Selasa, 29 September 2026

Lebih dari Fungsi Ekologis, Tanaman ini Bisa Jadi Bahan Pangan

Sebelumnya aku tidak mengetahui betul, kalau mangrove yang sering menjadi sarana ecowisata dan tanamannya berfungsi menahan abrasi rupanya bisa menjadi sumber bahan pangan untuk dikonsumsi bahkan bernilai ekonomis. Informasi secara terperinci ini, Aku dapatkan setelah mengikuti gathering online #EcoBloggerSquad yang mengangkat tema "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat".

Eco blogger squad Mangrove Raja Ampat

Menghadirkan narasumber Ka Daniel Kbarek (Program Officer The Asian Foundation) dan Ka Wawiyai Steve (Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat) sebagaimana telah diketahui kalau mangrove telah menjadi bagian penting strategi mitigasi krisis iklim sebab kemampuaannya dalam menyerap emisi karbon. Disamping itu juga sebagai tempat perlindungan keanekaragaman hayati.

Belum banyak diketahui bahwa ternyata bagi masyarakat Papua, pemanfaatan dan pengelolaan Mangrove sudah dilakukan sejak abad ke-14 menjadi pangan untuk dikonsumsi bersama sagu dan sorgum menjadi bekal utama dalam pelayaran masyarakat Papua di masa lampau. Salah satu jenis Mangrove yang dikonsumsi adalah Bruguiera gymnorrhiza, dimana dalam bahasa lokal disebut Aiwon. 

Melihat potensi Mangrove yang punya fungsi ganda sebagai manfaat ekologis dan bahan pangan, The Asia Foundation lewat Program PAPeDA (Papua Public Finance for Eco-Development and Adat) bersama PKPRA serta masyarakat setempat mulai merancang cara mengelola mangrove dengan bermacam pendekatan.

Adapun pengelolaan skema mangrove berkelanjutan ini yakni dengan :  

  • Memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai sumber pangan alami.
  • Mengembangkan komoditas lokal tanpa merusak ekosistem pesisir.

Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Agar Lestari

Upaya memulihkan ekosistem pesisir yang rusak dan meningkatkan tutupan mangrove yang rusak bertujuan untuk memperbaiki ekosistem, melindungi pesisir, mewujudkan masa depan berkelanjutan. 

Ada 5 tahapan yang telah dilakukan :

1. Identifikasi Lokasi

Pemetaan kondisi kawasan dan penentuan area prioritas rehabilitasi

2. Penyediaan Bibit

Pembibitan jenis mangrove lokal yang sesuai dengan kondisi ekosistem

3. Penanaman

Penanaman bibit mangrove secara partisipatif bersama masyarakat

4. Pemeliharaan

Perawatan mangrove secara rutin untuk memastikan peetumbuhan optimal

5. Monitoring dan Evaluasi

Pemantauan pertumbuhan dan dampak mangrove terhadap ekosistem dan untuk masyarakat.

Tentunya keberhasilan pemulihan ekosistem ini juga dipengaruhi empat pilar seperti Zonasi, pembibitan lokal, restorasi hidrologi, dan partisipasi bersama khususnya masyarakat adat memiliki peran untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga wilayah pesisir dari abrasi sekaligus mengakses skema insentif jasa lingkungan atau pendanaan iklim berbasis daerah.

Perlindungan ekosistem mangrove di Raja Ampat yang telah di jalani merupakan strategi konservasi pesisir dengan menerapkan Pengawasan Berbasis Masyarakat :

- Penegakan hukum adat 

Menerapkan pelarangan mengambil Sumber Daya Mangrove pada periode tertentu untuk pemulihan ekosistem secara alami.

- Zonasi Kearifan Lokal

Menentukan area sakral dan pemanfaatan area terbatas guna menjaga keberlangsungan stok pangan laut

- Pelibatan Tokoh Masyarakat

Memperkuat peran pemangku adat dalam memantau kapatuhan warga terhadap aturan perlindungan kawasan Mangrove.

