Setiap tanggal 09 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Hal ini menjadi momen refleksi dan berbenah di balik kebenaran bahwa Indonesia sebenarnya punya kekayaan alam berlimpah tapi sayangnya keanekaragaman hayati ini masih terabaikan, tidak terkecuali untuk masyarakat adat sebagai penjaga hutan dan warisan budaya.
Jelang peringatan HIMAS 2026, sehari sebelumnya, aku bersama teman-teman Eco Blogger Squad bertandang ke Seniman Pangan di kawasan VIDA BEKASI. Disini benar-benar membuka cakrawala informasi, banyak sekali cerita dan ragam produk olahan yang di kelola secara tepat menjadi komoditi dengan inovasinya bernilai jual tinggi.
Dibalik Cerita Seniman Pangan
Seniman Pangan sebuah cafe dengan design bangunan cukup autentik, sekaligus menjadi ruang belajar kewirausahaan kreatif yang diinisiasi oleh Javara Indonesia bertujuan mencapai restorasi ekonomi dengan memberdayakan petani, nelayan, dan masyarakat adat menjadi pengusaha pangan yang mengolah hasil bumi lokal menjadi produk naik kelas serta memiliki nilai jual lebih.
Johanna Hehakaja, Business Director Sekolah Seniman Pangan menceritakan bahwa kawasan Vida Bekasi yang jaraknya tidak jauh dari Bantar Gebang, sebuah tempat pembuangan akhir untuk sampah bisa di kelola menjadi lahan potensial untuk bersemayamnya ratusan tanaman pangan lokal yang sebelumnya hanya dipenuhi oleh ilalang dan sawah. Permintaan pengembang ingin ada lahan hijau sehingga keputusan membuat kebun percontohan menjadi Sekolah Seniman Pangan terlaksana.
Beliau pun menambahkan berbagai program yang telah dilakukan Seniman pangan adalah dengan mengangkat peran perempuan adat sebagai benteng pertahanan ekosistem hutan dan ketahanan pangan lokal setempat dengan memberi pelatihan di desa adat sehingga tidak sekadar menjual bahan mentah komoditas, melainkan mengolahnya menjadi produk kuliner hingga kerajinan tangan siap pakai.
Disamping itu juga berkolaborasi dalam gerakan negara mitra pasifik seperti Samoa dan Fiji, dimana para wirausahawan perempuan dari kedua negara kepulauan Pasifik datang untuk belajar mengolah potensi pangan lokal secara berkelanjutan.
Jika dilihat sekilas dari luar bangunan Seniman Pangan cukup sederhana, sungguh tak terduga ternyata di belakangnya terdapat kebun seluas 3 hektar. Di lahan yang subur dan terus berkembang ini, terdapat beraneks tanaman yang menyimpan kisah serta nilai-nilai warisan keanekaragaman hayati pangan Indonesia, sekaligus mencerminkan dedikasi orang-orang di baliknya seoertibrempah-rempah dan bahan pangan pokok yang dibudidayakan secara organik hingga di petak-petak secara khusus.
Aktivitas Program Seniman Pangan
Kendati konsepnya cafe, Seniman Pangan juga menjadi tempat edukasi gastrocultural experience berbasis keanekaragaman hayati maupun workshop dalam pemberdayaan pangan lokal. Salah satu aktivitas yang ditawarkan yaitu farm tour dengan menjelajahi area perkebunan rempah, sayur organik, hingga kebun bibit (nursery) belajar menanam bibit tanaman secara langsung sampai mencicipi produk olahan artisan.
Mama Etih Suryatin, Partnership Director Seniman Pangan menjelaskan lahan perkebunan terbagi dalam dua area yakni Kebun nutrisi atau kebun contoh meliputi sekumpulan berbagai tanaman lokal dan tanaman nutrisi diantaranya rempah, buah, yang biasanya di olah secara langsung di dapur artisan.
Berikutnya adalah kebun produksi dimana komoditinya adalah beragam tanaman yang pengelolaan lahannya secara teknis menghasilkan panen yang bernilai jual dan cenderung di olah menjadi produk tertentu.
Selama aktivitas farm tour bersama Seniman pangan bukan hanya diajak berkeliling perkebunan tapi juga menerangkan beberapa informasi seputar tanaman sekaligus belajar menanam bibit, merawat, hingga memahami metode pemupukan tanaman sampai memanen hasil perkebunan (pengalaman mengesankan langsung mencicipi tebu papua secara langsung usai di tebang batangnya). Di Seniman pangan juga adacternak unggas seperti ayam dam bebek serta memanfaatkan lahan terbatas yang bisa difungsikan menjadi kolam ikan.
