Aku terbangun di sepertiga malam
ini, ketika aku hendak ke kamar mandi untuk membasuh air wudlu ku dengar
rintihan yang amat pilu. Suara tangisan ibu yang tengah berdoa akan mimpi
terbesarnya untuk bisa mengunjungi baitullah.
Aku hanya bisa termenung sedih,
merasa tidak berguna karena belum mampu mewujudkan harapan ibu di usia
senjanya. “Ya, Allah kabulkah harapan dan doa ibu” dalam hati aku pun turut
mendoa dan mengamini setiap untaian kata permohonan wanita yang telah sangat
berjasa padaku. Aku pun kemudian bergegas menunaikan niatku.
Ini adalah malam terakhir aku di
rumah, esok aku harus kembali ke kota karena masa cutiku telah selesai. Rasanya
ingin sekali berlama-lama tinggal bersama ibu, dan kali ini adalah kunjungan pertamaku
setelah dua tahun tidak sempat aku menjenguk ibu. Sudah sering kali aku
mengajak ibu untuk tinggal bersama ku di kota tapi selalu saja ibu menolak.