Salah satu kawasan yang telah membudidayakan Mangrove lebih dari sekedar fungsi ekologis tapi juga mengolahnya menjadi bahan pangan adalah Kampung Friwen yang telah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat setempat. Uniknya kelompok perempuan di wilayah pesisir ini punya peran krusial.

Di Raja Ampat, laki-laki akan lebih banyak mengakses laut seperti memancing, dan melakukan metode penangkapan ikan lainnya. Sedangkan perempuan, akan lebih dekat dengan Mangrove, maksudnya lebih dekat mengakses sumber daya di sekitaran Mangrove. Jadi perempuan dapat melakukan pemanfaatan terhadap Mangrove misalnya dengan pengambilan buah Mangrove, mengambilan kulit kayu, dan lainnya.

Dengan pengolahan yang tepat, buah mangrove layak dikonsumsi dan beberapa diantaranya dapat diolah menjadi bahan pangan alternatif yang kaya karbohidrat, vitamin, dan antioksidan.

1. Buah Lindur : Bentuknya memanjang silindris, dan menyerupai roket kecil

2. Buah Pedada : Berbentuk bulat atau bola pipih cenderung warna hijau agak kekuningan

3. Buah Tanjang : Berbentuk oval mirip zaitun kecil 

4. Buah Bakau : bentuknya memanjang lebih tipis dari buah Lindur.

Olahan mangrove Raja Ampat

Dari beragam buah mangrove nantinya di olah dengan standard pangan untuk menghilangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan. Mangrove yang telah diolah bisa berupa tepung dan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk menggantikan terigu sebagai sumber karbohidrat atau pembuatan mie serta olahan pangan lain seperti keripik, cookies, sirup ataupun selai.

Rabu, 02 September 2026

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa Menuju Masyarakat Mandiri dan Berdaya

Ditengah tantangan global yang kian kompleks, dibutuhkan kemandirian dan masyarakat berdaya. Lewat forum lintas sektor, Dompet Dhuafa menggelar Kongres Kemandirian yang di laksanakan pada 29 Agustus 2026 bertempat di Patra Jasa Yudistira Grand Ballroom Kuningan, Jakarta selatan. Mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga filantropi, komunitas, praktisi pemberdayaan, serta penerima manfaat. 

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa

Mengusung tema “Satu Forum, Satu Peta Jalan Kemandirian Bangsa”, Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pemberdayaan masyarakat dan merumuskan langkah konkret menuju masyarakat yang lebih berdaya dan mandiri. Adapun yang dibahas dalam forum ini adalah sejumlah isu strategis, mulai dari kesehatan, ketahanan sosial, pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi untuk berbagi gagasan dalam merumuskan langkah nyata dan konkret membangun masyarakat lebih mandiri.

Acara diawali dengan sambutan tari saman khas Nangroe Aceh Darussalam yang menampilkan gerak lincah para siswi SLB Mekarsari Cibinong, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sekaligus menampilkan tayangan program kemanusiaan yang telah dilakukan filantropi Dompet Dhuafa selama 33 tahun berkiprah.

Selasa, 11 Agustus 2026

Seniman Pangan, Manifest Restorasi Ekonomi dengan Pemberdayaan Pangan Lokal

Setiap tanggal 09 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Hal ini menjadi momen refleksi dan berbenah di balik kebenaran bahwa Indonesia sebenarnya punya kekayaan alam berlimpah tapi sayangnya keanekaragaman hayati ini masih terabaikan, tidak terkecuali untuk masyarakat adat sebagai penjaga hutan dan warisan budaya.

Jelang peringatan HIMAS 2026, sehari sebelumnya, aku bersama teman-teman Eco Blogger Squad bertandang ke Seniman Pangan di kawasan VIDA BEKASI. Disini benar-benar membuka cakrawala informasi, banyak sekali cerita dan ragam produk olahan yang di kelola secara tepat menjadi komoditi dengan inovasinya bernilai jual tinggi.


Dibalik Cerita Seniman Pangan


Seniman Pangan sebuah cafe dengan design bangunan cukup autentik, sekaligus menjadi ruang belajar kewirausahaan kreatif yang diinisiasi oleh Javara Indonesia bertujuan mencapai restorasi ekonomi dengan memberdayakan petani, nelayan, dan masyarakat adat menjadi pengusaha pangan  yang mengolah hasil bumi lokal menjadi produk naik kelas serta memiliki nilai jual lebih.


