Perjalanan Yogyakarta yang Saya tuliskan kali ini adalah lanjutan perjalanan backpacker setelah Lombok dan Bali. Sebenarnya keberadaan Kami di sana hanya singgah, tidak lebih dari 20 jam hanya sekedar untuk menanti jadwal kepulangan kereta ke Jakarta.
Kami tiba di Stasiun Lempuyangan, hari telah beranjak malam namun jadwal kereta baru besok siangnya. Waktu singkat di Yogya tersebut pun tak kami siakan hanya dengan stay di kamar penginapan, justru Kami memanfaatkan waktu terbatas tersebut dengan mengunjungi beberapa tempat.
 |
| Taman Sari (Doc.Pri) |
Menggunakan Trans Yogya, tujuan kami adalah Taman Sari, sebuah tempat yang dahulunya di pergunakan sebagai taman pemandian bagi putri-putri Keraton serta para selir. Di dalamnya terdapat kolam yang cukup luas dipisahkan sebuah jembatan yang dihiasi berbagai pot-pot tanaman. Bangunan di taman sari ini masih mempertahankan keunikan arsitektur terdahulu yang kental sekali dengan unsur keraton Jawa.
Dibagian belakang luar bangunan berbatasan dengan pasar dan terdapat halaman yang cukup luas dengan beberapa anak tangga berundak-undak. Oh,iya..Kami juga tidak lupa untuk mengunjungi Masjid Bawah Tanah yang cukup menjadi primadona di Taman Sari. Lokasinya cukup terpencil dan membuat kami berputar-putar hampir mengelilingi seluruh taman sari. Namun, setelah mencari melewati beberapa rumah penduduk dan ternyata lokasi tersebut masuk dalam satu jajaran Kampoeng Cyber yang pernah dikunjungi Mark Zuckeberg founder Facebook pada tahun 2014 lalu.
 |
| Dokumentasi Kampoeng Cyber (Doc.Pri) |
Memasuki lorong-lorong yang lokasinya agak lembab dan gelap hingga kemudian akan ditemukan keunikan masjid bawah tanah ini. Arsitekturnya lebih condong ke arah lingkaran dengan beberapa rongga-rongga jendela di setiap sisi. Terdiri atas dua lantai dimana dahulu lantai bawah untuk jama'ah wanita dan lantai atas untuk jama'ah pria. Di tengah-tengah bangunannya terdapat tangga untuk naik ke lantai atasnya. Tangga tersebut berjumlah lima, yang mengartikan jumlah waktu salat umat Islam. Lokasinya kini telah beralih fungsi tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah, tapi telah menjadi tempat rekreasi bersejarah peninggalan kerajaan Mataram.
 |
| Masjid Bawah Tanah (Doc.Pri) |
Beralih ke tempat berikutnya, Kami memutuskan untuk singgah pula ke Keraton Yogya. Karena mendapat informasi untuk menuju ke sana bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja dari komplek Taman Sari.
Keraton Yogyakarta merupakan pusat dari museum kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Menjadi lokasi untuk lebih banyak belajar serta mengenal budaya Jawa dan keraton yang memiliki khas tersendiri yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini ditengah arus modernisasi.
 |
| Keraton Yogyakarta (Doc.Pri) |
Faktor sejarah dan tradisi serta beberapa peninggalan unik ini lah yang selalu menjadi daya tarik para wisawatan baik lokal maupun mancanegara. Di tempat ini para pengunjung dapat melihat koleksi barang-barang Kraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca dan tersebar di berbagai ruangan. Mulai dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik. Sebagian besar di dominasi oleh peninggalan milik Sultan Hamengkubuwono.
 |
| Koleksi Kamera Sultan (Doc.Pri) |
 |
| Koleksi Batik (Doc.Pri) |
 |
| Replika ruang pertemuan Keraton (Doc.Pri) |
Tak sekedar hanya itu saja, di lokasi keraton ini pengunjung pun bisa melihat langsung aktifitas para abdi keraton yang bertugas, dan Kami pun sempat menikmati indah gemulai tarian di sebuah pendopo dengan alunan musik jawa yang sangat kental sekali. Jujur Saya merasa bangga menjadi Warga Negara ini, sebuah bangsa yang begitu dikagumi para turis asing mulai dari keindahan alam hingga ragam budaya yang mempesona.
Mengunjungi berbagai tempat di Indonesia selalu memberi kesan berbeda dalam setiap langkah, rasanya sayang sekali untuk melewatkan moment-moment menyenangkan tanpa di abadikan. Saya kadang sering membawa kamera tapi suka enggan untuk mengeluarkan dari tas, karena bentuknya yang agak makan tempat jadi agak ribet untuk keluar masuk tas. Jadi saat ini lebih sering memanfaatkan kamera ponsel yang lebih praktis walau di akui, kadang hasilnya tidak terlalu maksimal.
Sayapun jadi terpikirkan untuk mencari action camera, nampaknya lebih praktis untuk menemani travelling. Dari beberapa rekomendasi dan penelususran melalui beberapa situs web, sebagian besar menyatakan bahwa harga Xiaomi murah, namun tetap mengutamakan kualitas sehingga telah menjadi pilihan beberapa traveller.
Karena perjalanan yang sering Saya lakukan yakni tipe pejalan ransel, kerap kali yang namanya ke praktisan menjadi pertimbangan utama baik itu yang bertema adventure atau sekedar city tour. Tetapi kembali lagi ke kepribadian individunya, yang terpenting nikmati perjalanan itu senyaman mungkin, dengan tetap menjaga lingkungan dan Saya berharap tindak laku vandalisme yang merusak alam maupun beberapa lokasi wisata tidak akan pernah terjadi lagi,