Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Sabtu, 17 November 2018

Revolusi Industri 4.0, Antara Harapan dan Tantangan Perannya di Tengah Keluarga

Sejauh apapun melangkah, keluarga adalah tempat untuk kembali. Sering kali Saya mendengar ungkapan ini, dan Saya mengakui hal ini benar adanya. Semisal sedang melakukan perjalanan jauh  beberapa hari dan jauh dari keluarga, kerap kali ada kerinduan yang menghampiri dengan mengingat mereka yang terkasih.

Bisa dikatakan keluarga adalah tempat untuk pulang dan berlindung. Tidak peduli miliaran teman yang di miliki atau jutaan rupiah yang di hasilkan setiap periodenya, makna sebuah keluarga adalah harta di atas itu semua. Kita tak bisa pungkiri bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah rasa ingin dihargai dan rasa dimiliki. Sejatinya sebuah keluarga akan memenuhi kebutuhan ini.

Peran Keluarga Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0


Era Revolusi Industri keempat sebenarnya sedang dihadapi secara global termasuk Indonesia. Transisi perubahan ini ditandai dengan perkembangan teknologi dan mengikuti arus digital. Khususnya para generasi milenial sangat gencar memanfaatkan segala sistem digital ini yang tidak hanya diperuntukan mendapatkan data dan informasi, tapi biasanya juga memiliki  kemampuan mengolah dan menyerap informasi dengan lebih cepat.

Kemajuan suatu bangsa di masa mendatang sebagian besar ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten. Dan para generasi milenial inilah yang memiliki andil kelak untuk merubah dan menjadi pribadi berkualitas. Kunci dari keberhasilan pembangunan manusia di era Revolusi Industri 4.0 setidaknya ada tiga komponen yang bertanggung jawab dalam pembentukan karakter bangsa yakni keluarga, masyarakat dan dunia pendidikan.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Doc.Pri)
Dalam diskusi bersama BKKBN pada 14 November 2018 bertempat di Kawasan Jakarta Timur. Diharapkan pembangunan  keluarga harus memiliki format baru agar sejalan dengan era revolusi industri kekinian. BKKBN selaku lembaga negara yang melayani hajat hidup keluarga Indonesia sekaligus menciptakan regenerasi SDM berkualitas memandang perlu untuk berkontribusi menyukseskan revolusi Industri 4.0 yang membawa perubahan lingkungan strategis serta mempengaruhi peran keluarga.

Selaku Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga BKKBN, M Yani, M.Kes, PKK mengatakan, hingga sejauh ini BKKBN terus berkomitmen untuk mengembangkan kelompok-kelompok keluarga dengan melakukan pendewasaan perkawinan. Baik dari sisi kesehatan dan psikologis. Disamping itu   bersama lembaga lainnya kerap berupaya memfasilitasi dan mendampingi keluarga Indonesia dalam mendidik anak untuk menghasilkan SDM berkualitas.

BKKBN sudah menyasar konseling pada remaja dan pendidikan untuk mendewasakan usia perkawinan di sekolah maupun lingkungan masyarakat. Beberapa program di antaranya Generasi Berencana dan Pusat Informasi dan Konseling yang berfungsi untuk memberikan pemahaman mengenai pernikahan dan perencanaan membangun keluarga.

Bisa dikatakan revolusi Industri 4.0 menjadi harapan sekaligus tantangan bagi keluarga di Indonesia. Oleh sebab itu dalam menyoroti hal ini, peran utama keluarga dituntut agar bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang dan mempengaruhi kehidupan setiap anggota keluarganya.

Disamping itu Deputi Bidang Perlindungan Anak, Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, MM, memaparkan mengenai Dampak Industri 4.0 dalam Pembangunan Keluarga. Informasi beredar begitu bebas, tak hanya orangtua dan orang dewasa tapi juga menerpa anak-anak. Saat ini, siapapun sudah dapat memesan makanan via gadget dengan begitu mudah. Hal ini bisa berdampak baik dan buruk bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga khususnya orang tua. Pengaruh gadget berlebihan bisa menyebabkan kurangnya komunikasi di antara anggota keluarga.

"Permasalahan keluarga di berbagai negara kurang lebih sama yakni masalah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak. Dampak lain adalah semakin banyaknya single families, meningkatnya angka perceraian, mundurnya umur menikah." Bapak Pribudiarta menuturkan.

