Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Sabtu, 27 Oktober 2018

Mengukir Kisah Perjalanan Bersama di Gunung Andong

Gunung Andong 1726 MDPL
Setelah lebih dari 8 jam perjalanan, kereta api yang Saya serta ketiga adik tumpangi tiba di Stasiun Lempuyangan. Menepi di kota Yogyakarta, tujuan Kami kala itu sebenarnya Magelang untuk mewujudukan destinasi impian yang sudah Kami rencanakan sejak lama yakni untuk mendaki gunung bersama. Jika biasanya tracking dengan teman masing-masing, sehingga tercetuslah ide untuk melakukan pendakian bersama keluarga.

Dengan menyewa sepeda motor, Kami menempuh waktu kurang lebih 1 jam setengah menuju Kabupaten Magelang dari Yogyakarta. Kami hanya berjalan berempat tanpa bayangan pasti ada yang memandu, karena memang saat itu mengambil waktu bukan di hari libur sehingga menghubungi beberapa kenalan pun tak ada yang bisa menemani. Hanya mengandalkan teknologi dengan browsing-browsing, Kami tiba di basecamp Dusun Sawit.

Sebelum memulai pendakian Kami istirahat dahulu, dan berbincang dengan orang-orang disekitar. Sebenarnya Rute jalur pendakian gunung andong ada 3 basecamp, jadi selain Dusun Sawit yang melewati jalur utara, ada juga Dusun Pendem, dusun gogik dengan pilihan jalur selatan dan jalur barat.
Setiap hendak melakukan pendakian, harus mengisi data terlebih dahulu. Karena setiap para pendaki selalu diwajibkan lapor dengan mengisi data buku yang berisi daftar anggota pendakian, nomor telepon, dan alamat, juga membayar tiket masuk sebesar Rp5.000.

Sambil menunggu hujan mereda, Kami repacking dahulu memastikan barang bawaan lengkap dan tidak ada yang tertinggal. Sekiranya kondisi sudah stabil setelah beristirahat dan makan juga cuaca sudah cerah. Kami pun bersiap untuk memulai pendakian. Melewati gapura yang disusun dari puluhan botol kemasan menjadi suatu penanda antara rumah warga dan permulaan jalur pendakian.
Gapura Taruna Jaya Giri
Melewati vegetasi perkebunan warga setempat dengan jalan beraspal dan masih cukup bersahabat. Setelahnya disambut oleh gapura bertuliskan Taruna Jaya Giri. Terus melaju mengikuti jalur hingga menemui tangga berbatu, pasca hujan membuat jalur ini cukup licin jadi butuh kehati-hatian.

Track pendakian Gunung Andong ini banyak didominasi oleh tanah lihat dengan kemiringan sekitar 45 derajat, harus melewati medan yang menurun dan mendaki di sekitar lereng dan dilajutkan memasuki kawasan hutan pinus dengan jalan setapak. Memasuki kawasan hutan pinus yang berkombinasi dengan tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau barisan pohon pinus membuat jalur pendakian ini begitu sejuk. Kemudiannya memasuki kawasan Watu Pocong dan melaju didepannya sudah tiba di pos I bernama Gili Cino ditandai dengan gubuk kayu yang berada pada tanah datar, tempat ini bisa juga dimanfaatkan untuk beristitahat sejenak.

