Tampilkan postingan dengan label My Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2021

One Day For Me

Ilustrasi gambar ( Sumber : Freepik )

Aku melingkari tanggal di kalender yang selama ini melengkapi meja kerjaku. 7 hari dari sekarang alias satu Minggu lagi usiaku bertambah genap memasuki kepala 3. Masa dimana kegelisahan mulai dirasakan terlebih ketika keluarga sudah menanyakan soal pasangan. Di sisi lain, banyak saudara dan sepupu di usia seperti itu setidaknya sudah menikah bahkan memiliki anak.

Aku si introvert tak begitu banyak memiliki karib, mengingat beberapa tahun sebelumnya juga melewati masa pergantian usia tanpa perayaan atau surprise. Sejauh ini, lebih banyak kecewa yang Aku dapat sebab ternyata mereka yang di kasihi atau prioritaskan tak menganggapku berarti bagi hidupnya. Jadi, ya..Aku putuskan untuk memberi rewards pada diri sendiri saja di ulang tahun nanti.

Sekedar jalan-jalan ringan, mengunjungi beberapa tempat. Melepas kepenatan dari hari-hari biasanya. Kendati bukan lokasi yang baru, tetapi Aku suka atmosfer nya dengan berbagai bangunan yang artistik di sekililingnya. Bagi pecinta wisata sejarah pasti sangat menyukainya, dan bisa dikatakan ini adalah tempat tak pernah sepi dari ramainya pengunjung.

Rabu, 25 Mei 2016

Jodoh Salah Alamat

Ponsel milik Yoga berbunyi, diliputi rasa penasaran aku pun melihat nama penelepon di layarnya tertera nama kontak ‘Bunga Lotus’. Yoga yang baru kembali dari toilet segera menghampiri meja dimana aku dan ummi telah menunggunya.
            “Tadi ada yang telepon” ucapku memberi tahu
            Yoga segera mengecek ponselnya lalu kemudian izin diri kepada Ummi dan aku untuk kembali menghubungi si penelepon. Entah kenapa, hatiku risau,  dengan sedikit berbohong aku izin ke toilet walau sebenarnya secara diam-diam aku mengikuti langkah Yoga.
            Mendengar pembicaraannya, aku yakin ‘Bunga Lotus’ di kontak Yoga itu bukan teman biasa atau sekedar rekan kerjanya. Yoga telah menyembunyikan sesuatu, semakin diliputi kegelisahan aku kembali ke meja dimana Ummi masih menunggu berselang tak lama kemudian Yoga pun kembali.

Kamis, 31 Maret 2016

Kesempatan Di Delapan Hari Terakhir




Aku hanya merasakan ruang hampa, kelabu sekeliling berwarna demikian hingga tiba-tiba muncul sesosok pria bersayap gelap. Ah, aku tidak mampu untuk melihat wajahnya hanya seperti bayang, siluet. Perlahan sosok itu mendekatiku yang terduduk dalam kebingungan. Wajahnya tetap tak dapat terlihat selain hanya pancaran sinar. Tapi sayapnya hitam. Diakah malaikat kematian ? bukan sosok berjubah dengan suatu senjata sebagaimana penggambaran yang selama ini ku pahami dari film maupun buku.

“Aku bukan malaikat kematianmu. Tugasku hanya menyampaikan suatu kabar untuk sebuah kesempatan yang akan Engkau jalani” ujarnya. Suaranya tegas namun terdengar lembut.

“Maksudnya ?” Aku masih di liputi keheranan.

“Jika kamu di berikan kesempatan kembali untuk sebuah kehidupan, apa yang akan Engkau perbuat ?”

“Kehidupan ? memangnya aku ada dimana saat ini ?”

“Engkau berada di suatu dimensi , lihatlah..” sosok itu memperlihatkan sebuah bayangan seperti layaknya film dan Aku melihat tubuhku yang tidak berdaya dengan lilitan kabel-kabel alat medis. Aku merasakan wajahku terasa panas, aku bisa merasakan air yang berjatuhan dari sudut mata.

