Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Sabtu, 31 Desember 2016

Backpacker Ke Bali ? Kenapa Tidak

Pagi pertama di Bali, aroma dupa dan kembang sesajen mewarnai hampir setiap sudut jalan. Beberapa bangunan dengan arsitektur unik khasnya yang serupa pura serta janur kuning melengkapinya. Dengan bermodalkan menyewa motor dan google map kami memulai petualangan kami di Pulau Dewata. Tujuan kami adalah Tanah Lot menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, terletak di Kabupaten Tabanan.

Tanah Lot
Tanah Lot (Doc.Pri)
Meskipun masih pagi, tetapi suasana sudah sangat ramai oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Keunikan Tanah Lot adalah Pura yang dibangun diatas batu karang yang sangat besar dan memiliki beragam keindahan. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas batu besar. Satu tertelak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing. Kabarnya Tanah Lot dijdikan sebagai tempat untuk pemujaan dewa-dewa penjaga laut.


Danau Beratan Bedugul

Danau Beratan Bedugul (Doc.Pri)
Perjalanan berikutnya adalah lokasi wisata yang menjadi simbolis keindahan Bali yakni Danau Beratan Bedugul. Perjalanan yang cukup panjang hampir 2 jam dari lokasi semula. Dengan alur jalan berkelok-kelok disuguhi pemandangan menawan. Rupanya jika di ibaratkan, tempat tersebut berlokasi di daratan tinggi, jadi tetiba teringat suasana puncak Bogor. Kawasan ini sangat subur, terletak di ketinggian kurang lebih 1.200 meter, mengakibatkan udara di kawasan ini begitu dingin.

Terletak di desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti kabupaten Tabanan Danau Beratan juga dikenal sebagai danau “Gunung Suci”. Ke istimewaan lokasi ini karena di tengah danau juga ada sebuah pura yang sangat terkenal dan menjadi pura penting di daerah tersebut, yaitu Pura Ulun Danu yang merupakan tempat pemujaan. Dibangun oleh masyarakat sekitar yang ditujukan kepada Dewi pemberi kesuburan menurut kepercayaan masyarakat setempat.


Awalnya kami berniat untuk mencari makan namun di tengah jalan kami diguyur hujan sangat deras sampai kami harus berhenti beberapa kali untuk berteduh. Ada mungkin 2 jam kami terjebak hujan, kami singgah di sebuah warung bakso. Agak tidak enak awalnya karena Saya dan adik Saya basah kuyup, namun ternyata si Bapak penjual dengan sangat ramah menyambut kami. Lantai yang nampaknya baru dibersihkan harus kotor lagi karena tetes air yang berjatuhan dari kami.

Rupanya si Bapak berasal dari Tasikmalaya, sebelumnya beliau tinggal bersama istri di Malang. Dan ternyata harga yang dipatok untuk kami berdua hanya Rp 20.000 dengan dua mangkok bakso+dua teh manis hangat dan dua kerupuk gendar yang renyah.

Sekiranya hujan sudah reda, Kami melanjutkan perjalanan kembali dan singgah untuk shalat Ashar di sebuah SPBU. Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, sebenarnya banyak list perjalanan yang ingin kami kunjungi namun dengan waktu yang amat singkat cukup mustahil untuk terkejar semua.

Dreamland Beach
Dreamland Beach (Doc.Pri)
Lalu keputusan kami adalah Dreamland beach, berlokasi di wilayah Desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung searah dengan Garuda Wisnu Kencana (GWK). Pantai ini berada di balik tebing dengan arus ombak yang lumayan tinggi. Di pantai ini para wisatawan banyak yang berenang dan bermain surfing bahkan karena pemandangannya yang cukup indah kerap dijadikan sebagai lokasi prawedding beberapa pasangan.

Kami tiba sekitar jam 17.00 petang waktu setempat tadinya Saya berpikir akan menikmati sunset di sana namun rupanya, adik Saya meyakini masih bisa menempuh perjalanan lagi ke destinasi berikutnya. Gerimis sempat mengiringi perjalanan kami, tapi tidak mematahkan semangat kami untuk tiba ke Pantai Pandawa.

Pantai Pandawa
Pantai Pandawa (Doc.Pri)
Memasuki jalanannya yang di dominasi  tebing-tebing kapur dan sebagian besar dalam tahap pembangunan. Sepi namun terkesan berantakan lantaran ada beberapa area yang hendak di renovasi. Jadi berasa milik sendiri kami bebas mengambil gambar tanpa banyak orang lalu lalang, namun sepertinya pantai pandawa terasa lebih indah jika bukan petang hari.

Lokasi Pantai Pandawa ini tepatnya berada di sekitar wilayah Selatan Kuta, dan kabarnya nama ini diambil dari nama tokoh pewayangan Panca Pandawa. Oleh sebab itu, ketika memasuki kawasan pantai, Kami disambut oleh patung Pandawa Lima, yaitu: Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Kelimanya diukir dengan indah dan uniknya patung-patung tersebut disimpan di dalam tebing-tebing kapur.