Workshop Bersama BKKBN (Doc. Pribadi)
Roslina Verauli, MPsi sebagai psikolog anak , remaja, dan keluarga yang turut hadir pada saat itu juga menambahkan internet yang dibarengi dengan perkembangan media sosial yang begitu pesat terus mengalami pertumbuhan. Kebiasaan baru yaitu interaktif, searching, sharing, narsis. Hal ini menjadi ancaman sekaligus tantangan di tengah keluarga. Kecenderungan lebih suka chating di dunia maya daripada di dunia nyata sekaligus menjauhkan yang dekat dan sebaliknya mendekatkan yang jauh.

"Di era teknologi ini, hampir semua keluarga melakukan komunikasi melalui gadget. Kebersamaan yang direfleksikan dengan bercakap-cakap secara langsung pun mulai menurun. Tantangan terbesar saat ini ialah semakin terbatasnya ketersediaan waktu untuk berkumpul bersama diantara keluarga. Oleh karena itu mulai saat ini Kita harus gerakan kembali kegiatan makan bersama di rumah agar seluruh anggota keluarga bisa berkumpul,"  Ibu Roslina mengungkapkan.

Dengan menyempatkan waktu untuk makan bersama seluruh anggota keluarga di rumah, maka dalam waktu yang sama di satu tempat akan tercipta komunikasi antara segenap keluarga satu sama lainnya pun termasuk orang tua dan anak. Banyak perkembangan psikologis justru terbangun dari komunikasi yang erat dari orang tua. Seperti emosi, empati, itu terbangun dari hubungan erat komunikasi orang tua.

Diharapkan semua elemen masyarakat lebih perduli ketika era Industri 4.0. sudah di depan mata sehingga harus bersiap menghadapi sekaligus merespons perubahan-perubahannya. Arti sebuah keluarga bagi kehidupan memang tidak tergantikan meski dengan berbagai inovasi  semuktahir apapun. Sebab teknologi tak kan mampu memberikan dekapan hangat seperti yang seorang ibu berikan. Tidak bisa memberi genggaman tangan ketika kesedihan melanda. Oleh karena itu hargai setiap waktu yang masih tersisa dengan keluarga yang disayangi.

29 komentar:

Gita Siwi mengatakan...

Harapan aku sebagai ibu industri 4.0 harus dihadapi dengan pemahaman yang mumpuni dari semua pihak. Kayak BKKBN media juga keluarga

Dian Ravi mengatakan...

Aku mendadak ingin nyanyi "harta yang paling berharga adalah keluarga...."
Aku tuh suka terenyuh sedih kalau ngomongin keluarga. Hubungan keluarga aku tuh model kaya kadang sayang kadang kesel. Jadi ya gitu deh. Suka merasa bersalah kalau diingatkan betapa pentingnya keluarga

Nur Dalilah Putri mengatakan...

Komunikasi melalui gadget pasti dirasakan oleh semua keluarga dizaman sekarang
Aku lagi coba perbaiki sistem komunikasi dikeluargaku

Tika Samosir mengatakan...

Tantangan pembangunan keluarga di era revolusi industri 4.0 ini lumayan berat ya.
Apalagi lifestyle sekarang yang selalu gandrungi gadget.

Solusi Tarot Darma mengatakan...

Jangan sampai deh meskipun negara kita maju tapi kita tetap mempertahankan nilai nilai tradisi leluhur kita

Ria Buchari mengatakan...

bulan puasa biasanya waktu terbanyak saya bs kumpul makan bersama keluarga, semoga bisa konsisten menerapkan kebersamaan makan bersama di hari biasa nih..yukk kita kembali ke meja makan

Sifora mangamis mengatakan...

Bener mba Siti sejauh apapun kita berada, ujungnya pasti bakal mampir singgah kerumah orangtua. Kerumah keluarga. Di era industri 4.0 harus kuat menjalin komunikasi baik dengan org luar atau pun anggota keluarga.

Indrifairy Isharyanti mengatakan...

Terkadang dirumah pun orangtua banyak lho panggil anaknya dengan gadget agar mereka keluar dari kamar

Uci mengatakan...