Senin, 30 November 2015

Nyanyikan Apa Yang Engkau Rasakan

           
Ilustrasi Musik (Sumber gbr : Pinterest)

            Aku tak bisa berpaling untuk tidak menatapnya, dari balik jendela kaca ini aku mengaguminya, bahkan ingin memilikinya. Sebuah keindahan yang telah membuat aku jatuh cinta, seorang gadis muda sebaya denganku sudah  paham betul dengan kebiasaanku. Sebuah  toko musik yang berada tak jauh dari gang kecil tempat tinggalku.
            “Mau lihat ke dalam dulu ka” sapa gadis itu
            “tidak mba..”jawabku tersenyum
            “saya sering perhatikan kakak beberapa hari belakangan ini, sepertinya tertarik dengan piano itu”
            “Bentuknya cantik sempurna, tapi…saya tidak sanggup untuk membelinya. Mari mba saya duluan” aku pun undur diri
            Jam kulit butut di pergelangan tanganku sudah menunjukan ke angka 10, hari ini tugas kuliah banyak sekali. Setelah sore hingga malam seperti ini pekerjaanku di sebuah outlet foodcourt  ayam goreng menambah keletihanku.

Kamis, 09 Juli 2015

Seindah Mutiara Dalam Pelukan Hidayah



https://jilbabgaul.files.wordpress.com/2013/03/jilbabkartunlucusendirimelamun.jpg?w=247&h=320            Siapa yang akan pernah menyangka akan perubahannya, jika Allah sudah memberikan hidayah kepada seorang manusia maka tak ada satupun yang akan mampu menghalangi. Mutiara telah melewati perjalanan spiritual yang cukup panjang hingga akhirnya ia memilih jalan hidupnya sekarang.
           
Kami saling mengenal saat di bangku SMA, ia yang saat itu sudah berprofesi sebagai gadis sampul di sebuah majalah remaja tentu saja menyita banyak perhatian siswa dan siswi lainnya. Namun, meskipun Mutiara seorang model dan pergaulannya yang cukup luas ia tak pernah bersikap tinggi hati, ia terbuka dan mau berteman dengan siapa saja, disamping itu ia pun cukup cerdas serta berprestasi maka tak heran jika ia menjadi kesayangan para guru.

Senin, 05 Januari 2015

Hujan dan Kerinduan


            Aku terus berlari,tak kuperdulikan rintik-rintik gerimis yang mulai membasahi. Tak pernah ku mengerti apa yang kurasakan kini, yang ada dalam pandangan dan fikiranku segera menemuinya serta meminta penjelasan padanya.
           Setibanya di tepi danau tempat kami biasa bertemu, aku segera mengatur nafas yang tersengal-sengal, dan Haikal seperti kebiasaannya sudah dengan posisi memunggungi menatap danau serta tangan yang dimasukan dalam saku jaketnya. Aku segera menghampirinya.
            “Haikal” panggilku
            Ia menolehkan pandangan, selalu nampak kaku tanpa ekspresi wajah yang tak bisa kupahami meski kami sudah bersahabat tahunan lamanya.
            “Apa-apaan ini, seminggu lagi kamu menikah dan kamu tidak pernah mengabari aku sebelumnya” Aku langsung mencercanya
            “Maaf” hanya itu yang keluar dari kata-katanya ia menundukan kepala      

Senin, 06 Oktober 2014

Segenap Impian Ke Tanah Suci



http://siethie.blogspot.com            Aku terbangun di sepertiga malam ini, ketika aku hendak ke kamar mandi untuk membasuh air wudlu ku dengar rintihan yang amat pilu. Suara tangisan ibu yang tengah berdoa akan mimpi terbesarnya untuk bisa mengunjungi baitullah.
            Aku hanya bisa termenung sedih, merasa tidak berguna karena belum mampu mewujudkan harapan ibu di usia senjanya. “Ya, Allah kabulkah harapan dan doa ibu” dalam hati aku pun turut mendoa dan mengamini setiap untaian kata permohonan wanita yang telah sangat berjasa padaku. Aku pun kemudian bergegas menunaikan niatku.
            Ini adalah malam terakhir aku di rumah, esok aku harus kembali ke kota karena masa cutiku telah selesai. Rasanya ingin sekali berlama-lama tinggal bersama ibu, dan kali ini adalah kunjungan pertamaku setelah dua tahun tidak sempat aku menjenguk ibu. Sudah sering kali aku mengajak ibu untuk tinggal bersama ku di kota tapi selalu saja ibu menolak.

