Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Senin, 15 Februari 2016

Napak Tilas Bangunan Bersejarah di Sudut Jakarta


Berkesempatan turut serta napak tilas menelusuri bangunan-bangunan bersejarah di salah satu sudut Jakarta. Bersama team Jelajah masjid part.5 komunitas Backpacker Jakarta. Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Masjid Jami Kampung Baru, beralamat lengkap di Jl. Bandengan Selatan No.34 Rt 012/ Rw 05 Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora Jakarta Barat lokasi berdekatan dengan shalter busway Bandengan Pekojan.
Luas bangunan sekitar 400 M2 dan kemudian di perluas menjadi 1.060 M2 denah masjid ini berbentuk persegi dengan atap berbentuk limas bertumpuk menyerupai tipe masjid dengan gaya pendopo jawa. Didirikan sekitar tahun 1743 Masehi oleh orang-orang imigran islam dari India bersama kaum moor  yang telah menempati area Pekojan sejak abad ke-17. Masjid tua yang merupakan bangunan kedua yang didirikan setelah bangunan masjid sebelumnya di rasa cukup sempit untuk menampung jama’ah orang-orang Moor kala itu.Saat ini bangunannya sudah tidak lagi asli, hanya tersisa kerangka bagian pusat yang bersegi empat, ukiran, dan beberapa pilar pada jendela.

Menyewa angkutan umum, melaju ke desinasi berikutnya yakni masjid Luar Batang berada di tengah kampung padat penduduk pemukiman berlokasi di daerah pasar ikan. Mengenai cikal bakal penamaan masjid tersebut ada beberapa versi yang santer beredar adalah kisah Al-Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus yang meninggal pada tanggal 24 Juni 1756 ketika hendak dikuburkan di sekitar Tanah Abang, tiba-tiba jenazahnya sudah tidak ada di dalam "kurung batang". Hal tersebut berlangsung sampai tiga kali. Sehingga masyarakat bermufakat untuk menguburkan jenazah di tempat sekarang ini posisi berada di sisi dalam masjid. Namun kabar lain menyatakan bahwa nama tersebut di kaitkan lantaran banyak batang pohon kelapa yang tumbang di sekitar lokasi.

Beralamat lengkap di di Jalan Luar Batang V RT 004, RW 003 No. 1 Perkampungan Luar Batang, Kelurahan Ancol, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara dulunya merupakan surau kecil  yang didirikan oleh Al-Habib Husein yang berasal dari Yaman dan sanagat di segani di Batavia, beliau mendapatkan hadiah sebidang tanah beberapa puluh hektar dari gubernur Belanda sekitar abad ke-17. Sebenarnya semula masjid ini bernama An-Nur tetapi sejak peristiwa keluarnya jenazah  Habib dari kurung batang, maka dikeramatkan dan nama An-Nur diganti dengan Masjid keramat Luar Batang

Kegiatan yang kami lakukan di sana adalah mendengarkan penjelasan mengenai sejarah berdirinya Masjid luar batang, ziarah ke makan Habib Husein dan Haji Abdul Kadir seorang Tionghoa yang memeluk Islam setelah berguru pada Habib Husein dan merupakan orang kepercayaan sang Habib. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkannya sebagai sebagai cagar budaya. Bangunan masjid telah mengalami beberapa kali renovasi, kecuali  tiang pancang yang ada di aula utama masjid. Uniknya, tiang pancang ini tidak memiliki penyangga di atasnya, namun tetap berdiri tegak pengelola masjid berencana menambah dua menara masjid, untuk melengkapi dua menara yang telah ada.

Napak tilas selanjutnya tidak terlalu jauh dari lokasi Masjid Luar Batang kami menelusuri jalan sempit menuju Museum Bahari.  Awalnya gedung ini difungsikan sebagai penyimpanan rempah pada masa VOC berkuasa di Batavia. terletak di tepi Teluk Jakarta di Jalan Pasar Ikan No. 1 Sunda Kelapa. didirikan tahun 1652 oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda di Batavia. Tak jauh dari gedung utama dibangun menara yang dikenal dengan nama Menara Syahbandar dibangun tahun 1839 untuk proses administrasi keluar masuknya kapal sekaligus  pusat pengawasan lautan dan daratan sekitar.

