Kamis, 17 Januari 2019

Redam Stres, Berwisata Ke Bali Bisa Jadi Pilihan

Di era modern yang terus bergerak dinamis ini kerap kali menuntut seseorang terjebak pada kesibukan tiada berujung, yang terkadang membuat orang tidak memiliki waktu luang untuk melakukan hal-hal menenangkan dan menyenangkan sehingga bisa memicu timbulnya stres. Dampak negatifnya adalah bisa menurunkan daya ingat, membuat tubuh lesu, dan membuat emosi tidak terkendali yang lebih fatalnya menimbulkan depresi jika tidak di kontrol dengan baik.

Oleh sebab itu, stres perlu dikelola dengan bijak agar bisa menjadi dorongan dan motivitasi bagi diri sendiri untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas. Ketika stres melanda, Kita bisa mencari hiburan yang menyenangkan ataupun melakukan hal yang memang digemari untuk menangkan pikiran. Setidaknya luangkan waktu dengan bersantai seperti  menonton film, membaca buku, atau travelling supaya keadaan pikiran menjadi lebih fresh.


Iya travelling bukan sekedar untuk mencari kesenangan, tapi juga bisa memberi efek relaksasi. Kadang di perjalanan yang dilakukan itu menjadi cara untuk merenungkan kembali segala kejadian yang telah lalu untuk belajar ikhlas dalam memaknai setiap hal yang telah terjadi.

Selasa, 15 Januari 2019

Menyusuri Destinasi Yogya Selatan


Menempuh perjalanan setelah beranjak dari Magelang. Sudah kesekian kali bertandang ke Yogyakarta, tujuan Saya dan ketiga adik kala itu adalah menyusuri kawasan Selatan Yogyakarta yang memiliki panorama keindahan dengan dominasi ke eksotikan pantai serta panorama destinasi lainnya yang tidak kalah menarik tentu saja.
Melajukan kendaraan ke arah Bantul, ada kisah di balik perjalanan kali itu. Sebelum menelusuri tujuan utama Kami memang berniat untuk singgah ke sebuah air terjun yang searah dengan perjalanan saar itu. Mengandalkan google map yang Kami temui justru tebing kerontang. Menurut kabar dari masyarakat yang ditemui (setelah 2 kali bolak balik) di tempat itu sebelumnya memang ada air terjun kecil. Tapi sudah lama mengering (wuaduuh). Sedihnya lagi, Saya harus merelakan sandal gunung kesayangan yang telah lama mengiringi perjalanan harus putus terjembab di lumpur.

Gumuk Pasir

Baiklah, perjalanan harus tetap berlanjut. Kendaraan roda dua yang Kami kendarai tiba di sebuah desa kecamatan Kretek. Tepatnya Jl. Pantai Parangkusumo RT. 1, Grogol 10, Kretek, Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terdapat gurun pasir yang umumnya hanya dijumpai di negara-negara Timur Tengah atau Afrika Utara. Terlihat hamparan lautan pasir seluas 2KM dengan beberapa gundukan sekitar 5-15 Meter.

Gumuk Pasir - Bantul
Geowisata yang dinamai Gumuk Pasir ini berada di sepanjang sungai Opak, Pantai Parangtritis hingga pantai Depok. Yang menjadikannya istimewa gumuk pasir sepertu ini hanya ada 3 di Asia  Tenggara yaitu Filipina (La Paz Sand Dunes), Vietnam (Mui Ne Sand Dunes), dan Indonesia. Gumuk Pasir Parangkusumo yang masuk dalam gumuk pasir pesisir (coastal dunes). Gumuk pasir ini terdapat di seluruh garis lintang di dunia, mulai dari kutub hingga khatulistiwa, dan bertype pasir berchan.

Minggu, 06 Januari 2019

2019 Berharap Untuk Yang Lebih Baik

Waktu demi waktu silih berganti, memasuki tahun yang baru 2019, segala pengharapan digantungkan setinggi langit sebagaimana kata bijak seorang tokoh proklamator "Gantungkan segala harapan dan cita-cita setinggi langit, agar ketika terjatuh maka terjatuh diantara bintang-bintang."


Tahun 2018 lalu begitu banyak ujian menerpa bangsa tercinta ini. Berbagai bencana bertubi-tubi datang sebagai cobaan. Kehancuran dan kehilangan mewarnai setiap pemberitaan di berbagai media. Sudah waktunya bagi Kita untuk bermuhasabah, merenungkan atas segala kejadian menjadikannya bahan pembelajaran.

Itulah sebab bagi Saya rasanya kurang etis menyambut tahun baru masehi ini dengan hura-hura sedang di sudut lain negeri masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

Sepanjang tahun 2018 banyak juga berbagai kejadian dari suka, duka dan rasa kecewa mewarnai di tiap waktunya. Menemui hal-hal baru, berbagai kesempatan yang luar biasa sekali untuk di syukuri ketika merenungkannya. Salah satunya adalah kesempatan mengunjungi berbagai desinasi di Nusantara. Merunut berbagai destinasi sebagai kalaeidoskop di awal tahun. Berikut beberapa diantaranya :

Rabu, 26 Desember 2018

Meneladani Kebijakan Gus Dur di Haul Ke-9

Saya pernah melihat sebuah tayangan yang menampilkan sosok komika kenamaan Indonesia Ernest Prakasa begitu mengagumi Bapak Abdurrahman Wahid. Sebagaimana terlihat Ernest yang sejatinya berdarah tionghoa merasa berterima sekali dengan kebijakan yang di buat oleh Presiden RI ke-4 ini. Bisa saja suaranya itu mewakili juga oleh etnis Tionghoa lainnya, pasalnya pendiri ormas yang akrab disapa Gus Dur ini merupakan seorang tokoh pluralisme yang tak gentar mencabut larangan perayaan Imlek ketika beliau menjabat sebagai presiden.


Salah satu kebijakan menciptakan persamaan untuk kaum minoritas seperti Tionghoa dimana mereka pun berhak merayakan imlek atau tahuh baru cina.  Ikrar tersebut dilakukan ketika menghadiri Peringatan Nasional Tahun Baru Imlek 2553 pada 17 Februari 2002 dan Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional untuk pertama kalinya baru dijalankan pada 2003.

Gus Dur menduduki jabatan sebagai kepala pemerintahan (Presiden) pada tahun 1999, menggantikan presiden sebelumnya Bpk BJ Habibie. Kabinet pertama yang diterapkan dalam kepemimpinannya adalah Kabinet Persatuan Nasional. Pada masa menjabat sbg presiden, Gus Dur telah berhasil meletakkan pondasi yang kuat bagi demokrasi di Indonesia. Memiliki prinsip sebagai seseorang yang berpijak di bumi Indonesia, melihat ke depan tetapi di saat yang sama tidak pernah menoleh ke belakang. Sebuah kaidah  yang mencerminkan sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), i'tidal (bersikap adil), dan tawazun (berimbang) selalu diterapkan olehnya.