Rabu, 14 Mei 2014

Kutemukan Cinta di Merbabu

Ilustrasi Hiking (sumber gbr : freepik)
        
        Hari ini adalah langkah awal baru bagiku, yang akan menjadi pengalaman pertama untukku berpetualang di alam bebas bersama beberapa orang teman yang memang sudah sangat berpengalaman menjelajahi ketinggian gunung. 

       Bersama delapan orang lainnya berangkatlah kami ke stasiun menggunakan transportasi kereta api  yang akan mengantar kami ke tujuan kota Semarang yang kemudian dilanjutkan menggunakan bus nantinya. Kawasan pegunungan Merbabu akan menjadi sejarah bagiku yang sejatinya sangat takut akan ketinggian. Ketika tengah asyiknya berbincang dengan salah seorang sahabatku saat berjalan mendekat ke pintu masuk stasiun, langkahku terhenti kala melihat sosok tinggi dan tegap itu berdiri di peron stasiun. 
              

Rabu, 02 April 2014

Malaikat Itu Ku Panggil Ibu



           http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/06/1339788723167005797_300x300.jpg 
             Aku hanya bisa menatap nanar wanita yang terbaring lama di ranjang ini dengan belalai-belalai medis dan monitor yang menyala dengan gambar garis – garis bergerak bak kurva secara perlahan yang menandakan masih adanya sebuah kehidupan.
            Aku genggam tangan wanita yang telah merawatku selama ini, dingin. Tak lagi hangat sebagaimana dulu ia sering membelai rambutku semasa kecil. Air mataku mungkin sudah mongering, sujud – sujud panjang pun selalu ku tunaikan berharap ada sebuah keajaiban dari-NYA untuk wanita berusia senja yang ku panggil ia ibu. 

Senin, 03 Maret 2014

Ketika Penantian Ingin Bermuara

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicg12MR5lBQD4bkl09TMhrs2HJZn9-4iX_0mgAHHc3OZgRi5BsO61_WXmf1xIdYtjLCecI0P0XsY53PgjUls7GqrtEYvSDZCaKlLciPTxSHTHTvAfb9fzRu1FDPYbyh3yrHE0q_rHInZcK/s1600/muslimah+kartun+7.jpg
         Gerimis, sayup rintik air membasahi bumi. Pagi tak secerah biasanya mungkin memang karena telah masuk musim penghujan. Datang tanpa mengenal waktu. Akhir pekan kelabu, mendung menggelayut di atas langit. Aku menatap sebuah undangan pernikahan, hatiku ragu akankah memenuhi undangan itu, jika memaksakan datang sanggupkah aku menyaksikan dua mempelai yang berbahagia itu. Mungkin aku terlalu naïf, jahat jika aku sampai berharap untuk tiadanya kebahagiaan bagi mereka karena tak lain mempelai pria itu adalah seseorang yang begitu aku cintai tahunan lamanya, cinta pertamaku.

Selasa, 04 Februari 2014

..:: Tak Kan Lari Jodoh Di Kejar ::..

Ilustrasi gambar ( sumber : pinterest )
 
         Aku berdiri di pinggiran pantai menikmati angin senja, menatap pematang lautan luas terbentang. Aku masih terfikirkan akan pertanyaan ibu semalam perihal pernikahan. Ya, usiaku sudah 27 tahun, dimana usia sudah cukup matang untuk berumah tangga. Bukannya tidak ada yang tertarik padaku, beberapa pemuda pun sudah terang-terangan melamarku namun masih ada ketidak yakinan dalam hatiku, bahkan tidak sedikit pula sejak masa sekolah dulu yang mengajak menjalin kasih atau istilahnya pacaran namun aku sama sekali tidak tertarik akan hal itu.

