Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Senin, 14 Mei 2018

Memahami Program Deteksi Dini Penyakit Lupus

Situasi perkembangan penyakit tidak menular, semakin lama kian mengkhawatirkan. Bahkan saat ini telah menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Faktor pemicunya bisa karena gaya hidup tidak sehat maupun kurang beraktifitas fisik. Sebagian besar masyarakat dengan derita penyakit tidak menular tidak menyadarinya sehingga kerap terlambat untuk di tangani.

Pernah kah mendengar penyakit bernama lupus ? Dimana suatu sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan substansi asing (non-self) dengan sel dan jaringan tubuh sendiri (self). Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat.


Dalam menyambut hari Lupus Sedunia di tanggal 10 Mei, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam hal ini melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P), menyelenggarakan Temu Media atau Press Breafing di Gedung D Kantor Ditjen P2P Kemenkes RI, Jalan Percetakan Negara, No.29.

Acara hari itu mengangkat tema deteksi lupus dan kesadaran periksa sedini mungkin. Menghadirkan narasumber  Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA ; Pakar Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, dr. Sumariyono, SpPD, dan Ketua Yayasan Lupus Indonesia, Tiara Savitri.

Tahukah mengapa lupus di simbolkan dengan kupu-kupu ? Hal ini disebabkan para penderita umumnya mengalami gejala ruam merah khusunya pada wajah membentuk pola seperti kupu-kupu.

Angka kematian akibat lupus terbilang cukup tinggi, oleh karena itu sekiranya perlu mendapat perhatian khusus karena 25% atau sekitar 550 jiwa meninggal akibat lupus pada tahun 2016. Sebagian penderita lupus adalah perempuan dari kelompok usia produktif (15-50 tahun), penyakit ini tidak memandang jenis kelamin maupun usia sebab laki-laki, anak-anak dan remaja pun berpotensi mengidapnya juga.

Sebuah inspirasi yang di sampaikan narasumber seperti Ketua Yayasan Lupus Indonesia, Tiara Savitri cukup membuat tercengang dan berdecak kagum kepada wanita ini. Ia bersama kawan seperjuangan lainnya lebih nyaman di sebut dengan Odapus (Orang dengan lupus) bukan si penderita. Konotasinya, bahwa mereka memiliki semangat menjalani hidup sebagaimana orang sehat lainnya.

Tiara Savitri telah mengidap Lupus sejak tahun 1987, tak ada yang pernah menyangka wanita yang selalu aktif ini terserang Lupus. Namun, semangatnya tak pernah pudar. Ia tak pernah menyerah untuk melakukan pengobatan. Bahkan beberapa kali kondisinya sempat drop. Semangat juangnya melawan Lupus seakan mematahkan diagnosa bahwa orang dengan Lupus tidak sanggup bertahan lama, orang dengan Lupus tidak bisa menjalani aktifitas normal. Melihat sosok dan segala aktifitas dari Mba Tiara tak akan ada yang pernah menyangka bila beliau adalah Odapus.


Yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Lupus


Terdiri dari beberapa macam jenis, salah satu jenis Lupus yang paling sering dirujuk masyarakat umum adalah Lupus Eritematosus Sistematik (LES). LES dikenal sebagai penyakit ‘Seribu Wajah’ merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis yang hingga kini belum jelas penyebabnya. LES juga memiliki sebaran gambaran klinis yang luas serta tampilan perjalanan penyakit yang beragam, sehingga seringkali menimbulkan kekeliruan dalam upaya menganalisanya. Gejalanya bisa timbul secara tiba-tiba atau berkembang perlahan.

LES dapat menyerang jaringan serta organ tubuh mana saja dengan tingkat gejala yang ringan hingga parah. Meski faktor resiko belum diketahui secara jelas, namun faktor genetik, imunologik, hormonal dan lingkungan memegang peran sebagai pemicunya.

Guna menekan tingginya prevalensi LES, Kementerian Kesehatan RI mencanangkan program deteksi dini LES yang disebut dengan Periksa Lupus Sendiri (SALURI). SALURI dapat dilakukan di Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU), Puskesmas atau di sarana pelayanan kesehatan lainnya dengan cara mengenali gejala-gejala sebagai berikut :
- Demam lebih dari 38 derajat celcius.
- Rasa lelah dan lemah.
- Sensitif terhadap sinar matahari.
- Rambut rontok.
- Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang melintang dari hidung ke pipi
- Ruam kemerahan di kulit.
- Sariawan yang tidak kunjung sembuh terutama di atap rongga mulut.
- Nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai serta menyerang lebih dari 2 sendi dalam waktu lama.
- Ujung-ujung jari tangan dan kaki pucat hingga kebiruan saat udara dingin.
- Nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik napas panjang.
- Kejang atau kelainan saraf lainnya. --
- Kelaianan hasil pemeriksaan laboratorium atas anjuran dokter (anemia,leukositopenia, trambositopenia,hematuria dan proteinuria,positif ANA dan atau Anti ds-DNA).

