Membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta. Itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang pikiran untuk terus terbuka." [Najwa Shihab - Duta Baca Nasional]
Kalimat tersebut seakan mengingatkan kembali akan betapa pentingnya membaca sebagai cara untuk memperkaya khazanah ilmu serta wawasan yang dapat menghantarkan manusia semakin cerdas.
Kita tentu tak asing dengan istilah Literasi, dimana menurut Kamus Merriam -Webster versi online bahwa literasi adalah kemampuan atau kualitas memahami aksara dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual. Satu sama lainya memiliki keterikatan. Adapun salah satu cara yang bisa ditempuh meningkatkan kemampuan literasi adalah dengan banyak membaca buku.
Untuk menemukan berbagai jenis buku, maka berkunjunglah ke Perpustakaan dimana tersimpan berbagai jenis bacaan. Sebagai suatu lembaga pelayanan informasi yang mempunyai arti penting dalam upaya penyebaran informasi seluas-luasnya, Perpustakaan telah menjadi sarana pendidikan nonformal untuk penigkatan pengetahuan. Dalam melayani kebutuhan usernya, perpustakaan dituntut untuk menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan minat dan kebutuhan. Di Perpustakaan inilah tempat yang kerap dikaitkan dengan majas gudang ilmu yang memiliki peran penting dan strategis dalam mendukung sukses program pendidikan serta peningkatan SDM.
Perpusnas Selenggerakan Rakornas Perpustakaan 2019
Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan Tahun 2019 dengan tema “Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”. Berlangsung pada tanggal 13-16 Maret di Hotel Bidakara, Pancoran - Jakarta Selatan.
Dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai wilayah di Indonesia mulai dari Penerbit atau Pengusaha, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus, dan Sekolah, serta para pustakawan dan para pegiat literasi seluruh Indonesia.
Rakornas dibuka oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang dimana dalam penyampaiannya tujuan dari pelaksanaan rakornas ini adalah mendukung upaya Perpusnas untuk menggerakkan pemerintah daerah dan perbatasan dalam rangka penguatan literasi dan perpustakaan. Dimana seharusnya, pengelolaan perpustakaan tidak hanya dibebankan kepada Perpusnas, tapi juga harus sinergi dengan para pemangku kepentingan.
Penutupan Rakornas Perpusnas 2019
Setelah berlangsung selama empat hari, penutupan pelaksanaan Rakornas Perpustakaan 2019 dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2019 di Binakarna Auditorium, Hotel Bidakara. Menghadirkan beberapa pembicara yang akan membahas lebih jauh mengenai :
- Optimalisasi DAK Fisik Subbidang Perpustakaan
- Optimalisasi Dekonsentrasi/Tugas Perbantuan Bidang Perpustakaan
Dengan pembicara pertama yaitu Bapak Danang Yulianto dari Dana Perimbangan Kementerian Keuangan yg membawakan materi Optimalisasi DAK Fisik Subbidang Perpustakaan.
Menurut definisinya, Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus penyedia sarana dan prasarana pelayanan dasar publik, baik untuk pemenuhan standar pelayanan minimal, pencapaian prioritas nasional maupun percepatan pembangunan daerah dan kawasan dengan karakteriatik khusus dalam rangka mengatasi kesenjangan pelayanan publik antar daerah.
Adapun fungsi yang di jalankannya :
- Mengatasi ketimpangan ketersediaan infrastruktur dan layanan publik antar daerah
- Pemerataan kuantitas dan kualitas infrastruktur pelayanan publik di daerah
- Meningkatkan Aksebilitas masyarakat terhadap layanan dasar publik.
Bapak Amich Alhumami, Ph.D, Direktur Pendidikan Tinggi, IPTEK dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas mengangkat tema optimalisasi kegiatan prioritas transformasi Perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Kemampuan literasi dinilai penting bagi pertumbuhan intelektual dan kompetisi setiap individu di Indonesia, menjadi salah satu poin yang perlu dikuatkan agar bisa membentuk manusia yang berkarakter.
"Tahun 2019 ini rencananya akan terus dilakukan penguatan literasi sebagai salah satu program prioritas pemerintah. Jika setiap individu memiliki kemampuan literasi yang baik, maka peluang untuk sukses di pasar kerja pun semakin besar," Bapak Amich mengungkapkan.
Inklusi sosial adalah pendekatan berbasis sistem sosial yang memandang perpustakaan sebagai sub sistem sosial dalam sistem kemasyarakatan. Dimana kedepannya perpustakaan harus dirancang agar memiliki manfaat yang tinggi di masyarakat. Misalnya menggali keterampilan masyarakat yang diperoleh dari kegemaran membaca. Dari keaktifan membaca akan memunculkan keterampilan. Di tambah lagi dengan workshop-workshop yang digelar berkelanjutan. Sehingga dari hasil keterampilan yang menghasilkan dapat memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat.
Secara garis besar literasi bisa dimaknai untuk melampaui pengertian konvensional yakni lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis semata akan tetapi juga mampu berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan.
Oleh karena itu, upaya peningkatan literasi di seluruh Indonesia bukan hanya melalui pembangunan fisik perpustakaan saja. Pemerintah juga akan lebih terfokus pada pemenuhan akses dan sumber bacaan kepada seluruh masyarakat. Khususnya, masyarakat yang bertinggal di daerah terpencil, tertinggal dan terdepan (3T) yang angka literasinya masih sangat rendah.
Sugiarto, S.E,M. Si. Direktur Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerja Sama KEMDAGRI menambahkan Bicara literasi, bukan hanya lisan,numerical dan tulisan tapi juga pendalaman dari berbagai aspek sehingga bisa memahaminya secara strategis dan cerdas. Salah satu pembangunan manusia bisa dilakukan dengan menggiatkan gerakan literasi melalui perpustakaan.
"Agar dapat membangun bangsa dengan kemampuan literasi tinggi, perpustakaan menjadi institusi terpenting yang mempunyai peran sentral dalam membangun literasi sosial" ungkap Bapak Sugiarto.
Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Bapak Muhammad Syarif Bando mengatakan pihaknya sudah melakukan MoU dengan Kementerian Desa, Transimigrasi dan daerah tertinggal, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan dan Keamanan dan Kementerian Hukum dan Ham. Segenap dukungan ini semakin menekankankan bahwa perpustakaan menjadi prioritas nasional dalam pemberdayaan Sumber Daya Manusia melalui literasi. Perpustakaan menjadi pilar penting kemajuan peradaban yg menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah, penulis, penggiat Literasi dan seluruh masyarakat.
Penanda penutupan kegiatan saat itu Bapak Syarif berharap, Rakornas dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan perpustakaan dan semakin menggaungkan gerakan literasi hingga ke polosok negeri. Dan Seluruh perpustakaan Indonesia saling bersepakat untuk meningkatkan ketersediaan kualitas tenaga perpustakaan dalam memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.















