Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Jumat, 02 Juni 2017

Cegah, Deteksi dan Obati Gangguan Fungsi Tiroid

Ketika melihat benjolan cukup besar pada leher, sudah sepatutnya harus segera di periksakan. Karena bisa jadi ada gangguan dalam fungsi organ tubuh tepatnya Tiroid. Tanda dan gejalanya memang tidak spesifik karena kerap kali disalah artikan tanpa disadari keberadaannya.

Tiroid merupakan kelenjar endokorin dengan diameter sekitar 5cm yang menghasilkan hormon tiroid. Bentuknya menyerupai kupu-kupu terletak di leher depan bagian bawah. Beberapa mekanisme yang dipengaruhi oleh hormon Tiroid seperti aktifitas metabolisme tubuh, produksi panas tubuh, sikap dan perilaku, pertumbuhan dan perkembangan serta fungsi saluran cerna.



Waspadai dan Kenali Gangguan Tiroid

Dalam rangka memperingati Pekan Kesadaran Tiroid International yang pertama kali dicanangkan di Jerman sejak tahun 2009. Bersamaan dengan itu ialah peluncuran buku saku 'Waspada Gangguan Tiroid', bertempat di Gedung Prof. Sujudi, Kementerian Kesehatan RI Jakarta pada 26 Mei 2017 diadakan workshop untuk mengenal lebih jauh gejala gangguan Tiroid yang telah menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak menderita Tiroid di Asia Tenggara.




Adalah Dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowatu, MM, selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI mengatakan "gangguan yang menyerang kelenjar tiroid bisa beragam, dapat berupa hipotiroid adalah kekurangan hormon tiroid, dan bisa juga hipertiroid kondisi dimana kelebihan tiroid atau autoimun."


Waspadai gangguan Tiroid, meski tergolong dalam jenis penyakit tidak menular tapi bisa menyebabkan kematian dan gangguan organ lainnya. Fatalnya, jika lambat penangannya gangguan tiroid akan menyebabkan kelainan bentuk strauma (pembesaran kelenjar) atau nodul (terkesan jinak bahkan sering tanpa gejala), peradangan bahkan hingga menyebabkan kanker.

Gangguan Tiroid serius dapat mempengaruhi kualitas hidup dan keseharian hingga berdampak pada psikologis. Tidak hanya menyerang orang dewasa, gangguan tiroid ini bahkan bisa terjadi pada usia anak-anak tidak terkecuali pada bayi yang baru lahir.

Dr Arman Bhakti Pulungan, Sp(A)K FAAP, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan "Bayi yang lahir dengan keterbelakangan mental dan cacat fisik kini semakin banyak salah satu penyebabnya adalah hiportiroid bawaan, yang biasanya akan terlihat normal sampai usia 3 bulan atau memiliki gejala klinis yang ringan." Sangat penting untuk segera tanggap dan mengidentifikasi gejala tiroid ini sebab setiap anak biasanya mengalami gejala dan membutuhkan pengobatan yang berbeda.



Sebagian besar bayi dengan hipotiroid bawaan tampak normal saat lahir namun sudah patut waspada ketika bayi susah makan atau malas menyusu, lesu, susah buang air, perut dan lidah membesar, kulit tampak kuning sampai terlihat kurang aktif. Memang tidak ada penyebab yang spesifik dari penyakit ini. Kemungkinan pengaruhnya ada pada masa kehamilan Sang Ibu, seperti penggunaan obat-obatan yang menekan produksi hormon tiroid saat hamil. Selain itu, kadar yodium yang berlebihan saat masa kehamilan juga dapat menimbulkan gangguan. 

Dan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya gangguan tiroid pada anak, semestinya orangtua segera melakukan pemeriksaan pada bayi baru lahir ketika memasuki usia 3-5 hari dengan skrining fungsi tiroidnya dan dilanjut 2 minggu kemudian dengan tes konfirmasi. Jika tidak segera ditangani ketika menemukan gangguan, maka bisa mengakibatkan keterbelakangan mental serta terhambatnya pertumbuhan fisik, pergerakannya, pendengaran hingga beberapa fungsi lainnya.

Tidak jauh berbeda, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Dr. Eni Gustina ,MPH mengatakan "Bayi yang terlahir dengan gangguan tiroid akan memperhambat pertumbuhan otak dan tulang anak. idealnya anak dilakukan pengecekan gangguan tiroid pada usia 48-72 jam pasca kelahiran, jika dilakukan lebih cepat dari waktu tersebut kemungkinan anak masih memiliki tiroid dari ibu."

Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) itu adalah satu satu cara untuk mendeteksi hormon tiroid, adapun prosedurnya yakni dengan pengambilan darah melalui tumit bayi. Jika terindikasi maka harus segera dilakukan pengobatan dan pencegahan agar anak nantinya tidak cacat seumur hidup atau menyebabkan kematian. Tidak bisa dipungkiri masih sangat sedikit masyarakat yang sangat awam dengan informasi ini hingga mengabaikan dan akhirnya terlambat. Belum lagi fasilitas dan tenaga kesehatan untuk melakukan pengecekan tiroid pasca kelahiran belum memadai secara maksimal.


Dr. Roy Panusunan Sibarani, MD, Internist-Endocrinologist sebagai tenaga medis di RS pertamedika, Sentul city-Bogor menerangkan "Bahwa hormon tiroid ini memiliki peran sangat penting karena bermulanya kinerja sel dalam metabolisme tubuh. Sehingga jika terjadinya gangguan fungsi akan mepengaruhi kinerja organ tubuh tidak berjalan dengan baik hingga menyebabkan infeksi" Penyakit Tiroid atau orang kerap menyebutnya sebagai penyakit gondok digolongkan dalam dua macam yakni kelenjar tiroid yang berlebihan (hipertiroidisme) umumnya disebabkan oleh penyakit Graves. Kelenjar Tiroid berkurang (hipotiroidisme) disebabkan kurangnya yodium. Keduanya akan memicu pembengkakan kelenjar tiroid sehingga tampak fisik adalah benjolan yang membesar di area leher.

Penyakit gangguan tiroid ini dapat menyerang siapa saja diawali dari awal kandungan hingga usia lanjut, akan tetapi kaum wanita memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan pria. Resiko yang bisa dialami wanita hamil misalnya menyebabkan hamil anggur banyak orang menyebutnya, padahal itu merupakan satu dari gangguan kehamilan yang harus diatasi. Dan dampak lainnya adalah keguguran, kelahiran prematur hingga menimbulkan gangguan pertumbuhan bayi dan anak.



Mari bersama Wapadai gangguan Tiroid, dengan mencegahnya melalui beberapa tindakan seperti skrining hiportiroid  kongenital untuk selamatkan generasi bangsa, kenali gangguan tiroid dan gejalanya serta sebarkan informasi atau pengetahuan gangguan tiroid dan gejalanya.


Jangan diabaikan, segera deteksi dengan mendiagnosanya melalui konsultasi ke dokter, diagnosa dengan penilaian mandiri atau melalui tes darah. Beberapa gejala tiroid hipertiroid (sering merasa cemas, tangan serta jari sering gemetar, denyut jantung menjadi lebih cepat, lebih sering berkeringat dan lemas). Atau gejala hipotiroid (sering merasa lelah dan mengantuk, kurang konsentrasi, Rambut dan kulit tampak kering serta pucat, negative thinking hingga depresi, dan denyut jantung melambat).

Obati gangguan tiroid, meski tegolong gangguan seumur hidup, tapi bisa ditangani dengan penanganan yang tepat, pengobatan efektif tanpa biaya yang tidak mahal. Perlu berkonsultasi ke dokter dan melakukan cek laboratorium TSHs maupun FT4 sesuai saran dokter. Jangan lupa atur pola gaya hidup tepat dan wujudkan gerakan masyarakat Indonesia hidup sehat.

20 komentar:

  1. Ngeri kalau berpengaruh besar seumur hidup. :( Semoga banyak Ibu yang segera menyadari ini. Karena masih banyak yang belum tahu info seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba semoga saja lebih banyak yg aware dan perduli

      Hapus
  2. Intinya memang pengaruh dari pola hidup, ya? Segala macam penyakit bisa dicegah dari pola hidup yang sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tepat sekali, utk itulah pemerintah menyuarakan Germas

      Hapus
  3. Duh harus segera cek darah nih mbak. Makasih ya informasinya

    BalasHapus
  4. Aktual! Yuk kita waspadai gangguan tiroid sejak dini!

    BalasHapus
  5. Takut. Mencegah Lebih baik .dampak tiroad Kaya diabetes semua organ tubuh Kena. Semoga Kita terhindar dari penyakit tsb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin ya Allah
      semoga kita selalu dilimpahi kesehatan

      Hapus
  6. Iya, kadang kalau sudah parah baru kita berobat, terima kasih sharingnya bermanfaat sekali

    BalasHapus
  7. makasih sudah mengingatkaaan

    BalasHapus
  8. Makacih sharingnya y Mba Siti,bermanfaat sekali..

    BalasHapus
  9. Masih berlaku kan lebih baik mencegah daripada mengobati, walupun berobat gratis mending sehat. Semoga kita semua bisa terhindar dari berbagai penyakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, iya mba lebih baik mencegahnya karna sehat itu sangat berharga

      Hapus
  10. Gondongan ternyata bahaya ya. Anakku udah 2x kena nih, tapi sembuhnya cepet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo tiroid Gondok mba, aga beda :)

      Hapus