyakarta. Menjadi salah satu lokasi wisata yang menjadi favorite para wisatawan.

Angin bertiup kencang dibiringi deburan ombak yang terhubung dengab Samudera Hindia rata-rata memiliki ketinggian  2-3 meter. Disini dapat terlihat langsung panorama pantai laut selatan yang membentang dengan hamparan pasir indahnya. Tebing tinggi yang cukup ikonik di parangtritis adalah Tebing Gembirawati.

Keyakinan dari masyarakat Jawa, objek wisata Pantai Parangtritis mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kerajaan gaib Ratu Pantai Selatan atau biasa orang menyebutnya Ratu Kidul, dan merupakan penguasa laut selatan.  Parangtritis juga disebut sebagai pintu gerbang dari kerajaan laut selatan, oleh karena itu masyarakat sekitar mempercayai apabila ada seseorang yang datang kesana menggunakan pakaian berwarna hijau, maka orang tersebut akan mendapatkan musibah.

Nama Parangtritis sendiri didapat dari kisah pelarian Sang Pangeran Dipokusumo pada zaman Kerajaan Majapahit yang kemudian melakukan pertapaan di sini. Sang Pangeran menemukan batu karang besar yang terdapat aliran tetesan air. Jadi jika ditafsirkan Parang artinya karang dan Tritis atau Tumeritis berarti saling menetes.

Embung Nglarengan

Menjelang senja, niatnya ingin menyaksikan sunset dari atas ketinggian gunung api purba. Jalanan yang cukup berliku dengan bebatuan besar disekitarnya mengiringi perjalanan Kami saat itu. Setibanya di lokasi, sayang sekali tidak mendapat kesempatan lantaran jalan track yang cukup licin pasca hujan turun.

Kemudian Kami di arahkan untuk menikmati panorama danau buatan yang dinamai Embung Nglanggeran Gunungkidul. Berlokasi di Nglanggeran, Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menjadi salah satu objek wisata alam yang berada di atas ketinggian di daerah Gunung kidul. Paduan antara keunikan Embung dan hijaunya alam sekitarnya begitu memikat. Disuguhkan pemandangan Gunung Api Purba Nglanggeran.  Tempat ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada bulan Februari 2013.

Danau buatan yang tepat berada di atas bukit ini bermanfaat untuk menampung air hujan dan dimanfaatkan untuk mengairi perkebunan petani pada saat musim kemarau. Untuk menuju ke lokasi ini pengunjung diharuskan menaiki beberapa tangga.

Kawasan Embung ini juga disebut Kebun Buah Nglanggeran, karena di sekitar bawah bukit ini ada kebun-kebun buahan seperti durian dan kelengkeng. Selain sebagai objek wisata, embung ini berfungsi untuk menampung air guna mengairi kebun-kebun buah tersebut.

Minggu, 06 Januari 2019

2019 Berharap Untuk Yang Lebih Baik

Waktu demi waktu silih berganti, memasuki tahun yang baru 2019, segala pengharapan digantungkan setinggi langit sebagaimana kata bijak seorang tokoh proklamator "Gantungkan segala harapan dan cita-cita setinggi langit, agar ketika terjatuh maka terjatuh diantara bintang-bintang."


Tahun 2018 lalu begitu banyak ujian menerpa bangsa tercinta ini. Berbagai bencana bertubi-tubi datang sebagai cobaan. Kehancuran dan kehilangan mewarnai setiap pemberitaan di berbagai media. Sudah waktunya bagi Kita untuk bermuhasabah, merenungkan atas segala kejadian menjadikannya bahan pembelajaran.

Itulah sebab bagi Saya rasanya kurang etis menyambut tahun baru masehi ini dengan hura-hura sedang di sudut lain negeri masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

Sepanjang tahun 2018 banyak juga berbagai kejadian dari suka, duka dan rasa kecewa mewarnai di tiap waktunya. Menemui hal-hal baru, berbagai kesempatan yang luar biasa sekali untuk di syukuri ketika merenungkannya. Salah satunya adalah kesempatan mengunjungi berbagai desinasi di Nusantara. Merunut berbagai destinasi sebagai kalaeidoskop di awal tahun. Berikut beberapa diantaranya :