Sekitar jam 6 lewat kami melajukan kendaraan hendak menuju penginapan, lalu kemudian Saya berinisiatif untuk singgah sesaat ke Pura Uluwatu yang Saya tahu sering ada pertunjukan tari kecak. Melalui jalan yang semakin gelap , benar-benar sepi sempat parno sebenarnya tapi Saya diam dan tidak menyampaikan hingga akhirnya kami tiba di lokasi sekitar pukul 7 malam. Belum beruntung, tepat sekali ketika Kami tiba pertunjukan sudah selesai. Tenyata itu dimulai dari pukul 18.00 dan hanya berlangsung 1 jam. Sayang sekali, itu malam terakhir Kami di Bali sebelum bertolak ke kota berikutnya.

Pagi menjelang menyambut hari terakhir di Bali. Jika saja belum beli tiket kepulangan, mungkin Kami akan bablas beberapa hari lagi di Pulau Dewata. Sembari meminta ijin dan mengembalikan kunci kamar, usai sarapan Kami langsung membawa carrier dan barang bawaan Kami.

Pantai Kuta dan Pantai Legian
Pantai Kuta (Doc.Pri)
Sebelumnya kami sempatkan untuk mampir ke Pantai Kuta karena lokasinya yang tidak terlalu jauh hanya berjalan kurang lebih 10 menit sehingga Kami putuskan menjadi destinasi terakhir. Lokasi Pantai Kuta sangat strategis dan akses untuk menuju ke sana sangat mudah di lalui sehingga tidak heran banyak wisatawan menjadikan pantai ini sebagai tujuan utama. Keindahan pasir putih dan ombaknya yang bersahabat untuk belajar berselancar menjadikan pantai ini primadona bagi para wisatawan. Jujur Saya merasa asing di negeri sendiri pasalnya, Pantai Kuta di dominasi wisatawan luar negeri.

Berjalan beberapa meter menuju Pantai Legian sebenarnya lokasinya berdekatan dengan Pantai Kuta hanya Kami tidak sanggup menyusur pantai yang amat gersang suasanya sehingga kami memilih lewat trotoar yang di liputi pepohonan sehingga agak teduh. Panorama Pantai Legian hampir sama dengan Pantai Kuta dengan pasir yang berwarna putih dan ombak yang cukup bersahabat namun di sini lokasinya terbilang lebih sepi dibanding Pantai Kuta sendiri.
Pantai Legian (Doc.pri)
Kami terus melangkah mencari titik pasti halte sarbagita ternyata jauhnya bukan kepalang dari lokasi Kami semula. Ada yang menawarkan bantuan ternyata kendaraan online (hahaha sudahlah saat ini memang semua serba berbayar). Beruntung sekali teman jalan Saya kala itu adik Saya sendiri tidak cukup rewel dan jarang mengeluh mungkin memang jiwa-jiwa petualang mendarah daging (eh..apa sih).
Yeaayy Berdua Kita Bisa (Doc.Pri)
Akhirnya setelah sekian puluh meter berjalan kami menemukan haltenya. Lama, tapi kemudian Kami di sapa oleh seorang Bapak yang menganjurkan kami agar tidak muter-muter perjalanan menuju terminal Ubung. Ya akhirnya Kami naik kendaraan angkot 3/4 menuju Tegal (Saya kurang tahu persis mengapa namanya demikian) lalu Kami lanjutkan kembali dengan kendaraan menuju terminal Ubung. Benar saja seturunnya dari angkot kami sudah di serbu para Calo. Sebisa mungkin Kami menghindar, sudah rahasia umum calo di terminal ini pun banyak yang semana-mena dan kerap memaksa.

Usai shalat dan makan Kami berusaha sejauh mungkin menunggu angkot di luar terminal karena sudah banyak refrensi traveller yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan ketika di terminal Ubung. Ada kurang lebih 20 menitan kami mananti angkot 3/4 menuju Gilimanuk tiba. Perjalanan sekitar 6 jam dari Ubung menuju Gilimanuk dan kami bersiap untuk meninggalkan Pulau Bali. Gilimanuk-Ketapang tidak membutuhkan waktu lama sebenarnya.

Perjalanan pertama ke Bali, tidak mengenal siapapun dengan budgeting yang amat sangat terbatas akhirnya bisa Kami lalui jua. Dan perjalanan ini menorehkan cerita serta kesan tak terlupakan baik cerita suka maupun dukanya. Tapi Saya tidak pernah menyesal dan berharap di lain kesempatan bisa kembali berkunjung dengan siatuasi dan kondisi yang lebih baik.