Dari pos pertama dilanjutkan lagi menuju ke pos pendakian kedua. Kali ini jalan yang di lewati lebih menantang dari jalan sebelumnya. Di area yang dikenal dengan Watu Gambir setelahnya akan dilewati beberapa sumber air dari pipa yang dipasang. Di beberapa titik pipa tersebut mengeluarkan air yang mengalir menggenangi jalan sehingga keadaan jalan menjadi lebih licin. Untuk itu patut ekstra hari-hari ketika melewati jalur ini. Setelah melewati mata air, nantinya akan ditemui pos ke II yaitu Watu Wayang.
Track Gunung Andong Di dominasi Pepohonan Pinus
Menuju ke arah puncak dari Pos II hari semakin gelap, stamina sudah mulai meredup. Walau dengan susah payah khususnya Saya yang sering kali kepayahan dalam mengatur pernapasan tapi Kami harus terus berjalan. Prediksi Kami keliru, awalnya mengira bisa tiba di area camp ketika langit masih cerah. Dan apesnya, kedua adik saya ketinggalan headlamp, adapun terbawa ternyata tak bisa menyala. Setelah mencari-cari hanya ditemukan senter kecil dengan pencahayaan yang sangat minim. Dibanntu flashlight dari handphone, Kami kembali melanjutkan perjalanan.

Trek pendakian dari pos kedua menuju ke puncak cukup panjang, terdapat jalan yang membelah yaitu jalan menuju puncak makam di jalur sebelah kiri dan puncak jiwa berada di jalur sebelah kanan, karena semakin gelap dan minim cahaya Kami hampir salah mengambil jalur. Sampai kemudian coba menelaah jejak sepatu yang terlihat di tanah Kami mengambil jalur Kanan ke arah Ground Camp. Jarak yang harus kami tempuh masih cukup lumayan, dan hujan membasahi Kami. Segala yang Kami kenakan sempurna kuyup, dan membuat langkah semakin terasa berat.

Ketika hendak sampai di puncak jiwa, area yang biasa di gunakan untuk area camp. Beberapa pendaki yang sudah di atas menyadari keberadaan Kami. Mereka segera membantu memberi penerangan dari atas. Setibanya Kami ber empat di puncak Jiwa, Kami segera di bawa berteduh dari angin yang berhembus sangat kencang serta hujan yang terus mengguyur.

Baca juga : Cerita Perjalanan Ke Gunung Slamet

Para pendaki yang di dominasi kaum laki-laki itu membantu mendirikan tenda Kami sehingga Kami bisa berteduh dan beristirahat. Walau malam itu sempat di selimuti rasa khawatir karena angin terus bertiup tak terkendali dan tenda terus terasa bergerak, mungkin  karena saking lelahnya Kami pun sempat terlelap.

Paginya langit kembali senyum cerah tanpa golden sunrise pasca hujan semalam. Hampir-hampir merasa kecewa, karena kabut menyelimuti. Tetapi berarak perlahan kabut pun pergi. Senangnya bisa melihat pemandangan suasana gunung andong dari puncak Jiwa. Beruntungnya saat Kami mendaki suasana gunung Andong tak sepadat biasanya.

Kontur Gunung Andong Ibarat Punggung Sapi
Sempat mendengar bahwa penamaan Andong ini berkaitan dengan kontur gunung yang menyerupai punggung sapi  terbentuk oleh 4 puncak yang berjajar rapih, dari barat ke timur. Di puncak Makam Andong terdapat di sebelah barat, terdapat makam tokoh Joko Pekik. Sedangkan Puncak Alap Alap berada di posisi Sebelah timur kawasan Gunung Andong. Perlu diwaspadai bila berada di puncak Alap Alap, lantaran jalur yang cukup sempit di sertai dengan jurang di sisi kanan dan kirinya. Puncak Andong sebagai puncak tertingginya dan puncak jiwa dimanfaatkan para pendaki untuk area camping.

Gunung Andong mempunyai ketinggian sekitar sekitar 1.726 diatas permukaan laut. Meski ketinggiannya tak seberapa, gunung ini memiliki pemandangan yang tak kalah memukau. Deretan pegunungan seperti Gunung Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Telomoyo terlihat gagah dan memanjakan mata, sungguh sebuah panorama keindahan yang tiada terbantahkan.

