Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Jumat, 21 Agustus 2015

Moment Hari Kemerdekaan RI di Gunung Guntur

Menikmati khidmat suasana kemerdekaan berpadu bersama keindahan alam yang sungguh sempurna tak pernah terbayangkan sebelumnya. Meskipun tak di pungkiri hari kemerdekaan yang ke #70 tahun ini jatuh tepat dengan libur weekend sehingga gunung dan pantai tak ubahnya pasar, magnet para penikmat alam untuk memeriahkan hari kemerdekaan RI.

Bersama rekan lain, saya menjajaki gunung guntur di Garut Jawa Barat. Memiliki ketinggian 2.249 mdpl bagian dari tiga serangkai gunung di Garut yang di kenal PAGUCI (Papandayan, Guntur, Cikurai) meski paling pendek di banding dua gunung lainnya, Gunung yang mendapat julukan miniatur semeru-nya Jawa barat ini memiliki jalur track yang sungguh tak di bisa di pandang remeh. 
Jejak Para Pendaki Menuju Mt. Guntur

Gunung ini pertama didaki oleh pendaki berkebangsaan prusia – Jerman, Frans Junghun pada tahun 1837. Pada saat itu Junghun memasukkan gunung ini pada golongan gunung – gunung api paling aktif di Jawa. Gunung ini memiliki dua sumber mata air, yaitu sumber air panas yang mengalir ke Cipanas yang kemudian dimanfaatkan sebagai wisata pemandian Cipanas, dan yang satu lagi sumber air dingin yang mengalir ke aliran curug citiis.

Perjalanan di mulai dari gerbang desa Tanjung Kidul, untuk mengehemat stamina dan energi kami satu tim bersepakat untuk menumpang truk pasir dibandingkan harus berjalan cukup jauh melewati kawasan penambangan pasir dengan matahari bersinar terik dan jalan berkelok-kelok. Berada di atas truk pasir pun cukup menjadi tantangan tersendiri lantaran medan jalan yang terjal dan menanjak juga guncangan batu-batu yang di lajukan sopir dengan cukup cekatan. Sebelumnya di pos pendaftaran di kenakan biaya masuk saat itu. 

Hampir sampai di titik kesepakatan, truk tidak sanggup di lajukan lagi dan akhirnya daripada memaksakan kami pun turun dan memulai langkah perjalanan menapaki jalur pos pertama menuju curug citiis.Diakui Gunung Guntur cukup gersang dibandingkan gunung tropis pada umumnya, debu udara pun mengiringi perjalanan kami. 

Selepas curug citiis, kami naik kearah padang savanna, bukan lagi jalur hutan seperti sebelumnya. Jadi aliran sungai haruslah berada di sisi kanan jalur pendakian. Disinilah tantangan dimulai, tanjakan terjal dan berbatu merupakan jalur  yang harus di lewati selepas kawasan air terjun. 

Tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya, madan yang lalui masih didominasi tumbuhan jenis ilalang dan semak serta pepohonan yang kering merangas tanpa daun. Tampak pula pepohonan yang batangnya hitam seperti habis terbakar. Dikanan kiri jalur akan terlihat  bekas aliran lava yang telah membeku. Medan pendakian semakin lama semakin menanjak dengan kemiringan berkisar antara 45 – 75 derajat.Pendakian di siang hari dengan teriknya sinar matahari, semakin terasakan betapa panasnya berjalan di punggungan gunung Guntur.

Sedihnya masih terlihat sisa-sisa kebakaran kemarin yang merenggut habis pohon edelweis, dibalik vandalisme masih banyak bertebaran. (rasanya ingin nangis melihat kondisi demikian)
Jalur Kerikil berpasir
Beristirahat sejenak dan membukan flysheet untuk makan siang di pos III. Di sini sumber mata air terakhir ke atas setelahnya tak akan lagi di jumpai sumber air. Dari sini lah petualangan di mulai jalur yang di lalui semakin terjal dan gersang. Medannya pun didominasi campuran antara tanah, pasir dan kerikil, sehingga jika kita tidak pintar – pintar memilih jalan maka akan mudah terperosok ke bawah karena jalur yang licin dan curam, serta minim pegangan untuk menahan tubuh agar tak terperosok kebawah.

