Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Sabtu, 23 September 2017

Pemenuhan Gizi Seimbang Untuk wujudkan Generasi Emas 2045

Blogger Meeting (Doc. Blogger Cihuy)

Hesteg #SaveGenerasiEmas2045 ramai diperbincangkan jagat maya twitter dan berhasil menduduki trending topic pada 19 September 2017. Hal ini terkait pada program pemerintah untuk segenap masyarakat bangsa Indonesia. Diperkirakan pada saat HUT Emas 2045 di usia negara genap 100 tahun, penduduk Indonesia akan tergolong dalam usia produktif. Generasi emas ini diharapkan menjadi generasi yang cerdas komprehensif yang produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosial antar sesama masyarakat dan alam sekitar serta memiliki adab juga perilaku unggul dan berteladan positif. 

Penyiapan generasi emas dapat dilakukan melalui pembangunan karakter yang dimulai dari keluarga. Karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembinaan tumbuh kembang serta penanaman nilai-nilai moral dan pembentukan kepribadian menjadi tempat belajar bagi anak dalam mengenal dirinya sebagai makluk sosial dan pembentukan hati nurani.


Pada sebuah pertemuan komunitas Blogger Cihuy diadakan diskusi parenting seputar generasi emas yang diselenggarakan oleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), bekerja sama dengan Komunitas #KebayaKopidanBuku bertempat di Balai Sarwono, Jl. Madrasah Raya No. 14 RT.07/RW.06, Cilandak Timur, Jakarta Selatan.

Dr Dwi Hastuti (Doc. Maliha)

Dalam sesi pertama, di isi oleh Ibu Dr. Dwi Hastuti, MSC selaku Kepala Divisi Perkembangan Anak, Departemen IKK, FEMA, IPB, dan pengelola Labschool Pendidikan Karakter IPB yang membahas tema 'Ibu Cerdas Anak Berkualitas'.

Keluarga merupakan pilar pembangunan bangsa, lingkungan pertama dan utama yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan asih, asah, asuh yang akan membentuk karakter serta kepribadian seorang anak. Sebagai peniru ulung, anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya baik itu perilaku baik ataupun buruk. Mereka umumnya mengodolakan figur apa yang dilihat dan menjadi perhatiannya.

Setiap anak pasti memiliki perbedaan karakter, meskipun terlahir dari rahim yang sama. Kepribadian seorang anak dapat terbentuk karena 2 hal yakni kebiasaan dan teladan. Dalam membentuk karakter serta sifat anak dibutuhkan kasih sayang dan bimbingan yang cukup dari kedua orang tuanya. Hal sederhana adalah kebiasaan makan bersama dimana dalam benak anak, kegiatan makan tidak semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan akan gizi yang seimbang, juga dapat dirasakan sejumlah manfaat lainnya.

Dalam sesi kedua, narasumbernya adalah    Bapak Prof. Dr. Dodik Briawan, Peneliti  di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Pangan dan Pertanian Asian Tenggara, SEAFAST CENTER IPB 2017. Dalam diskusi kali ini lebih membahas takaran gizi yang dibutuhkan anak-anak dan peran penting Ibu dalam memenuhi gizi pada anak yang akan membentuknya menjadi manusia berkualitas secara fisik, mental dan intelektual.
Prof. Dodi. B (Doc.Pri)
Anak-anak di Indonesia saat ini masih mengalami permasalahan gizi ganda, yaitu gizi kurang yang menyebabkan pendek (stunting) dan gizi lebih yang menyebabkan obesitas. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Biasanya terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat ketika anak berusia dua tahun. Data Riskesdas tahun 2010 menunjukkan prevalensi balita pendek (stunting) di Indonesia masih sebesar 35,6 persen, yang menyebabkan Indonesia menjadi negara ke-5 terbesar di dunia, yang berkontribusi pada 90 persen anak-anak stunting di dunia.

Anak stunting memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit diabetes, jantung, hipertensi, obesitas, dan stroke di usia dewasa. Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Stunting di awal kehidupan akan berdampak buruk pada kesehatan, kognitif, dan fungsional ketika dewasa. 



Sementara itu, anak-anak yang menderita gizi berlebih (obesitas) diperkirakan naik hingga 3 kali lipat. Kenaikan obesitas anak ini tak lepas dari kemudahan akses makanan. Faktor kegemukan tak sekedar pengaruh dari genetik kedua orang tua semata, tapi juga dipengaruhi asupan makanan tak sehat yang dikonsumsi. Anak-anak yang menderita obesitas ini pada akhirnya berisiko mengidap berbagai penyakit pula ketika mereka dewasa, seperti diabetes, jantung, hingga kanker.
Porsi makan balita

Dalam pertumbuhan dan perkembangan anak perlu diperhatikan sejak usia balita bahkan saat masih dalam kandungan, pemenuhan asupan gizi seimbang harus diterapkan. Kebutuhan gizi pada masa balita membutuhkan lebih banyak nutrisi karena masa balita (usia 1—5 tahun) adalah periode keemasan. Pemberian makan pada usua anak balita sebaiknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan tubuhnya. Porsi makan bayi standar dapat dilihat di buku posyandu yang diterbitkan Depkes. Porsi makan bayi 6 – 8 bulan hanya 2 - 3 sendok makan per sekali makan dan diberi 2 kali sehari, 9 – 12 bulan diberi 125 cc (1/2 gelas) sekali makan dan diberi 3 – 4 kali sehari.