Johanna Hehakaja, Business Director Sekolah Seniman Pangan menceritakan bahwa kawasan Vida Bekasi yang jaraknya tidak jauh dari Bantar Gebang, sebuah tempat pembuangan akhir untuk sampah bisa di kelola menjadi lahan potensial untuk bersemayamnya ratusan tanaman pangan lokal yang sebelumnya hanya dipenuhi oleh ilalang dan sawah. Permintaan pengembang ingin ada lahan hijau sehingga keputusan membuat kebun percontohan menjadi Sekolah Seniman Pangan terlaksana.

Beliau pun menambahkan berbagai program yang telah dilakukan Seniman pangan adalah dengan mengangkat peran perempuan adat sebagai benteng pertahanan ekosistem hutan dan ketahanan pangan lokal setempat dengan memberi pelatihan di desa adat sehingga tidak sekadar menjual bahan mentah komoditas, melainkan mengolahnya menjadi produk kuliner hingga kerajinan tangan siap pakai.

Disamping itu juga berkolaborasi dalam gerakan negara mitra pasifik seperti Samoa dan Fiji, dimana para wirausahawan perempuan dari kedua negara kepulauan Pasifik datang untuk belajar mengolah potensi pangan lokal secara berkelanjutan.

Jika dilihat sekilas dari luar bangunan Seniman Pangan cukup sederhana, sungguh tak terduga ternyata di belakangnya terdapat kebun seluas 3 hektar. Di lahan yang subur dan terus berkembang ini, terdapat beraneks tanaman yang menyimpan kisah serta nilai-nilai warisan keanekaragaman hayati pangan Indonesia, sekaligus mencerminkan dedikasi orang-orang di baliknya seoertibrempah-rempah dan bahan pangan pokok yang dibudidayakan secara organik hingga di petak-petak  secara khusus.

Aktivitas Program Seniman Pangan


Kendati konsepnya cafe, Seniman Pangan juga menjadi tempat edukasi gastrocultural experience berbasis keanekaragaman hayati maupun workshop dalam pemberdayaan pangan lokal. Salah satu aktivitas yang ditawarkan yaitu farm tour  dengan menjelajahi area perkebunan rempah, sayur organik, hingga kebun bibit (nursery) belajar menanam bibit tanaman secara langsung sampai mencicipi produk olahan artisan.


Mama Etih Suryatin, Partnership Director Seniman Pangan menjelaskan lahan perkebunan terbagi dalam dua area yakni Kebun nutrisi atau kebun contoh meliputi sekumpulan berbagai tanaman lokal dan tanaman nutrisi diantaranya rempah, buah, yang biasanya di olah secara langsung di dapur artisan.

Berikutnya adalah kebun produksi dimana komoditinya adalah beragam tanaman yang pengelolaan lahannya secara teknis menghasilkan panen yang bernilai jual dan cenderung di olah menjadi produk tertentu. 

Selama aktivitas farm tour bersama Seniman pangan bukan hanya diajak berkeliling perkebunan tapi juga menerangkan beberapa informasi seputar tanaman sekaligus belajar menanam bibit, merawat, hingga memahami metode pemupukan tanaman sampai memanen hasil perkebunan (pengalaman mengesankan langsung mencicipi tebu papua secara langsung usai di tebang batangnya). Di Seniman pangan juga adacternak unggas seperti ayam dam bebek serta memanfaatkan lahan terbatas yang bisa difungsikan menjadi kolam ikan.

Workshop dan Olahan Pangan 


Selepas berkeliling perkebunan, para peserta Eco Blogger Squad di perkenalkan dengan garam dari nipah oleh Corazon Nikijuluw, Food technology & education manager Seniman Pangan. Olahan itu diadaptasi dari kebiasaan masyarakat adat di Papua khususnya warisan leluhur suku Moi. Tekstur garam nipah ini layaknya serbuk kristal lebih halus hingga agak kesat, di Javara Indonesia menyediakan garam putih yang telah melewati permurnian, sebab biasanya garam nipah itu umum dikenal sebagai garam hitam.