Suatu kekeliruan juga karena kami baru melanjutkan perjalanan sudah menjelang sore, dan naas saya bersama 5 orang rekan lainnya tersesat mengambil jalur yang keliru lantaran track yang kami gunakan jauh dari kata nyaman dan aman. Ada mungkin 3 jam kami tidak bergerak dari lokasi tersebut lantaran hari semakin gelap dan beberapa rekan yang sudah sampai di puncak hendak datang menjemput tapi nyatanya yang kami nanti tak kunjung tiba. Jika saja spotnya datar mungkin kami nekat ingin membuka tenda saat itu, yang membuat kami waswas lainnya adalah kemunculan babi hutan yang saya sudah sering dengar masih berkeliaran di gunung guntur menjelang malam. Hingga kemudian tim Pendaki Paguci lainnya segera menyusul keberadaan kami dan mengarahkan kami menuju puncak 1 bergabung dengan yang lain.

Lewat tengah malam kami tiba juga di puncak satu dengan kepayahan yang sungguh luar biasa. lokasi yang terletak sebelum bibir kawah sudah banyak tenda yang berdiri, benar adanya gunung yang saya peekirakan sepi ini nyatanya tak kalah ramai dengan gunung lain di hari kemerdekaan. Melepas lelah saya segera berisitirahat.

Ketika pagi menjelang dikala sang Surya menyapa dunia, pemandangan semakin terlihat jelas. Keindahan yang sungguh luar biasa akan ciptaan Tuhan tiada tandingNya. Menatap matahari merangkak perlahan terbit berselimutkan samudara awan yang mempesona terhantur rasa syukur akan negeri dan alamnya yang mempesona di tambah moment perayaan kemerdekaan semakin terasa khidmat. Dari puncak pertama ini dapat terlihat pemandangan kota garut, areal pemukiman, persawahan, situ bagendit, komplek pemandian Cipanas dengan jelas. Puncak kedua juga terlihat dengan jelas beserta jalurnya.
Sunrise Puncak satu Mt.Guntur
Saat itu memang ada upacara kemerdekaan bendera merah putih di puncak dua tapi kami memutuskan untuk stay di puncak satu. Toh dengan tidak turut serta bukan berarti kami tidak cinta tanah air, menjelang turun pun beberapa komunitas pendaki gunung serempak menyanyikan lagu kebangsaan tak jauh dari lokasi kami berada.

Menyanyikan Lagu Kebangsaan
Waktu turun, ekstra kehati-hatian dan kesigapan mengimbangi beban berat carrier beradu perjalanan kerikil berpasir jika tidak melangkah dengan teknik khusus sudah dipastikan akan jatuh terperosok. Kerikil-kerikil yang masuk ke sepatu kerap kali memberatkan langkah, dan beberapa kali pula harus terjatuh dan menggunakan teknik merosot. Syukur Alhamdulillah tidak sampai membuat celana robek sebagaimana beberapa teman bercerita. 

Jalur Turun Mt.Guntur
Akhirnya, penasaran saya tepercahkan setelah berhasil menapaki langkah di Gunung Guntur. Kembali dalam keadaan baik tanpa kurang suatu apapun kecuali logistic. Agak sedihnya tidak mendapat moment hamparan ilalang pink karena kemarau tapi masih ada satu-dua ilalang yang berwarna pink sungguh cantik, tapi tidak menyurutkan hingga menjadi kecewa lantaran melihat keindahan samudera awan di cakrawala langit pagi.
Tak heran jika ada yang menjuluki gunung guntung sebagai "Sikecil Cabe Rawit" karena jalur dan tracknya yang ajiib.
Pose Bersama di Mt.Guntur
Terima kasih untuk Angga, Sugeng, Helmi, Regi, Andi, Arif,Rifqy, Udin, Zena, Anggy, Nanda, Indah, Rani, juga Leni atas kebersamaan dan perjalanannya. Bertemu kawan-kawan baru melakukan petualangan.