Jika pasien mengalami minimal 4 gejala dari keseluruhan yang disebutkan, maka sangat dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau puskesmas atau rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Diagnosa Penyakit Lupus


Hingga saat ini belum ada pemeriksaan tunggal yang bisa digunakan untuk menentukan pemeriksaan tunggal seseorang menderita lupus atau tidak. Diagnosa awalnya biasanya ditemukan setelah dokter umum secara bertahap mempelajari riwayat kesehatan pasien dan menggabungkan keluhan-keluhannya.

Setelah menganalisa hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain yang berhubungan  dengan status kekebalan. Rujukan dokter pemerhati lupus adalah dokter spesialis penyakit dalam, spesialis penyakit dalam konsultan, Hematologi, Rheumatalogy, Ginjal, Hypertensi, Alergi Imunology.

Sampai saat ini penyakit Lupus memang belum bisa disembuhkan secara total namun bukan berarti tidak ada harapan. Tujuan pengobatan adalah untuk mendapatkan remisi panjang, mengurangi tingkat gejala, mencegah kerusakan organ, serta meningkatkan kesintasan. Berkat teknologi pengobatan LES yang terus berkembang, sebagian penderita LES dapat hidup normal atau setidaknya mendekati tahap normal. Dukungan keluarga, teman serta staf media juga berperan penting dalam membantu para penderia LES dalam menghadapi penyakitnya.


Dengan berobat secara teratur sesuai saran dokter (yang biasanya diminum seumur hidup), maka odapus dapat hidup selayaknya orang normal. Perlu di ingat jika penyakit lupus tidak lah menular, jadi jadi tidak perlu khawatir bila harus berhubungan dengan penderita penyakit lupus. Justru, sudah selayaknya mereka mendapat dukungan sehingga tidak menjadi stres dan bisa terus semangat hidup.

Kita memang tidak bisa menduga kapan penyakit itu akan datang, namun bukan berarti tidak dapat melakukan pencegahan. dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA kembali mengingatkan program gaya hidup sehat yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI dengan dengan menerapkan CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet yang baik dan seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stress).

14 komentar:

Reyne Raea mengatakan...

Kakak saya juga di diagnosa Lupus oleh dokter, tapi saya kok ga yakin ya, soalnya kadang drop kadang engga, semoga saja bukan lupus.
Meskipun kasian juga kalau drop, seluruh tubuh, terutama wajah, tangan dan kakinya penuh bercak merah.

Wenny kumala tendean mengatakan...

Benar nih mbak kita harus CERDIK. Thank you sharingnya mabk.

Dwi Wahyudi mengatakan...

Beberapa orang teman saya juga pada akhirnya meninggal dikarenakan penyakit ini, sampai sekarang sebenarnya saya juga tidak paham jenis penyakit ini kenapa bisa menjadi mematikan. Ma kasih buat sharing info mengenai penyakit lupus ya Kak.

Hellofika mengatakan...

Temenku odapus siti.. dia survivor banget.. tapi anaknya yg bungsu yg kehamilannya pas dia odapus.. skrg kena lupus jg.. kenapa bisa gitu ya

hida mengatakan...

Bagaimanapun mereka yang menderita Lupus juga berhak tuk menikmati dan menjalani hidupnya ya. Semoga dengan pengobatan teratur harapan sembuh mereka juga besar.Amminn.

Leyla Hana mengatakan...

Penyakit Lupus ini masih tak biasa ya jadi bisa gak sadar kalo udah terkena lupus.

Melysa Luthiasari mengatakan...

Terimakasih informasinya tentang pemyakit Lupus ini. Walaupun penyakit ini tdk menular tapi kita tetap harus waspada ya, dan melalukan pemeriksaan rutin.

Anisa Deasty Malela mengatakan...

Penyakit lupus ternyata sangat berbahaya dan mengincar kaum wanita ya.. Semoga kita bisa dijauhkan dari penyakit lupus dengan lakukan deteksi sedini mungkin.

Echi Mustika mengatakan...

Lupus penyakit yang tidak menular, tapi sanpai sekarang belum ada obatnya.. Hidupnya pun mulai terbatasi dan tergantung dgn obat...

Azzura lhi mengatakan...

Duh, efeknya luar biasa dan jangka panjang ya. Dan sudah seharusnya mereka mendapat perlakuan yang tidak membuatnya terluka.

Novitania Pambhudi mengatakan...

ahh kalo ngmongin soal lupus, aku sedih mba. ada temanku yang berpulang karena lupus. moga kita makin aware sama lupus ya

Helenamantra mengatakan...

Diagnosa penyakit lupus ini masih PR ya. Kadang kita kurang aware dengan gejalanya, mikir demam biasa. Berarti Mbak Tiara sampai sekarang masih odapus?

Dewi Nuryanti mengatakan...

Semoga semakin banyak edukasi ttg penyakit lupus ini ya. Karena msh banyak yg blm tau ttg penyakit lupus ini

Tika Samosir mengatakan...

Bahaya banget sebenarnya penyakit lupus karena secara perlahan akan mematikan. Bagus banget ya sekarang sudah ada cara penanganannya. Mudah-mudahan penderita semakin berkurang dan sembuh total.