Rabu, 15 Januari 2014

Makna Hidup Dari Sebuah Perjalanan

Ilustrasi gambar cerpen (sumber : Pinterest)
 
            Malam kian larut, Alfian memasukan motor besar nya di garasi, seperti kebiasaannya ia selalu pulang menjelang dini hari setelah mengikuti balap liar bersama teman-temannya.
            ‘Click’ suara saklar dinyalakan. Lampu ruang tamu yang semula padam menjadi terang benderang, dan sosok sangar sang papah sudah menanti kedatangannya seakan ingin menelannya bulat-bulat.
            “Dari mana saja kamu ??!!” Hardik sang papah
            Dengan cueknya Alfian menjawab “Apa perduli Papah”
            “Kamu ini lancang sekali !! hidup masih ditanggung orang tua sudah berani melawan kamu” Papah Alfian semakin murka
            “Orang tua seperti apa dulu yang mesti dihormati”
            Dan tanpa diduga sebuah tamparan mulus mendarat di wajah putih Alfian.        

Sabtu, 07 Desember 2013

..::.. Gerimis Di Hatiku ..::..

            Petang ini, awan kelabu menggelayut di cakrawala angkasa. Burung-burung berterbangan menyisir senja. Langit terlilhat mendung namun sepertinya hujan enggan untuk turun. Aku tengah sibuk merapikan kertas-kertas yang masih berserakan di meja kerjaku, aku khawatir hujan turun karena aku tidak membawa payung.
           “Hari ini ga lembur Salwa?” Tanya Desi rekan kerja ku
            “Ga…aku harus segera pulang..!! meeting besok pagi jangan lupa ya dipersiapkan proposalnya. Aku duluan” aku segera berpamitan kepada Desi
            “Ok..hati-hati ya” dan aku balas dengan lambaian tangan segera berlari ke pintu lift yang hendak tertutup
            Di halte, ternyata rintik-rintik gerimis turun membasahi bumi kota metropolitan ini, dan suasana seperti ini selalu membuat hatiku pun terasa basah akan suasana kehampaannya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_zovc-EB37dE-Cs9cMAqYnLpk7oVV2rIV_xe5lAOL3472KG4guSxs1GaYaPUueaKcqav5WciKTYCJg2cL_HwyF53qAwEe-6zQAPJXXqMul63hZSSxDcNKdF7v9W4zm4DSv6H9ngB-KTI/s1600/kartun-korea2.jpg            Setibanya di rumah aku segera berganti pakaian yang kuyup oleh hujan. Kurebahkan diri yang terasa lelah, memandang langit-langit kamar yang bersinarkan temaram lampu yang agak meredup. Aku teringat sesuatu, untuk mempersiapkan dokumen yang sekiranya diperlukan untuk meeting ke esokan hari.
            Di tengah pencarian ‘bruuuuk’ sebuah buku usang dan agak berdebu terjatuh di lantai. Segera aku ambil yang ternyata adalah buku tahunan sekolah. Ku sapu debu yang menyelimuti, kubuka halaman per halaman dan pandanganku terhenti pada sebuah gambar seseorang dimana begitu dalam kusimpan rapi rasa dihati ini untuknya.      

Rabu, 13 November 2013

Memory Of Sunrise

                Zahira masih berdiri termangu menatap cahaya mentari, menembus hangat melalui jendela kamarnya. Ia ingin lebih lama merasakan senandung alam yang membawanya kembali merasakan kenangan manis yang pernah dimilikinya. Sejak dahulu ia memang sangat menyukai sunrise, selepas sholat subuh biasanya ia selalu berkeliling di sekitar komplek rumahnya lalu ke sebuah taman kota dan di sebuah sudut tempat yang tidak banyak dijamah orang ia menikmati kehangatan mentari. Ya di tempat nan teduh itu cahaya dan sinaran mentari membias dengan kadar proporsional.
            Hingga di sebuah ketika, Zahira merasa terusik akan kehadiran sosok lain di tempatnya. Seorang pria, penampilannya cukup sederhana. Dalam beberapa kali Zahira melihat orang tersebut mendecak-decakkan lidahnya
            “Maaf sepertinya kehadiran saya mengganggu anda” ucap laki-laki itu
            “Ahh..ga’ biasa aja..!!” Zahira menjawab bingung, ia pun duduk tak jauh dari laki-laki tersebut. Zahira merasa ada yang aneh dengan laki-laki tersebut dengan ragu-ragu Zahira mencoba mengibas-ngibas tangannya di depan wajah laki-laki tersebut dan Zahira terkejut dengan keadaan laki-laki tersebut.
            “Astaga…dia tidak dapat melihat” Gumam Zahira pelan
            “Apa kamu bicara sesuatu ?” Tanya laki-laki itu “Jika kamu tidak nyaman dengan kehadiran ku, aku akan pergi” lanjutnya      

