Aku hanya bisa menatap nanar wanita
yang terbaring lama di ranjang ini dengan belalai-belalai medis dan monitor
yang menyala dengan gambar garis – garis bergerak bak kurva secara perlahan
yang menandakan masih adanya sebuah kehidupan.
Aku genggam tangan wanita yang telah
merawatku selama ini, dingin. Tak lagi hangat sebagaimana dulu ia sering
membelai rambutku semasa kecil. Air mataku mungkin sudah mongering, sujud –
sujud panjang pun selalu ku tunaikan berharap ada sebuah keajaiban dari-NYA
untuk wanita berusia senja yang ku panggil ia ibu.