Workshop dan Olahan Pangan
Selepas berkeliling perkebunan, para peserta Eco Blogger Squad di perkenalkan dengan garam dari nipah oleh Corazon Nikijuluw, Food technology & education manager Seniman Pangan. Olahan itu diadaptasi dari kebiasaan masyarakat adat di Papua khususnya warisan leluhur suku Moi. Tekstur garam nipah ini layaknya serbuk kristal lebih halus hingga agak kesat, di Javara Indonesia menyediakan garam putih yang telah melewati permurnian, sebab biasanya garam nipah itu umum dikenal sebagai garam hitam.
Setelahnya pun dipersilahkan untuk praktik membuat selai dan sirup dari bahan organik. Pertama adalah selai Rosella, tanaman berwarna merah kaya akan vitamin C dan antioksidan yang sering dipakai untuk menjaga kesehatan umumnys ini sering diolah jadi teh herbal. Namun kali ini di buat selai, dipadukan dengan roti pun begitu klop dengan rasa agak asam, sedikit manis dan segar.
Membuat Selai Rosella :
- Siapkan kelopak bunga rosella segar buang bagian biji dan cuci bersih kelopaknya.
- Haluskan kelopak rosella dengan blender atau chopper bersama sedikit air.
- Masak hasil blender di wajan dengan gula cair secukupnya
- Aduk terus di atas api sedang sampai airnya mengering dan mengental.
- Angkat, dinginkan, lalu simpan di dalam botol kaca.
Berikutnya tentu ga asing dengan kemangi, tanaman yan biasanya untuk lalapan pendamping makan ternyata bisa diolah jadi sirup yang lezat. Dalam pemikiran jujur sempat skeptis "apa ga pahit ya" setelah diracik dan dipadukan dengan es batu hingga menjadi minuman rasanya sungguh menyegarkan. Aku sampai nambah beberapa kali.
Membuat Sirup Kemangi
- Siapkan daun kemangi segar
- Setelah dicuci bersih tiriskan hingga benar-benar bersih
- Rebus air dan daun kemangi
- Saring air rebusan daun kemangi ke wadah bersih.
- Masukkan air saringan ke panci, lalu tambah gula cair murni dan air
- Masak pakai api sedang sambil aduk sampai mengental
- Angkat, biarkan dingin, lalu simpan dalam botol steril.
Eksplorasi perihal pangan lokal belum berhenti di situ, dalam sajian meja prasmanan disediakan begitu banyak ragam makanan siap santap dari berbagai nusantara, diantaranya :
- Nasi Subut - Kalimantan Sambal
- Inter Singkong - Bogor
- Tumpang (Sayur)
- Ikan Goreng
- Ayam Tangkap - Aceh
- Tahu Tempe Bacem
- Sate Singkong dengan sambal kacang - Mollo NTT
- Perkedel Jagung - Mollo NTT
CONDIMENTS
- Sambal Beberok - NTB
- Sambal Terong Belanda - Sum Sel
- Kerupuk / Emping
DESSERT
- Rujak Aceh
- Sagu Sep Pisang dengan Gelatto - Papua
Melalui kunjungan ke Seniman Pangan, semakin membuka wawasan bahwa sebenarnya negeri ini punya potensi pangan yang besar serta unik dari setiap daerahnya.Tentunya tak lepas dari kontribusi masyarakat adat setempat, serta petani. Oleh karenanya perlu dioptimalkan melalui ragam pemberdayaan seperti gastronomi pangan lokal misalnya untuk menjaga keberlanjutan sekaligus tercapai tujuan mewujudkan restorasi ekonomi secara tepat.




29 komentar:
Menarik ya bahwa kita bisa saling belajar dengan negara-negara kepulauan Pasifik seperti yang disebutkan di atas. Soalnya ada kesamaan iklim sesama daerah tropis, termasuk tantangan dari fenomena seperti el Nino atau La Nina, jadi tanaman pangan sekaligus tantangan yang dihadapi mirip-mirip. Dan dari yang aku baca, negara-negara Pasifik lebih ke umbi-umbian dan dari buah ya makanan pokoknya, jadi bisa berbagi ilmunya juga untuk perawatan dan pengolahan ragam bahan pangan ini ke Indonesia.
Wow kebunnya sangat luas yaa ternyata sampai 3 hektar...
Bisa dapet banyak ilmu tentang komoditas pangan pastinya yaaa...pengen juga dirumah nanti ada kebun yang bisa kita tanami rempah2 ataupun sayuran yang kita gunakan sehari2 pasti rasanya senang bisa memanen dari kebun sendiri
Seru sekali bisa langsung belajar memanfaatkan tumbuhan yang ada di sekitar menjadi produk olahan yang dapat dikonsumsi. Jikalau ingin ikutan acara seperti ini, bagaimana caranya Kak Siti?