Setelahnya pun dipersilahkan untuk praktik membuat selai dan sirup dari bahan organik. Pertama adalah selai Rosella, tanaman berwarna merah kaya akan vitamin C dan antioksidan yang sering dipakai untuk menjaga kesehatan umumnys ini sering diolah jadi teh herbal. Namun kali ini di buat selai, dipadukan dengan roti pun begitu klop dengan rasa agak asam, sedikit manis dan segar. 

Membuat Selai Rosella :

  • Siapkan kelopak bunga rosella segar buang bagian biji dan cuci bersih kelopaknya.
  • Haluskan kelopak rosella dengan blender atau chopper bersama sedikit air.
  • Masak hasil blender di wajan dengan gula cair secukupnya
  • Aduk terus di atas api sedang sampai airnya mengering dan mengental.
  • Angkat, dinginkan, lalu simpan di dalam botol kaca.

Berikutnya tentu ga asing dengan kemangi, tanaman yan biasanya untuk lalapan pendamping makan ternyata bisa diolah jadi sirup yang lezat. Dalam pemikiran jujur sempat skeptis "apa ga pahit ya" setelah diracik dan dipadukan dengan es batu hingga menjadi minuman rasanya sungguh menyegarkan. Aku sampai nambah beberapa kali.

Membuat Sirup Kemangi

  • Siapkan daun kemangi segar
  • Setelah dicuci bersih tiriskan hingga benar-benar bersih
  • Rebus air dan daun kemangi 
  • Saring air rebusan daun kemangi ke wadah bersih.
  • Masukkan air saringan ke panci, lalu tambah gula cair murni dan air 
  • Masak pakai api sedang sambil aduk sampai mengental
  • Angkat, biarkan dingin, lalu simpan dalam botol steril.

Eksplorasi perihal pangan lokal belum berhenti di situ, dalam sajian meja prasmanan disediakan begitu banyak ragam makanan siap santap dari berbagai nusantara, diantaranya : 
  1. Nasi Subut - Kalimantan Sambal
  2. Inter Singkong - Bogor  
  3. Tumpang (Sayur) 
  4. Ikan Goreng 
  5. Ayam Tangkap - Aceh 
  6.  Tahu Tempe Bacem  
  7. Sate Singkong dengan sambal kacang - Mollo NTT  
  8. Perkedel Jagung - Mollo NTT 

CONDIMENTS 
  1. Sambal Beberok - NTB 
  2. Sambal Terong Belanda - Sum Sel 
  3. Kerupuk / Emping 

DESSERT 
  1. Rujak Aceh 
  2. Sagu Sep Pisang dengan Gelatto - Papua 
Melalui kunjungan ke Seniman Pangan, semakin membuka wawasan bahwa sebenarnya negeri ini punya potensi pangan yang besar serta unik dari setiap daerahnya.Tentunya tak lepas dari kontribusi masyarakat adat setempat, serta petani. Oleh karenanya perlu dioptimalkan melalui ragam pemberdayaan seperti gastronomi pangan lokal misalnya untuk menjaga keberlanjutan sekaligus tercapai tujuan mewujudkan restorasi ekonomi secara tepat.

Jumat, 07 Agustus 2026

Hempaskan Kegelisahan Moment Wisuda dengan INSTO DRY EYES

INSTO DRY EYES - Malam itu, seperti biasa menjelang tidur aku sempat scroll-scroll media sosial sambil rebahan, tanpa menyadari sudah beberapa kali mengucek-ngucek mata sebab berasa gatal dan mengganjal. Semakin tak nyaman aku mulai melihat cermin. Mata sudah agak merah, mulai overthinking apakah iritasi atau justru mengalami sindrom mata kering.

Perasaan khawatir pun membayangi, bagaimana jika berlangsung lama sedangkan 3 hari lagi adalah moment wisuda adik bungsu. Tentu tak akan nyaman bertemu banyak orang ketika kondisi tidak maksimal, dengan mata SEpet, PErih, dan LElah bisa membuat sulit fokus saat berinteraksi disamping itu pandanganpun jadi sayu.