26 komentar:

  1. Saya selalu beranggapan yang naik gunung adalah orang-orang keren yang bersedia mengorbankan banyak hal (biaya, waktu, tenaga) agar bisa menaklukkan puncak-puncak. Kamu juga orang keren, mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, tapi rasa-rasanya saya masih jauh dari sempurna. Ini hanya salah satu cara saya mensyukuri,nikmat dan karunia Yang terpampang nyata di kehidupan

      Hapus
  2. aku belum pernah berminat untuk naik gunung, tapi selalu kagum sama pemandangan di gunung dan agak miris dengan vandalisme dan sampah-sampah yang berserakan (based on internet bukan liat langsung). btw penasaran juga sama ilalang pinknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejak dulu saya selalu suka liat pemandangan gunung..tp takut utk menapakinya,,sampai suatu hari saya coba lawan rasa takut itu utk sx2 merasakannya langsung dan nyatanyanya malah ketagihan :D
      Satu dua masih sempat ditemui..jujur itu cantik bagi saya

      Hapus
  3. wah seru juga ya ternyata merayakan kemerdekaan di gunung

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Seruu..selain pengalaman berharga yg kita dapat juga banyak hikmah dari setiap langkah perjalanan yg di tapaki

      Hapus
  5. Aaduh pengen nyoba deh rasain momen pas kemerdekaan diatas gunung, pasti rasanya gimana gt yaaaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kesan yg tak kan terlupa :D
      Coba mas sekali-kali bersahabat dengan alam

      Hapus
  6. Wah kapan ya bisa merayakan momen kemerdekaan diatas puncak :D
    #pengen
    Ohh ya kalau ada waktu mampir ke blog baru ane ya gan sebagai tanda persahabatan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa, asal ada niat dan tindakan nyata. segera susun rencana :)
      Siaaap meluncur

      Hapus
  7. Moment yang tak kan terlupakan ya Mbak, merayakan kemerdekaan di gunung bersama teman-teman yang lain, dan pastinya seru, soalnya juga dulu saya pernah hiking gitu ya tapi bukan dalam rangka kemerdekaan melainkan dalam rangka acara sekolah yang wajib dilakukan.. ke curug cinulang.. hehehehehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat..dan sangat berkesan ^_^
      itu hanya kebetulan saja bertepatan di moment kemerdekaan.

      Hapus
  8. Mungkin karena para wisatawan yang membuang sampah sembarangan juga bisa memancing adanya babi hutan keluar , bener gx mba?heu
    jadi pengen ke garut nih , indah pemandangannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satunya benar mas. sebelum nanjak kamipun banyak mendapat wejangan dari warga sekitar :)
      Saya pernah dengar kalo garut dpt julukan Swiss Van Java

      Hapus
  9. Assalamualaikum..Mbak Siti...
    Sayang ya mbak...gunungnya nampak gundul. padahal tergolong tinggi, 2 km lebih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh
      sangat disayangkan melihat kondisi gunung saat ini, terlebih di musim kemarau yg berkepanjangan

      Hapus
  10. Seru perjalanannya ya, mba. Makin cinta Indonesia karena banyak alam yang belum dijelajahi, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sayapun demikian semakin jauh menapaki sudut tempat di negeri justru semakin jatuh hati akan panorama dan segala keindahannya

      Hapus
  11. pasti moment ini tak bisa dilipakan ya mbak,hehe secara suasananya pasti beda banget,pasti seru deh bisa ngerayain HUT RI di gunung kek gitu.hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupss jadi moment2 yg sangat berkesan, menjelajahi gunung di moment tertentu memberikan nuansa yg berbeda

      Hapus
  12. wah saya selalu salut sama para pendaki gunung kalian keren.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg keren itu pendaki yg bertanggung jawab, karena sekarang gunung lebih banyak di isi perusak alam. :(

      Hapus
    2. ooo gt y mbak hehe saya malah gak ngeh sama gunung" hehe pizzz

      Hapus
    3. saya pun demikian lebih banyak tahu dari web :)

      Hapus