Sering dijadikan tempat wisata favorite untuk pendakian bahkan terbilang cukup ramah bagi pendaki pemula lantaran tracknya  terbilang cukup bersahabat. Untuk keindahan yang ditawarkannya tak kalah dengan gunung-gunung diatas ketinggian 3000 mdpl. Ya..Kami mungkin melewatkan golden sunrise dan sunset yang menjadi pemburuan para pendaki di Gunung Andong. Tapi perjalanan ini mengukir cerita manis bagi Kami empat bersaudara yang kelak akan selalu terkenang, sebab sebuah perjalanan mengajarkan Kami untuk saling membantu, menguatkan tak ubahnya kisah kehidupan.

Pemandangan dari Puncak Andong
Satu hal yang harus diperhatikan dan menjadi pengingat juga bagi Kami, yang namanya di alam bebas tak pernah dapat diprediksi bagaimana maunya alam. Setinggi apapun gunung yang hendak di daki wajiblah kiranya mempersiapkan segala keperluan dengan lebih seksama dan kemantapan fisik agar terhindar dari hal yang tak di inginkan.

Setiap melakukan perjalanan sering kali Saya mendapat pertanyaan, budget yang dikeluarkan berapa ? Sebenarnya untuk hal ini cukup relatif, senyamannya saja sebenarnya. Sekreatif mungkin menekan biaya, dengan meminimalisir pengeluaran yang tidak diperlukan. Oleh sebab itu, moda transportasi juga menjadi pertimbangan. Kereta api menjadi andalan Saya banget untuk menelusuri berbagai tempat selama itu masih di kawasan lintas jawa karena harga yang cukup terjangkau dan suasananya pun sudah terbilang nyaman saat ini.

Sedikit rahasia, Saya biasanya sebelum melakukan pemesanan selalu mencari promo dahulu melalui aplikasi travel seperti pegipegi, tanpa ribet, tidak perlu antri sangat fleksibel karena bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Potongan pembayaran dan diskon yang ditawarkan. Kemudahan lain yang ditawarkan yakni dengan menghadirkan beragam cara untuk mempermudah pembayaran, mulai dari transfer antarbank hingga kartu kredit. Disamping itu pelanggan juga dapat mengetahui jumlah kursi tersedia serta dapat memilih posisi kursi dan gerbong yang diinginkan lewat pegipegi.

PegiPegi
Aplikasi PegiPegi 

35 komentar:

Jalan-Jalan KeNai mengatakan...

Kangen deh saya pengen naik gunung lagi. Bisa bolak-balik atau harus camping di sana?

Dinilint mengatakan...

Seru banget.
Aku jadi kangen naik gunung habis baca artikel ini.

Mechta mengatakan...

Aih..senangnya bisa mendaki bersama keluarga ya.. Dan saya pun turut bahagia membaca sesama pendaki saling bantu membantu.. Salut...

Reh Atemalem mengatakan...

Mba, Andong kayanya aman buat bawa anak-anak tracking ya?
Ku jadi ingin coba. :)

Sandra Nova mengatakan...

Sekarang udah ngga pernah naek gunung lagi, padahal dulu jalan sma & kuliah masih sering... dah ngga kuat sekarang maah hahahah apalagi kalau harus gendong anak, kemaren ke bromo naek tangga sambil gendong anak aja ngosngosan to the max! pencapaian banget deh hahahha :D

Dewi Rieka mengatakan...

Iya kereta aman dan nyaman ya buat wisata keluarga

Arni mengatakan...

Duuh baca ini jadi kangen angkat ransel naik gunung lagi
Maih kuat gak ya kira-kira. Sekarang udah banyak manjanya, dikit-dikit muter/injak gas
Kudu latihan dulu kalau mau kembali jelajah gunung

Nurul Rahmawati mengatakan...

Wiks, asyik bgt bisa traveling bareng PegiPegi
--bukanbocahbiasa(dot)com--

Evrinasp mengatakan...