Kamis, 22 Agustus 2013

Cinta Di Atas Asa

                  Malam ini tak biasanya Papah mengumpulkan kami semua di meja makan. Ada hal penting yang katanya ingin disampaikan beliau. Ketika semua sudah berkumpul Papah pun memulai pembicaraannya.
            “Malam ini, papah mengumpulkan kalian semua ada hal yang harus Papah sampaikan terkhusus untuk kamu Nayla..” Papah buka suara
            Aku terkejut dan heran ketika namaku disebut “Aku ??” tanyaku
            “Papah sudah mempertimbangkannya. Sebagai anak sulung dan Papah rasa usiamu sudah cukup untuk menuju jenjang pernikahan” Ucap papah
            Seketika wajahku merona, mungkinkah papah menyetujui hubunganku dengan Gary? Yang selama ini bahkan beliau sangat keras menentangnya
            “Papah sudah menemukan orang yang tepat untukmu.. ia anak dari kolega Papah. Minggu depan mereka sekeluarga akan datang ke rumah ini, Papah harap kamu segera mempersiapkan diri” Papah berucap lugas tanpa melihat bendungan air mataku
            “Tapi..Pah..aku sudah mencintai orang lain” Jawabku dalam isak
            “Siapa? Gary? Apa yang bisa diharapkan dari orang macam dia ? sudah jelas kalia berbeda keyakinan,,sampai kapanpun Papah tidak akan pernah merestui…!!” Ucap Papah tegas
            “Mah…” aku meminta pembelaan dari Mamah, tapi beliaupun angkat tangan. Karena kami semua tau segala keputusan Papah adalah mutlak tak aka nada yang berani menentangnya.

Senin, 29 Juli 2013

Tabir Rasa Terungkap di Yogyakarta

              Mentari pagi telah bersinar, tiba juga akhirnya aku di kota pelajar ini. Kota impian yang selama ini sangat ingin aku jelajahi dan baru kali inilah kesempatan itu tiba. Bersama seorang sahabat baikku Nadia kami menumpang kereta bisnis dari Gambir, Jakarta.
            “Aduuuuhhh..badan gue pada pegel nich. Kita cari penginapan dulu yuu…” Nadia menyarankan
            “Ayooo..gue juga dah mulai lapar nich..” Jawabku
            Setelah mencari makan, dan bekeliling mencari penginapan akhirnya kami dapati juga di tempat yang cukup strategis ini disekitaran Malioboro. Hampir semua hotel dan penginapan sudah full saat musim liburan seperti saat ini .
            Kami pun memutuskan untuk tidur sejenak, “Ri…jalan-jalannya nanti siang aja ya..ngantuk nich”
            “Iya…tapi inget lho,kita cuma tiga hari di sini. Hmmm..coba liburannya bisa lebih panjang” akupun berbaring di samping Nadia yang sudah terlelap.        

