Jumat, 21 November 2014

Jejak Waktu di Indonesia Internasional Book Fair 2014

Ini cerita sekitaran 2 minggu lalu kurang lebih, hari minggu diakhir pekan. Niat awal sebenarnya ingin menyisipkan quality time bersama teman-teman baik saya. Rencana saat itu adalah berkunjung ke acara Indonesia Internasional Book Fair. Pagelaran pameran tak hanya melulu soal buku, beberapa stand juga berdiri utk mengenalkan kerajinan tangan atau seni khas beberapa negara yang turut berkontribusi seperti Saudi Arabia misalnya. Dimana ada stand yg memprlihatkan sulaman berkaligrafi layaknya kiswah yg menyelimuti ka'bah, ada stand membuat henna atau hiasan tangan, saya sempat tertarik tadinya tapi ah, antriannya lumayan panjang, akhirnya batal saja.

Bersama Lili,saya menunggu kedatangan seorang teman lagi yg masih dijalan, kami melihat-lihat ke dalam sebentar dahulu sambil menunggu kedatangannya. Selang beberapa waktu akhirnya yg kami nanti pun tiba, Aan datang bersama adiknya.

Waktu sudah menunjukan pukul 12 ada informasi mengabarkan bahwa Bunda HTR sudah ada dan tengah mengisi acara di panggung utama. Secara saya cukup mengagumi penulis handal tersebut, kamipun segera menuju lokasi. Berhubung Aan tak bisa berlama-lama ia langsung ke tujuannya semula mengunjungi stand Korea dan saya stay di bangku penonton menyaksikan acara dari Bunda HTR.

Selasa, 11 November 2014

Review film a Crazy Little Thing Called Love

Membaca quoete tersebut mengingat kan saya pada sebuah film Thailand yang awal pertama kali dapet rekomendasi dari temen-temen kaskus sebagai salah satu film yang menyedihkan. Dan akhirnya saya dapatkan film tersebut setelah mencari-carinya, tapi belum sempat menontonnya. Hingga beberapa malam lalu,karena kekeliruan minum kopi susu tengah malem alhasil tidak bisa tidur semaleman, untung besoknya hari minggu. Di sebuah channel swasta T**ns TV menayangkan film ini yg sudah di dubbing ke bahasa indonesia jadi ga perlu cape-cape lagi baca teks terjemahannya.

Berikut reviewnya :

Sabtu, 08 November 2014

(Gagal) Summit Ciremai via Linggarjati

Menjelang hari sumpah pemuda, saat itu ada tanggal merah di hari sabtu tahun baru hijriah.Tak ingin menyiakan, segera mengatur rencana jauh-jauh hari dan fix saya, adik saya dan teman-temannya yang turut bergabung untuk pendakian massal gunung ciremai via jalur linggarjati, merupakan jalur paling panjang dan terjal dengan kemiringan hampir 70°. Jalur ini sangat sulit ditemukan sumber air selain di pos awal, untuk itu minimal perorang dianjurkan untuk membawa persiapan 5 liter. Selain itu jalur ini cukup dikenal angker dan mistis tapi tidak mengurangi minat pendaki, justru jalur linggarjati sering menjadi favorite bagi pendaki.

Sebenarnya keberangkatan tim sudah dari hari jum'at berhubung diantara kami masih memiliki kesibukan akhirnya kami memutuskan untuk menyusul dan berangkat di jumat malamnya. Berangkat dari terminal kampung rambutan, menggunakan transport bus menuju kuningan dengan biaya trasnport Rp 60.000. Ah, sumpah bus itu sangat-sangat tidak bersahabat terlebih saya yang memang sangat tidak kuat dengan udara panas dan pengap. Pasalnya bus Luragung itu tidak ber-AC, dan kenek yang dengan seenaknya memaksa menambah terus penumpang padahal didalam sudah sangat sumpek. Belum lagi ngetem yang lamaaaaa banget sedangkan bus sudah full.
Tiket Berangkat & Tiket Pulang Bus Luragung

Senin, 13 Oktober 2014

Cerita Perjalanan Dieng-Prau ( II ) : Summit Gunung Seribu Bukit

Kembali melanjutkan cerita sebelumnya, kami semua bersiap-siap untuk summit gunung Prau dengan ketinggian 2565 mdpl. sedikit ulasan tentang gunung Prau, berada di perbatasan kabupaten Kendal dengan Wonosobo, Jawa tengah. Gunung yang juga di kenal sebagai gunung seribu bukit, asal muasal nama prau sendiri disematkan karena  Gunung Prau ini terlihat seperti perahu terbalik bila kita melihat ke arah selatan dan barat daya dari jalan raya di sekitar Weleri, Kendal, dan sekitarnya.
Kami melewati jalur dieng dimana view awal yang kami saksikan adalah hamparan perkebunan sayur yang sangat luas dan subur. Tanaman tumbuh dengan sangat baik di sana, ah..sungguh takjub dibuatnya. Untuk trecking kami saat itu tidak terlalu sulit, perjalanan yang cukup landai dengan hanya beberapa tanjakan, meskipun begitu tetap saja rasa lelah menggelayuti dan tidak sedikit di beberapa langkah perjalanan kami beristirahat, saling sapa dengan pendaki lain.