Kegiatan yang sangat keren. Bisa saling belajar tentang budaya negara masing-masing. Sayangnya saya yang tinggal jauh dari ibukota gak bisa ikutan. Padahal pengen, semoga next time bisa diundang oleh temen-temen komunitas blogger Amin
Menarik sekali melihat bagaimana lahan yang berdekatan dengan area Bantar Gebang bisa disulap menjadi lahan hijau subur seluas 3 hektar untuk Sekolah Seniman Pangan. Resep selai rosella dan sirup kemanginya juga unik banget. Jadi pengen coba bikin sendiri mumpung ada bahannya di rumah.
Nggak nyangka banget ya di Bekasi ada Cafe Seniman Pangan yang ternyata sangat care mengenalkan aneka pangan lokal Indonesia dan menjadi promotor untuk para warga adat yang memang menjaga lingkungan serta hutan dengan sedemikian konsisten.
Ada banyak kegiatan super menarik yang bisa diikuti. Jadi tertarik untuk melipir kesana deh. Seneng sama konsepnya.
Bener-bener nggak nyangka sih di Bekasi ada cafe Seniman Pangan yang punya area kebun seluas itu, padahal 25 menit dari rumahku tapi aku baru tau haha emang jarang main ke aras sana juga sih. Insya Allah bakal mampir lagi untuk mencoba menu-menu lainnya, rasa masakan chefnya tuh cocok di lidah, keren banget bisa mengubah sumber pangan lokal jadi masakan enak sekelas resto mewah
Kegiatan yang sangat seru, gak hanya sekedar cafe saja tapi kita bisa belajar banyak ilmu tentang pengolahan bahan pangan. Apalagi belajarnya bareng temen-temen blogger lainnya. Keren sekali !
Senang melihat gerakan pemberdayaan petani dan pangan lokal oleh Seniman Pangan. Ragam kuliner nusantaranya bikin ngiler, terutama Sagu Sep Pisang Gelato-nya.
wah keren banget ini cafenya punya lahan yang luas untuk pemberdayaan pangan. Acaranya juga pasti seru banget ya, mbak karena bisa sekalian menambah ilmu terkait pangan-pangan yang ada di Indonesia termasuk bagaimana mengolah selai dari rosela juga
Membaca cerita ini, benar-benar jadi pengen berkunjung ke Seniman Pangan juga. Nilai-nilai SDGs kayaknya banyak bener termuat dalam program ini, dan aihh...ada sambal beberok pula itu. Semoga banyak yang suka ya sajian sambal dari daerah saya di Lombok
Seru banget ya acaranya, pastinya bisa sambil icip-icip hasil olahan sendiri ya. Aku pernah tuh bikin selai dari bunga rosella asemnya bikin seger.
Keren banget Sekolah Seniman Pangan yang membuka pintu untuk masyarakat adat, perempuan dan anak-anak muda Indonesia untuk mengembangkan tanaman lokal jadi bernilai ekonomi tinggi
Ini menarik banget karena bicara pangan lokal sebenarnya bukan cuma soal apa yang kita makan, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga rantai ekonomi masyarakat di belakangnya. Ketika pangan lokal kembali dihargai, petani, pelaku UMKM, sampai budaya kulinernya ikut punya ruang untuk tumbuh. Semoga makin banyak orang yang melihat pangan lokal bukan sebagai pilihan “ketinggalan zaman”, tapi justru sebagai kekuatan Indonesia.
Ini menarik banget karena bicara pangan lokal sebenarnya bukan cuma soal apa yang kita makan, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga rantai ekonomi masyarakat di belakangnya. Ketika pangan lokal kembali dihargai, petani, pelaku UMKM, sampai budaya kulinernya ikut punya ruang untuk tumbuh. Semoga makin banyak orang yang melihat pangan lokal bukan sebagai pilihan “ketinggalan zaman”, tapi justru sebagai kekuatan Indonesia.
Aduuh.. rindu sekali sama sahabat-sahabat EBS.
Dan selalu yakin kalau ada hubungannya sama lingkungan, pasti kita semua jadi gamon dan menjadi pribadi yang sangat bersyukur sekali dengan kelimpahan SDA yang disediakan gratis dari alam untuk kehidupan manusia.
Seru banget bisa saling belajar banyak olahan bahan pangan. Sayang aku jauh jadi belum bisa ikutan event sekeren ini.
