Sabtu, 08 November 2014

(Gagal) Summit Ciremai via Linggarjati

Menjelang hari sumpah pemuda, saat itu ada tanggal merah di hari sabtu tahun baru hijriah.Tak ingin menyiakan, segera mengatur rencana jauh-jauh hari dan fix saya, adik saya dan teman-temannya yang turut bergabung untuk pendakian massal gunung ciremai via jalur linggarjati, merupakan jalur paling panjang dan terjal dengan kemiringan hampir 70°. Jalur ini sangat sulit ditemukan sumber air selain di pos awal, untuk itu minimal perorang dianjurkan untuk membawa persiapan 5 liter. Selain itu jalur ini cukup dikenal angker dan mistis tapi tidak mengurangi minat pendaki, justru jalur linggarjati sering menjadi favorite bagi pendaki.

Sebenarnya keberangkatan tim sudah dari hari jum'at berhubung diantara kami masih memiliki kesibukan akhirnya kami memutuskan untuk menyusul dan berangkat di jumat malamnya. Berangkat dari terminal kampung rambutan, menggunakan transport bus menuju kuningan dengan biaya trasnport Rp 60.000. Ah, sumpah bus itu sangat-sangat tidak bersahabat terlebih saya yang memang sangat tidak kuat dengan udara panas dan pengap. Pasalnya bus Luragung itu tidak ber-AC, dan kenek yang dengan seenaknya memaksa menambah terus penumpang padahal didalam sudah sangat sumpek. Belum lagi ngetem yang lamaaaaa banget sedangkan bus sudah full.
Tiket Berangkat & Tiket Pulang Bus Luragung

Senin, 13 Oktober 2014

Cerita Perjalanan Dieng-Prau ( II ) : Summit Gunung Seribu Bukit

Kembali melanjutkan cerita sebelumnya, kami semua bersiap-siap untuk summit gunung Prau dengan ketinggian 2565 mdpl. sedikit ulasan tentang gunung Prau, berada di perbatasan kabupaten Kendal dengan Wonosobo, Jawa tengah. Gunung yang juga di kenal sebagai gunung seribu bukit, asal muasal nama prau sendiri disematkan karena  Gunung Prau ini terlihat seperti perahu terbalik bila kita melihat ke arah selatan dan barat daya dari jalan raya di sekitar Weleri, Kendal, dan sekitarnya.
Kami melewati jalur dieng dimana view awal yang kami saksikan adalah hamparan perkebunan sayur yang sangat luas dan subur. Tanaman tumbuh dengan sangat baik di sana, ah..sungguh takjub dibuatnya. Untuk trecking kami saat itu tidak terlalu sulit, perjalanan yang cukup landai dengan hanya beberapa tanjakan, meskipun begitu tetap saja rasa lelah menggelayuti dan tidak sedikit di beberapa langkah perjalanan kami beristirahat, saling sapa dengan pendaki lain.

Jumat, 10 Oktober 2014

Cerita Perjalanan Dieng - Prau ( I ) : Simfoni Negeri Di Atas Awan

Akhirnya terpenuhi sudah janji saya terhadap seorang kawan "nanjak" bareng meskipun sudah sering kali ia mengajak serta namun apa daya office hour saya tidak seperti kebanyakan orang dimana weekend 2 hari benar-benar libur.
Selain saya memang mengidamkan sekali untuk bisa menginjakan kaki di Prau-Dieng, tapi juga melepas rasa kecewa karena rencana sebelumnya yang batal disebabkan sakit tak terduga. Oke lha ga usah berpanjang lebar, berikut sekelumit perjalanan saya dan kawan-kawan yang lain serta pengalaman menjelajahi negeri diatas awan.

selamat tinggal kenangan


Terhentak, tersadar kembali pada dunia nyata
Terlalu lama aku terbelenggu pada kenangan
Serta harapan kosong yg tak kunjung jua datang

Maafkan aku pernah melukis luka
Mengecewakanmu karna sesuatu
Yang tak pernah dapat terjelaskan
Kau tak akan pernah tahu dan tak akan pernah mengerti

Benar apa kata orang bijak
Kenangan bukanlah untuk di ingat
Tapi pembelajaran agar bisa memetik hikmah
Dari setiap masa yg telah terlewati

Selamat tinggal kenangan
Meleburlah bersama waktu
Untuk hari esok yg lebih indah

Kini,kuncup bunga itu telah mekar
Telah kau temukan bunga yg memang selama ini kau cari
Sedangkan aku hanya sebatang ranting yang jatuh

Sudah di penghujung waktu
Tiba kau dipelabuhan terakhir
Bersama bunga indah pilihanmu
Mengarungi samudera luas dalam satu kehidupan

Ranting kayu tidak untuk disimpan, bukan ?
Tetap tersisih dari satu cerita kehidupan
Tidak akan pernah di ingat apalagi di kenang

Berbahagialah bersama bunga yg ada di genggaman
Peliharalah kasih diantara kalian
Semesta pun akan turut mendoakan
Jika ketulusan menjadi dasar untuk menjaganya

*Teruntuk seseorang yang akan menempuh bahagianya dalam hitungan hari
Tanpa undangan, diriku yang terlupakan