Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Jumat, 26 Agustus 2016

Jelajah Masjid Cheng Hoo Surabaya Yang Menyerupai Kelenteng


Ketika bertandang ke Surabaya, tidak lupa saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Cheng Hoo, berlokasi di Jl. Gading no.2 - Genteng dan berjarak sekitar 1 km di sebelah utara Balaikota Surabaya. Sebuah bangunan monumental peradaban sejarawan seorang pelaut islam Tiongkok (Yunan) yang singgah di Pulau Jawa.

Pada abad ke 15 di masa Dinasti Ming (1368-1643) Laksamana Cheng Hoo alias Sam Poo Kong yang diutus Yung Lo untuk mengunjungi kerajaan Majapahit. Kesempatan ini dipergunakan nya untuk menyebarkan agama Islam. Nama Sang Lakmana ini kemudian diabadikan menjadi nama masjid.



Jika melihat sekilas bangunan ini sangat mirip dengan kelenteng yang ternyata gagasan pembangunannya ditujukan untuk menunjukkan identitas sebagai muslim tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia serta untuk mengenang leluhur warga tionghoa yang mayoritas beragama Budha. 

Inilah salah satu keunikan dari Masjid Cheng Hoo yang memiliki arsitektur menarik memadukan budaya Islam, China dan Jawa. Hal ini tampak pada dominasi warna merah, hijau dan emas. Secara keseluruhan Masjid Cheng Hoo Indonesia berukuran 21×11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11 x 9 meter. Pada sisi kiri dan kanan bangunan utama tersebut terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Menurut informasi, bahwa setiap bangunan Masjid Cheng Hoo Indonesia ini memiliki arti tersendiri. Misalnya ukuran bangunan utama yang memiliki panjang 11 meter menandahkan bahwa Ka’bah saat dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter. Sedangkan lebar 9 meter pada bangunan utama ini menunjukan keberadaan walisonggo. 

Pintu gerbang dari masjid ini juga menyerupai Pagoda. Terdiri dari dua tiang yang dicat merah. Pada bagian luar tepatnya di sisi kanan dan kiri terdapat ukiran dengan berbahasa Arab. Pada bagian atas setara dengan tulisan nama masjid terdapat hiasan-hiasan indah. Di area Masjid Cheng Hoo ini juga terdapat prasasti tiga bahasa, Indonesia, Mandarin, dan Inggris. Yang menjelaskan tentang sejarah Laksamana Cheng Hoo dan sejarah berdirinya masjid ini.

Selain itu pada bagian atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (pat kwa), angka delapan dalam bahasa tionghoa disebut Fat yang berarti jaya dan keberuntungan. Masjid ini juga memiliki sebuath bedug dan pemukul yang dibalut dengan sedikit kain berwarna merah. Dalam masjid ini terdapat tangga, yang dihiasi dengan atribut berciri khas tionghoa. 

Pada sisi kanan masjid terdapat relief Laksamana Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakan dalam mengarungi samudra Hindia. 

Pembangunan Masjid Cheng Hoo Indonesia dimulai dari tanggal 15 Oktober 2001, di awali dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri oleh sejumlah tokoh tionghoa Surabaya dan sejumlah toko masyarakat jawa timur. Rancangan awal Masjid Cheng Hoo Indonesia ini diilhami dari bentuk Masjid Niu Jie Di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. 

14 komentar:

  1. Bagus banget ya tempatnya, bisa jadi tempat referensi kalau saya ke surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Unik dan khas mba, cukup monumental menurut saya

      Hapus
  2. Surabaya ooh surabayaa..
    Kapan aku bisa kesanaa..xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo lha..ga sampe seharian naik kereta

      Hapus
  3. Surabaya, Semarang dan daerah-daerah nun jauh disana pasti deh banyak banget peninggalan-peninggalam kultur china.
    dan itu gue banget .

    BalasHapus
  4. Jadi inget dulu suka sholat teraweh dan iktikaf di masjid ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah...bersejarah bgt pasti ya mba. Sayang saya hanya bs singgah sebentar

      Hapus
  5. Ini pernah masuk di acara jalan-jalan TV swasta, sayang mba tempatnya kurang terawat ya kalau tak lihat.. *penerintah mana pemerintah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luas areanya memang ga terlalu besar mba, tapi hampir semua org surabaya tau sih tempat ini

      Hapus
  6. WAh bagus banget mbak masjidnya :-)
    Masya Allah..
    bisa jadi refrensi nih kalau ke Surabaya..

    BalasHapus
  7. sayang, 2 tahun lalu saya tinggal di surabaya ga sempat ke sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dilain kesempatan, masih bisa berkunjung :)

      Hapus