Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Selasa, 22 Desember 2020

Keunikan Arsitektur Masjid Babah Alun Yang Berada di Kolong Tol

Ketika sedang mensortir beberapa file dan dokumen, Aku menemukan dokumentasi foto lama yang belum di ulas kedalam tulisan. Jadi, Aku akan berbagi cerita mengenai tempat yang cukup unik yakni Masjid Babah Alun yang lokasinya tepat ada dibawah kolong Tol Wiyoto.

Untuk menuju ke lokasi ini tidak terlalu sulit sebenarnya. Jika naik ojek online sudah terdeteksi di aplikasi. Alamat lengkapnya ada Jalan Papanggo Gang 21 RT 001 RW 007, Kelurahan Papanggo, Warakas - Jakarta Utara. 

Berada di wilayah perkampungan warga, Masjid Babah Alun ini berdesign menyerupai kelenteng. Struktur bangunan masjid berbentuk segi delapan, filosofinya berlatar pada sejarah Tiongkok dan islam dimana dalam pemahaman orang Tiongkok berarti keselamatan. Sedangkan bentuk angka delapan itu tidak putus. Dan Islam sendiri artinya selamat. Ornamen hiasan Masjid Babah Alun juga dominan bergaya oriental, seperti garis merah sebagai warna dasar pada kaligrafi lafaz Allah yang mengelilingi langit-langit bangunan tersebut.

Bagi yang belum mengetahui keberadaan masjid ini tak akan ada yang menyangka bahwa bangunan ini merupakan masjid karena memang tidak ada kubah seperti terdapat pada masjid umumnya. Mengadopsi design budaya Tionghoa, Arab dan Indonesia.  Ini bisa Kita lihat pada di bagian genteng dan pintu masjid serta dominasi warna merah serta hijau mewakili budaya Tionghoa, sedangkan unsur budaya Arab terdapat kaligrafi bertuliskan Asmaul Husna di dinding masjid, dan budaya Indonesia diwakili pada sebuah ukiran yang ada pada ujung atap.

Ketika memasuki pintu utama berwarna coklat besar, dilengkapi ukiran nama Masjid Babah Alun yang menggunakan Bahasa Mandarin di atas pintu  maka akan tembus ruang ibadah ibadah wanita sedangkan untuk laki-laki melewati pintu samping.

Tempat wudhunya pun cukup nyaman sebab tersedia kursi untuk duduk sehingga jamaah bisa berwudhu sambil duduk. Selain itu ada juga petunjuk pelaksanaan wudhu dalam bahasa Mandarin dan Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan di para jamaah atau wisatawan yang ingin menyempatkan ibadah di masjid ini. Diperkirakan masjid ini bisa menampung hingga 400 Jama’ah.

Masjid ini memiliki area parkir yang cukup luas, tempatnya pun lumayan rapi dan bersih, Menurut penuturan warga yang ada di sana, Maasjid Babah Alun kerap mengadakan acara keagamaan atau social bahkan biasanya tiap ramadhan sering menyediakan hidangan berbuka puasa.

Pemilihan lokasi masjid yang berada di bawah jalan tol bukan tanpa alasan. Selain tidak akan terasa terik matahari ketika sedang panas, diharapkan tempat ibadah ini bisa menjadi oasis yang memberi kesejukan lahir dan batin bagi warga di sekitarnya.

Semula lokasi bangunan ini merupakan tempat pembuangan sampah. Atas dasar tujuan mengubah lingkungan kumuh menjadi asri, sekaligus meningkatkan ketaatan umat untuk beribadah, seorang mualaf keturunan Tionghoa, Muhammad Jusuf Hamka, mewakafkan hartanya untuk membangun masjid.

Baca Juga : Masjid Ramlie Musofa Keindahan Arsitektur Menyerupai Taj Mahal


Dibangun pada pertengahan 2017 dan baru dioperasikan pada awal 2018. Adapun penamaan Babah Alun memiliki arti, Babah (Bapak) dan Alun (merupakan nama kecil dari sang pendiri yakni Muhammad Jusuf Hamka). Salah satu keunikan sosok ini ternyata beliau adalah seorang yang dikenal sebagai pengusaha dan gemar berderma. Pria yang terlahir dengan nama asli Alun Josef ini mengucapkan dua kalimat syahadat pada usia mudanya  sekitar 23 tahun pada tahun 1981 yang dibimbing oleh ulama besar Buya Hamka, bahkan menjadi anak angkatnya sehingga di sematkan nama ‘Hamka’. 

Ada pesan Buya yang begitu di ingat oleh Jusuf Hamka. “Kelak harta yang kamu makan akan jadi kotoran, harta yang kamu simpan akan jadi rebutan dan warisan, tapi harta yang kamu sedekahkan Insyaallah akan jadi tabungan kekal di akhirat.” Semoga dari kisah ini, Kita bisa menjadi seorang muslim/muslimah yang taat untuk tidak ragu dalam berbagi atau bersedekah.

10 komentar:

Maria G Soemitro mengatakan...

Oh pantesan namanya Muhammad Jusuf Hamka). Karena dibimbing Buya Hamka
Kayanya saya pernah baca tentang dia, kalo ga salah ada masjidnya di Bandung

Mutia Ramadhani mengatakan...

Masya Allah, masya Allah. Pantesan dari tadi saya mikir keras. 10 tahun lebih di Jakarta saya kok gak tahu masjid ini? Rupanya baru 2017 ya. Saya sudah pindah ke Bali 2014, pantes saya gak tahu. Terima kasih sudah sharing mba. Masya Allah, nasihat Buya Hamka sungguh mak jleb di hati saya.

Nurul bukanbocahbiasa mengatakan...

Unik bgt ya mbaaa
Aku beberapa kali lihat masjid ini di tayangan TV
Inspiring bgt yg mendirikan masjid!!

Triani Retno A mengatakan...

Seneng lihat masjid dengan sentuhan arsitektur Tionghoa gini. Di Bandung juga ada, nggak jauh dari alun-alun. Tapi belum sempet aja ke sana.

Enny Mamito mengatakan...

Aku pernah lihat tayangan masjid ini di TV bbrp waktu lalu mba. Arsitekturnya unik & cantik ya :)

diane mengatakan...

Wah kayaknya perlu ammpir kesini kalo kebetulan pas lewat nih... unik juga ya..masjid di bawah kolong jalan tol tapi tetep rapi bersih...

Mechta mengatakan...

Bagus masjidnya ya.. ini sejak awal pembangunan memang di kolong tol atau bagaimana ya?

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

Bagusnya khas banget ini Ti.
aku belum pernah ke sini. mau kapan kapan ddiajakin ke sini ya Ti.

Nufa Zee mengatakan...

Aih pesan Buya Hamka di paragraf terakhir itu makjleb ya kak, harta yang disedekahkan

Indri mengatakan...

Sungguh indah ya arsitekturnya meskipun lokasinya tidak terlihat khalayak ramai, semoga warga sekitar bisa memakmurkan masjid