Selasa, 09 Juli 2013

Ibu Dan Anak Istimewa

            Pagi ini bus yang ku tampangi tiba di kampung halaman. Ahh, sudah lama sekali rasanya tidak merasakan kesejukan seperti ini. Penatnya ibu kota membuat aku selalu merindukan suasana asri dari kampung ini. Dengan tas ransel di pundak aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum akhirnya aku kembali ke kediaman orang tua ku.
            Meskipun desa ini masih terlihat asri, bukan berarti tak mengalami kemajuan. Beberapa pabrik sudah berdiri di sudut jalan sana, jalanan yang dulu rusak pun kini sudah mulus beraspal. Kendaraan bermotor pun mulai menyemaraki jalan,meskipun tak sepadat di kota-kota besar. Masih banyak orang yang berjalan kaki untuk  ke ladang dan sawahnya.
            Di Sebuah aliran sungai, aku bermain sebentar membasuh muka. Sejuk rasanya. Namun, tiba-tiba aku tertarik dengan aktifitas seorang ibu dan anak yang terlihat sangat akrab, ibu muda itu begitu penuh kasih membasuh dan mengajak bermain putranya dan kalau menurut perkiraanku anak se usia itu seharusnya menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya. Ku perhatikan dengan seksama, sepertinya aku pernah mengenal wajah lembut itu. Oh, Tuhan..aku benar-benar mengenalnya, dialah sahabatku Puspa.
            “Puspa…” Panggilku

Jumat, 26 April 2013

Kejujuran Hati

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggfCB9QwjtsrpbsTNtOqAU-05hZne3JiMB_8LmXpRWvhZxLNEh_fWX6N-1B30Pek8V8Jp9M8mbdjCxynCxEnROdSaolFl1M9-a6_Zv19bv56YfoDHPA7s7CPpj2yHQQdNVZ0CMRayFn8Q/s1600/Chihayafuru+-+05+-+Large+11.jpg        
            Winda berjalan menyusuri koridor sekolah , pagi ini di sambutnya dengan penuh gembira . Setiap orang yang ia kenal di sapanya dengan senyuman yang menurut orang manis . Rambutnya yang hitam panjang tergurai dimainkan angin . Winda memasuki ruang kelasnya dan ia segera duduk di kursi depan tepat berhadapan dengan papan tulis kemudian meletakan tasnya di atas kursi .
            “Ada apa …. Kelihatannya lagi bahagia ?” Tanya Maya teman sebangku sekaligus sahabatnya
            “hm …. Yoga ngajak aku ngedate !!” Jawab WInda dengan senyumnya yang merekah
            Mereka memang tak menyadari di bangku belakang tepat dengan dinding , seseorang memperhatikan mereka . Dia Ardi , siswa berprestasi di sekolah itu namun ia sangat pendiam .
            “Wah …. Berita bagus !Setahu aku  selama satu tahun jadian dia belum pernah ngajak kamu ngedate !!” Ucap Maya
            Winda mengangguk
            “Dia … terlalu sibuk dengan tim sepak bolanya , kelakuannya selama ini seperti tidak pernah menganggap aku sebagai pacarnya !” Keluh Winda
            “Ya … sudah , yang penting sekarang dia mulai memperhatikan kamu , ngajak ngedate pula !!” Maya menghibur.   

Hati ingin meraih bintang, apa daya tangan tak sampai

         
         Di suatu hari saat baru saja ku langkahkan kaki menuruni angkutan umum, tiba-tiba tanpa kusadari sebuah sepeda motor menghantamku dengan seketika. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi kemudian, ketika ku membuka mata yang aku lihat di sekelilingku adalah dinding bercat putih bersih dan aroma obat yang cukup menusuk.
            “Arini…syukurlah kamu sadar.” ucap mamahku tiba-tiba
            Aku yang masih bingung berujar “Arini ada dimana Mah?”
            “Kamu di rumah sakit, sudah dua hari tidak sadarkan diri, mamah takut sekali.” Jawab mamah tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
            “Arini Ga apa-apa Mah…” Aku mencoba menenangkan “Mah, Arini ingin ke toilet,”aku meminta izin
            “Sini mamah bantu”
            Aku tersenyum “Ih…mamah, Arini khan bukan anak kecil, Arini bisa sendiri” Aku mencoba bergerak utk turun dari ranjang, namun tiba-tiba aku terkejut, aku tak bisa merasakan apapun pada kaki ku. Mamah terdiam, wajahnya bertambah sedih
            “Mah…Arini kenapa?” Aku mulai takut sekali