Diresmikan menjadi Museum Bahari pada 7 Juli 1977 oleh Ali Sadikin, yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Di dalam Museum Bahari tersimpan benda-benda sejarah berupa kapal dan perahu-perahu asli maupun miniatur mengingatkan kepada kita bahwa sejak jaman dahulu negeri ini erat kaitannya dengan pelayaran dan tak terelakan sebagai negeri bahari.
Hari semakin sore gerimis mulai berjatuhan mengiringi perjalanan kami saat itu. Karena situasi dan kondisi cuaca yang tidak memungkinkan dengan sangat terpaksa destinasi selanjutnya mengejar sunset di Pelabuhan Sunda Kelapa harus di urungkan.

Tujuan wisata sejarah menelusuri bangunan fisik monumental untuk mengenal segala peristiwa yang telah lampau menjadi nilai edukasi untuk lebih jauh menelaah jejak sejarah yang masih tersimpan abadi hingga saat ini.

Sumber refrensi :
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia /Masjid-Jami-Pekojan
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia /Luar-Batang-Masjid
http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/museum-bahari-indonesia-eksplorasi-sejarah-maritim-negeri-seribu-pulau

21 komentar:

  1. Luar biasa sdh 3 abad ya berarti usianya. Sayangnya gak ada gambarnya kah mba?
    Pasti lebih menarik klo disertai gambarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya hanya ada gambar tetupdate saat ini,ketika berkunjung ke lokasi

      Hapus
  2. dilihat dari potonya seru yaaa, ish jadi pengen jenjalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuu mba, jelajahi negeri banyak tempat menarik yg patut di kunjungi

      Hapus
  3. napak tilas rame-rame gini asik bener ya mbak :)

    apalagi ke bangunan bersejarah. seru-seruan bareng temen sekaligus nambah ilmu :)

    @QuelleIdee07

    BalasHapus
  4. Saya sangat suka dengan kegiatan seperti ini. Andaikan di kota saya ada yg seperti ini. Mungkin ada, tapi saya yg tidak pernah tahu. Palingan saya kayak gini, sendiri atau berdua sama teman aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Utk menelusuri sejarah ga harus ramai-ramai ko, yg penting adalah informasi yg didapatkan :)

      Hapus
  5. serunya bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah bersama teman-teman :)
    pengetahuannya dapat,kebersamaannya juga dapat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba Alhamdulillah ada kesempatan akhirnya bisa berjalan

      Hapus
  6. Jadi kangen masa-masa kuliah dulu........ asyik ya mbak, tapi sayang cuacanya tidak mendukung mungkin lain waktu bisa diulang :

    BalasHapus
  7. kalo di Nganjuk adanya napak tilas gerilya Jendral Sudirman. Mendaki gunung, lewati lembah ehehe..

    Seru ya kegiatannya.
    @adibriza

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha..udah kaya ninja hatori.
      Wah kegiatan nganjuk ga kalah menarik

      Hapus
  8. waah.. wisata sejarah...
    asyik banget..aku udah lama ndak
    @mutmuthea

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik tentu, ga hanya bersenang-senang tapi informasi kilas sejarah pun dapat :)

      Hapus
  9. mba Siti kegiatannya seru-seru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuu..mba ke Jakarta. Mari bergabung ^_^

      Hapus
  10. Ahhh napak tilas itu selalu punya kenangan tersendiri, ya? Lama banget gak nglakuin hal seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa mba di lakuin lagi bersama keluarga :)

      Hapus
  11. Hai Siethie...
    Long time no see. Udah rame aja blog nya nih ;)
    Btw, menarik bgt ulasannya. Aku beberapa kali ikut kegiatan serupa, tp akhirnya cm mampir di memory aja :p
    Baru mau mulai nge-blog lg nih. Mudah2an bisa semangat & rajin kaya' Siethie ;)

    Mampir ya ke petualangan-sireni.blogspot.co.id

    BalasHapus