Estimasi budget pengeluaran Bali (2 orang) :
* Kapal Feri Lembar - Padang Bai Rp 80.000
* Snack utk di Kapal Rp 50.000
* Angkot Padang Bai - Batu Bulan Rp 100.00p
* Trans Sarbagita Batu Bulan - Dewa Ruci I Rp 7.000
*  Kendaraan Online Rp 20.000
* Penginapan Arthawan 2 malam Rp 200.000
* Sewa Motor 1 hari Rp 70.000
* Bensin Rp 50.000
* Bakso+teh hangat+Kerupuk Rp 20.000
* HTM Tanah Lot 2org + parkir Rp 22.000
* HTM Bedugul 2org + parkir Rp 22.000
* HTM Pantai Pandawa 2org + parkir Rp 18.000
* Makan Malam Rp 36.000
* Angkot 3/4 Tegal Rp 15.000
* Angkot ke Ubung Rp 20.000
* Angkot 3/4 ke Gilimanuk Rp 100.000
* Makan warung Padang di Ubung Rp 60.000
* Kapal Feri Gilimanuk - Ketapang Rp 12.000
Total sekisar Rp 902.000 ( berarti perorang sekitar Rp 451.000)

21 komentar:

  1. Dari sekian pantai yang disebutkan, yang blum aku kunjungi pandawa, sebenernya aku agak penasaran dengan tebing2 dan ukiran patungnya klo di pandawa, cuma karena dikejer waktu en itinerary kemaren pandawa terlewat hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ada lain kesempatan Mba.
      Memang unik saya pun sempet takjub sama ukiran pandawanya

      Hapus
  2. aku paling suka dan g pernah bosan dgn tanah lot :).. 1-1 nya pantai yg aku suka di sana. mungkin krn batu2 di pinggirannya yg banyak cekungan berisi air , trs pura di tengahnya itu.. kalo pantai yg lain kurang suka krn panas ;p. makanya tiap ke bali aku mainnya lbh seneng di daerah atas mbak, lbh sejuk dan gunung soalnya.. kalopun turun k bawah ya cuma tanah lot itu yg aku dtgin berkali2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya terpesona dg kesemuanya Mba..memang cantik panorama Bali itu

      Hapus
  3. wah mantap backpeckeran ke bali sippppp mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekalian jalan selepas dari Lombok Mas :D

      Hapus
  4. penginapan arthawan masih 100rb kak permalamnya ? engga naik naik yaa.. harganya 3 tahun yang lalu masih segitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sempet khawatir ada kenaikan. Ternyata masih segitu dan lebih murah di banding yg lainnya

      Hapus
  5. Lengkap sekali Mbak si thi. Ini bener2 penting buat yg mau travelling. Sak harga2 makanan, transport tercatat dengan apik. MAkasih infona ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo backpackeran ga bareng komunitas lbh mudah buat perinciannya :D

      Hapus
  6. Dua tempat pertama belum sempat aku kunjungi waktu di Bali, heu :(
    Pengin ke sana lagi.
    Wah waktu aku ke sana biayanya berkali-kali lipat itu, ih, sebel. Ya, sama Lombok dan Jogjakarta juga, sih. Tapi biaya segitu setara sama pas aku main ke Solo. Mau main, ajak aku main. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga lanjut dari lombok kemudian trs yogya. Klo digabungin ya ga segitu Mba :D
      Wah..sayang padahal itu tempat iconic nya Bali, semoga ada kesempatan lagi ya Mba :)

      Hapus
  7. kalau ke bali mampir rumah mas. hehe. rumahku d buleleng.
    salam kenal yaa, monggo kunjunng balik ke blog saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf Saya statusnya 'Mba' lho :D

      Wah..kalo udah kenal Saya bisa hubungin sebelumnya ya..itu juga faktor nekat. Heheheh

      Semoga ada kesempatan lagi utk menjejak di Bali ^_^

      Hapus
  8. Seru bgt.
    Jadi pengen banget ke Bali, tpi ke Ubud..belom kesampaian juga. semoga di 2017 aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaahhh..Ubud tadi juga pingin ke sana tapi ga kekejar. Mungkin next time :D

      Hapus
  9. Best time buat ke Bali itu bukan di musim liburan. Kalau libur sekolah atau hari besar, macetnya...liburan jadi ga asik

    BalasHapus
  10. Mau banget ke Bali bakcpacker-an hehehe, tapi naik motor dari Malang (duh bisa ga ya xD)

    BalasHapus
  11. Yaampun, yg di sebutin aku baru ke Pantai Pandawa & kuta aja. hiks slm kenal mba :)

    BalasHapus
  12. pantai pandawa ini dulu namanya pantai melasti bukan ?

    Waah asik ya jalan jalan di bali ngangkot, saya mah nggak pernah karena selalu pakai travel atau bis kalau lagi kesini :D

    BalasHapus
  13. pingin Backpacker bali, belum kesampean, karena temannya blum ada :(

    BalasHapus