Menarik banget program seniman pangan. Sekarang makin banyak bertumbuhan orang² yang berkesadaran dan semangat mengelola hasil tani, kebun untuk kebutuhan pangan yg melibatkan perempuan adat. Semangat berjejaring untuk mengolah hidup berkelanjutan luar biasa, mulai dari memelihara para petani hingga mengolah jadi produk pangan.
Sangat menarik konsep cafenya...benar benar unik dan banyak kegiatan lain di dalamnya. Pemberdayaan petani dan memanfaatkan hasil pangan lokal menjadi berbagai produk makanan. Inspiratif sekali yaa Seniman Pangan ini.
Rumah mamaku di Vida mbak. Bagus bgt ini eventnya, insentif mendesak yang paling dibutuhkan saat ini adalah akses subsidi sertifikasi (organik/BPOM/halal) bagi UMKM, serta regulasi kewajiban bagi jaringan ritel dan horeka untuk menyerap produk lokal. Tanpa dukungan regulasi di hilir, perjuangan para seniman pangan untuk scale-up akan jauh lebih berat.
Ulasan yang sangat mencerahkan dan penuh gizi, Siti! Membuka mata banget kalau kawasan Bekasi ternyata punya 'oase' pangan lokal seluas 3 hektar seperti Seniman Pangan ini.
Suka sekali bagaimana artikel ini merajut isu masyarakat adat dan ketahanan pangan menjadi narasi yang begitu renyah. Bagian eksperimen sirup kemangi dan garam nipahnya bikin penasaran setengah mati!
Tulisan ini bukan cuma bikin pengen berkunjung ke sana, tapi bikin kita sadar betapa kayanya warisan bahan pangan lokal kita kalau dikelola dengan rasa hormat. Keren banget liputannya!
Keren banget.
Baru tahu kalau di Bekasi, tidak jauh dari Bantar Gebang ada cafe Seniman Pangan yang memiliki kebun yang begitu luas, serta memberdayakan kaum perempuan dan adat.
Kalau main ke Bekasi, wajib singgah ke sana untuk melihat dan mencicipi kulinernya yg bikin penasaran. Makasih infonya Mba.
wah ngiriii....
Saya selalu suka aktivitas seperti ini
Malah selalu bikin sirup sendiri, baru dari jeruk lemon sih
Dan setiap pagi selalu menyeduh teh dari rosella atau kulit jeruk
Beruntung banget bisa menginjakkan kaki di Seniman Pangan. Kita bukan saja diajak untuk merasakan langsung apa yang mereka miliki tapi juga mendapatkan banyak insight tentang lingkungan. Bagaimana kita bisa memberikan sumbangsih serta pengaruh atas awareness lingkungan yang konseptual.
Seandainya bisa jadi bagian dari squad. ini ya. Duh pasti deh gak nolak.
Keren ini ada Seniman pangan. Daku tahunya Seniman yang kreasinya dibidang musik atau kerajinan tangan aja. Lewat insight yang diberikan Seniman pangan, bisa diterapkan juga bagaimana menanam yang apik, apalagi ada metode pemupukan yang punya peran penting biar tanaman bisa tumbuh dan berkembang dengan baik
Pas baca sirup kemangi, reaksi saya juga sama, penasaran sekaligus agak aneh kalau lalapan diolah jadi minuman. Ternyata malah nagih sampai nambah beberapa kali, jadi penasaran pengen coba resepnya sendiri di rumah!
Dan saya jadi penasaran sama sate singkong nih mbak.
Seru kali yaa kalau semakin banyak kafe di luar sana yang menduplikasi konsep kafe seniman pangan di Bekasi ini. Pangan lokal jadi tetap lestari, petani terus didukung hasil pertaniannya, pastinya lebih memperpendek proses makanan untuk sampai ke konsumen, ramah lingkungan, wah banyak manfaatnya
Kadang kita lupa, pangan lokal bukan cuma soal makanan, tapi juga soal budaya, kreativitas, dan ekonomi masyarakat. Kalau terus dirawat dan dikembangkan, potensinya bisa luar biasa.
Jadi tahu 9 Agustus sebagai hari international Masy adat sedunia 👍. Menarik loh tempat seniman pangan ini. Aku malah kepengin bisa ke sana, menikmati aneka kuliner nya mba 😍.
Apalagi ga nyangka kebun di belakangnya sampai 3 hektar yang ditanami aneka pangan lokal ya 👍👍
Rosella selama ini aku nikmati sebagai minuman. Jadi penasaran jika dibuat selai. Kebayang segar, Krn minuman teh rosella aja enak bgt.
Trus sirup kemangi juga. Aku sendiri sukaa banget daun kemangi. Makan sebagai lalapan, aduk ke nasi, enaaak 😍😍. Kalau dijadikan sirup, pasti unik rasanya
Posting Komentar