Sebelumnya aku tidak mengetahui betul, kalau mangrove yang sering menjadi sarana ecowisata dan tanamannya berfungsi menahan abrasi rupanya bisa menjadi sumber bahan pangan untuk dikonsumsi bahkan bernilai ekonomis. Informasi secara terperinci ini, Aku dapatkan setelah mengikuti gathering online #EcoBloggerSquad yang mengangkat tema "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat".
Menghadirkan narasumber Ka Daniel Kbarek (Program Officer The Asian Foundation) dan Ka Wawiyai Steve (Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat) sebagaimana telah diketahui kalau mangrove telah menjadi bagian penting strategi mitigasi krisis iklim sebab kemampuaannya dalam menyerap emisi karbon. Disamping itu juga sebagai tempat perlindungan keanekaragaman hayati.
Belum banyak diketahui bahwa ternyata bagi masyarakat Papua, pemanfaatan dan pengelolaan Mangrove sudah dilakukan sejak abad ke-14 menjadi pangan untuk dikonsumsi bersama sagu dan sorgum menjadi bekal utama dalam pelayaran masyarakat Papua di masa lampau. Salah satu jenis Mangrove yang dikonsumsi adalah Bruguiera gymnorrhiza, dimana dalam bahasa lokal disebut Aiwon.
Melihat potensi Mangrove yang punya fungsi ganda sebagai manfaat ekologis dan bahan pangan, The Asia Foundation lewat Program PAPeDA (Papua Public Finance for Eco-Development and Adat) bersama PKPRA serta masyarakat setempat mulai merancang cara mengelola mangrove dengan bermacam pendekatan.
Adapun pengelolaan skema mangrove berkelanjutan ini yakni dengan :
- Memanfaatkan ekosistem mangrove sebagai sumber pangan alami.
- Mengembangkan komoditas lokal tanpa merusak ekosistem pesisir.
Rehabilitasi Ekosistem Mangrove Agar Lestari
Upaya memulihkan ekosistem pesisir yang rusak dan meningkatkan tutupan mangrove yang rusak bertujuan untuk memperbaiki ekosistem, melindungi pesisir, mewujudkan masa depan berkelanjutan.
Ada 5 tahapan yang telah dilakukan :
1. Identifikasi Lokasi
Pemetaan kondisi kawasan dan penentuan area prioritas rehabilitasi
2. Penyediaan Bibit
Pembibitan jenis mangrove lokal yang sesuai dengan kondisi ekosistem
3. Penanaman
Penanaman bibit mangrove secara partisipatif bersama masyarakat
4. Pemeliharaan
Perawatan mangrove secara rutin untuk memastikan peetumbuhan optimal
5. Monitoring dan Evaluasi
Pemantauan pertumbuhan dan dampak mangrove terhadap ekosistem dan untuk masyarakat.
Tentunya keberhasilan pemulihan ekosistem ini juga dipengaruhi empat pilar seperti Zonasi, pembibitan lokal, restorasi hidrologi, dan partisipasi bersama khususnya masyarakat adat memiliki peran untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga wilayah pesisir dari abrasi sekaligus mengakses skema insentif jasa lingkungan atau pendanaan iklim berbasis daerah.
Perlindungan ekosistem mangrove di Raja Ampat yang telah di jalani merupakan strategi konservasi pesisir dengan menerapkan Pengawasan Berbasis Masyarakat :
- Penegakan hukum adat
Menerapkan pelarangan mengambil Sumber Daya Mangrove pada periode tertentu untuk pemulihan ekosistem secara alami.
- Zonasi Kearifan Lokal
Menentukan area sakral dan pemanfaatan area terbatas guna menjaga keberlangsungan stok pangan laut
- Pelibatan Tokoh Masyarakat
Memperkuat peran pemangku adat dalam memantau kapatuhan warga terhadap aturan perlindungan kawasan Mangrove.
Salah satu kawasan yang telah membudidayakan Mangrove lebih dari sekedar fungsi ekologis tapi juga mengolahnya menjadi bahan pangan adalah Kampung Friwen yang telah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat setempat. Uniknya kelompok perempuan di wilayah pesisir ini punya peran krusial.
Di Raja Ampat, laki-laki akan lebih banyak mengakses laut seperti memancing, dan melakukan metode penangkapan ikan lainnya. Sedangkan perempuan, akan lebih dekat dengan Mangrove, maksudnya lebih dekat mengakses sumber daya di sekitaran Mangrove. Jadi perempuan dapat melakukan pemanfaatan terhadap Mangrove misalnya dengan pengambilan buah Mangrove, mengambilan kulit kayu, dan lainnya.
Dengan pengolahan yang tepat, buah mangrove layak dikonsumsi dan beberapa diantaranya dapat diolah menjadi bahan pangan alternatif yang kaya karbohidrat, vitamin, dan antioksidan.
1. Buah Lindur : Bentuknya memanjang silindris, dan menyerupai roket kecil
2. Buah Pedada : Berbentuk bulat atau bola pipih cenderung warna hijau agak kekuningan
3. Buah Tanjang : Berbentuk oval mirip zaitun kecil
4. Buah Bakau : bentuknya memanjang lebih tipis dari buah Lindur.
Dari beragam buah mangrove nantinya di olah dengan standard pangan untuk menghilangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan. Mangrove yang telah diolah bisa berupa tepung dan dapat digunakan sebagai bahan baku untuk menggantikan terigu sebagai sumber karbohidrat atau pembuatan mie serta olahan pangan lain seperti keripik, cookies, sirup ataupun selai.