Setuju bgt, gadget kadang membuat kami sibuk masing masing saat sedang kumpul, jadi saya harus melakukan perubahan nih menghadapi industri 4.0

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Tepat sekali dlm menghadapi era industri 4.0 peran masyarakat dlm lini terkecil keluarga misalnya memang harus aware terhadap perubahan zaman

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Ko sama ya mba :D
selama nyelesain tulisan ini berdendang terus lagu dr keluarga cemara .
pukpukpuk..manusua ga ada yg sempurna, sayapun kadang suka merasakannya

Hanni Handayani mengatakan...

kecangihan teknologi memang berdampak positif dan negatif, sejak dini lebih baik anak-anak dilindungi degan mengurangi gawai dan salin berkomunikasi

Ovianty _ mengatakan...

meningkatnya perceraian dan menjadi single parents, memang meresahkan. karena anak akan kehilangan salah satu figur dalam keluarga, biasanya si ayah.

Diah Woro Susanti mengatakan...

huhuhu memang semakin berat ya menghdapi tantangan jaman digital, kita harus mau update terus dan memperbaiki pola komunikasi dgn keluarga

tina sindi mengatakan...

Tradisi makan bersama ini sejak dahulu memang di lakukan oleh negara kita ya, cuma belakangan mulai berkurang durasinya,makanya yuk gerakan lg makan bersama dan tetap komunikasi agar kita tetap selalu dekat

Annisa mengatakan...

Bener banget mbak, kemanapun pergi pasti kita butuh tempat pulang. Family is Home. Acara BKKBN ini bagus banget, untuk persiapan berkeluarga ataupun memperkuat hubungan keluarga yang sudah ada.

Vita Pusvitasari mengatakan...

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah kata pepatah, iya ketika kita sudah dewasa punya keluarga sendiri, mungkin hanya beberapa kali dalam setahun mengunjugi orang tua, tetapi komunikasi sekarang bisa via grup wa ya kak :)

Nur Said Rahmatullah mengatakan...

kemajuan teknologi saat ini pastinya memiliki nilai postif dan negatif. Keluarga masa kini harus siap dengan itu. Dan kembali ke tradisi lama, dengan menyempatkan waktu berkumpul adalah pilihan terbaik untuk saling menjalin komunikasi, dan kedekatan bersama keluarga.

https://www.jagatmaheswari.com mengatakan...

Sayangi keluarga saat masih bersama jaga kedekatan dgn komunikasi yg baik..kalo sudah pada jauh pasti akan terasa kehilangan deh..

Novitalevi mengatakan...

Kalau jauh baru berasa ya kangen keluarga , sisi baiknya dengan tekhnologi gadget kita bisa LBH sering komunikasi lewat suara bahkan gambar.

rizki mengatakan...

jadi kapan ti?? hahaha

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Meski gadget bisa menjadi jembatan, namun tetap saja komunikasi 2 arah secara langsung lebih dirasakan manfaatnya

Helena mengatakan...

Demen banget deh ini calon manten menyiapkan diri menuju keluarga industri 4.0
Bekali diri, kan udah dapat buku tips dari BKKBN :D

Nefertite Fatriyanti mengatakan...

Momen bersama keluarga adalah momen emas yang mungkin sekarang sulit ya buat ketemu sering-sering.
Manfaatkan dengan baik, ketika ketemu keluarga

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Iya mba. Perkembangan teknologi membawa dampak tak hanya positif tapi juga ada sisi negatif yg patut diwaspadai

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Semoga saja perkembangan modern tidak menggerus nilai kebaikan yg sudah ada

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Klo saya moment ramadhan ga berefek besar utk kumpul bareng keluarga, satu sama lain Ush memiliki kesibukan sendiri

farid nugroho mengatakan...

Memang benar, dengan hadirnya industry 4.0 nanti (karena sekarang kita belum masuk, baru menyongsong) semua organisasi baik bisnis maupun non bisnis termasuk pemerintah harus mengubah mind set-nya. Bukan semata-mata tentang teknologi tetapi bagaimana semakin memanusiakan manusia.

Dewi Nuryanti mengatakan...

Ilmunya dah cukup nih. Tinggal dipraktekan aja Jane. Bentuk keluarganya dah wkwkwk. Jgn lupa sblm nikah obrolin dulu mo jalanin keluarga dg konsep apa wkwkwk