Masih seneng Naik gunung ya, sedih nih sepertinya aku pensiun �� secara sudah merasa tubuh enggak terlalu kuat, kecuali naik gunung tapi barang2 dibawa Porter ��

Blogger Kendal mengatakan...

Alhamdulillah ya sudah sampai Andong, senangnya pasti merasakan puas banget akhirnya sampai di puncak.
Aku sekarang kalau ke tempat dingin, tubuh sering nolak.

Zefy Arlinda mengatakan...

bahagianya yang niak gunung, aku belum pernah lho naik gunung. kalau naik kuat ga ya

Nathalia DP mengatakan...

Saya belum pernah mendaki gunung, ingin coba deh

Novitalevi mengatakan...

Senengnya masih kuat buat mendaki , saya sdh ga sanggup deh jadi kalau kngunung cr jln yg aman yg kendaraan bisa sampai k tujuan hihihi

Dian Safitri mengatakan...

Asik banget daki gunung sama adik. Aku sampai saat ini masih belum berani daki gunung. Masih khawatir tahu-tahu sesak napas dan nyusahin orang.

helena mengatakan...

hebat banget sih kamu, naik naik ke puncak gunung gitu kuaaat.
seru yaa liburan bersama keluarga.

Nurul Dwi Larasati mengatakan...

Kangen banget naik gunung, bawa Cartier, pakai boots, nyeduh kopi, tidur di sleeping bag, ahh semua aktivitas di gunung pokoknya

Sara Neyrhiza mengatakan...

Keren mbak..cewek suka naik gunung..saya nggak pernah sekalipun.
Btw, sya sering booking via pegi2 juga

Arman Mulyadin mengatakan...

Saya naik gunung masih bisa kehitung jari berapa kali... Banyak review dan ajakan untuk naik ke gunung ini. tapi belum ada jodoh.. semoga suatu saat terlaksana

Milda Ini mengatakan...

Meski capek dan ada hujannya. Kalo jalan kayak gitu. Liat pemandangan yang oke banget, menakjubkan. Btw itu emang kayak punggung sapi ya

Asad Agus Saputra mengatakan...

wah menarik juga nih ke gunung Andong, semoga nanti bisa main ke gunung ini

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Ada yg tektok, tapi Kami camping Mba :)

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Yuhuuu...hayuu naik gunung lagi ka'
Menikmati sunrise dari ketinggian ^_^

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Dream destinasi Kami mba ;)
Itulah yg saya suka dari pendaki yg beneran. Solidaritasnya tinggi

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Cukup aman sih mba. Saya sempet ketemu juga dengan keluarga muda yg bawa anaknya sekitaran 4 tahunan

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Usia memang ga bisa bohong ya. Saya pun sekarang2 ini mulai kewalahan. Tapi yg lebih penting dari itu udh pernah merasakannya :)

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Tapi tetap harus dgn persiapan ekstra mba

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Hahaha...iya kalau pingin naik gunung saya juga baru rajin jogingnya :D

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Iya mba, banyak promonya

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Itu pun dengan kepayahan yg amat sangat. Pingin gantung carier juga. Tp kadang rindu ketinggian setelah jatuh cinta lihat samudera awan

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Alhamdulillah. Iya Happy banget, pasti ga sia2 lha. Rasa lelah terbayarkan

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Coba sekali2 ga ada salahnya mba :)
Jika org lain, Mba Zefy pun pasti bisa

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Tak kan lari gunung di kejar, hayuu mba susun itenirary

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Huahahahah...
Iya sih enak y..klo ada kendaraan yg bisa nganter sampe puncak gunung

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Oh..mba Dian punya Asma Kah ??
Pernah juga tuh waktu seteam ada yg punya asma, selalu prepare obatnya sih. Alhamdulillah lancar

Sie-thi Nurjanah mengatakan...

Masih banyak mba yg jauh lebih hebat, ini cuma satu cara saya utk menikmati kebesaran Allah ^_^