Untuk memenuhi kebutuhan gizi balita, ASI memang menjadi anjuran utama namun dikala usianya yang kian bertambah haruslah dimulai beberapa asupa  nutrisi lain sebagai pendamping Mpasi. Dalam pemberian makan setiap hari harus diperhatikan 3J yaitu jenis, jumlah dan jadwal makan. 
Narasumber YLKI (Doc.Pri)
Dalam sesi ketiga, diskusi di isi oleh pembicara dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dengan mengangkat tema 'Yuk, Jadi Konsumen Cerdas'. Adalah Natalya Kurniawati, staf bidang penelitian YLKI yang menjelaskan beberapa materi. Pentinglah kiranya menjadi konsumen cerdas ketika membeli barang-barang kebutuhan. Jangan sampai terlena dengan berbagai macam promo agar pengeluaran tidak membengkak. Setidaknya belilah seauatu yang memang dibutuhkan, cari tahu dahulu kandungan gizi dan informasi penting lainnya berkaitan dengan produk dan jasa.

Semua elemen masyarakat sebagai seorang konsumen harus bisa menjadi konsumen cerdas dengan memahami perlindungan konsumen, teliti, juga cermat dalam memilih setiap produk yang akan dikonsumsi. Selain itu, setiap Konsumen juga harus memahami hak dan kewajibannya bagi seorang konsumen : 
- Hak kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam berkonsumsi
- Hak utk memilih barang/jasa
- Hak mendapat informasi yang benar, jelas dan jujur
Hak memndapaat advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa
- Hak upaya mendpt pembinaan dan pendidikan
- Hak diperlakukan atau dilayani secara benar

Tanggung jawab sebagai seorang konsumen juga harus memperhatikan beberapa hal sebelum membeli produk barang atau jasa :
1. Teliti sebelum membeli, selalu perhatikan kartu manual dan kartu garansi, label hingga tnggal kadaluarsa 
2. Pastikan bahwa produk sesuai dengan standar mutu K3L (Kegiatan, Kesehatan, Keselamatan dan lingkungan).
3. Belilah barang sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai keinginan.



Selama ini masih banyak, masyarakat yang kerap keliru terhadap asumsi susu kental manis yang dikonsumsi. Sebagaimana dalam keterangan singkat Bapak Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, mengatakan bahwa "SKM bukanlah susu yang tepat untuk konsumsi minum anak. Sebenarnya SKM lebih tepat digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengolah atau pelengkap makanan."



Mengamini pernyataan hal tersebut, pihak YLKI pun menyatakan bahwa "Kandungan gula di dalam SKM sangat tinggi, kurang lebih 40-50 persen, dan jika diberikan kepada anak-anak akan sangat berbahaya, bisa menyebabkan diabetes di usia sangat muda, obesitas, bahkan dan menyebabkan anak kekurangan gizi karena SKM rendah kalsium dan protein."

Saat ini, mulailah perhatikan asupan gizi yang akan dikonsumsi bagi diri terlebih pada usia anak balita agar tumbuh kembangnya proporsional dan baik.

Bagi masyarakat yang membutuhka n informasi dan keluhan dalam posisi konsumen bisa klik melalui web www.ylki.or.id atau melalui e-mail: konsumen@ylki.id .

18 komentar:

  1. YLK emang bagus kalo mau liat tumbuh kembang si kecil, kalo tahun 2045 masih lama ehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peran YLKI sebagai lembaga perlindungan konsumen memang berpengaruh banget

      Hapus
  2. saya perlu simpan gambarnya mbak soalnya saya punya anak umur lima tahun dan lagi senang-senangnya makan tapi mungkin porsinya salah karena tubuhnya masih kecil dan kurang bersemangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan mba :)
      Semoga apa yg disampaikan memberi manfaat

      Hapus
  3. Wah perlu diperhatikan memang pola makan anak, agar tumbuh kembangnya seimbang. Kalau terlalu gemuk (obesitas) ga bagus juga. Kalau terlalu kecil (pendek) juga kasihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat. Yg berlebihan ga bagus, begitu juga klo kurang. Memang harus seimbang dlm asupan gizi

      Hapus
  4. Adik sepupuku dulu waktu umur 2 tahun minum SKM, mb. Jelas suka karena emang rasanya manis. Sampe akhirnya di dokter anak diingatkan. Tante langsung stop kasih SKM lagi. Sekarang sepupuku udah 20 tahun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah kaprah yg banyak terjadi di tengah masyarakat. Bahkan dokter pun sudah melarang

      Hapus
  5. Obesitas, masalah kita saat ini ya dari pola makan yg tidak teratur gizinya hingga jajan sembarangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat sekali. Terlebih era sekarang banyak bgt makanan enak. Tp minim gizi

      Hapus
  6. Calon ibu juga perlu nih pengetahuan ttg gizi yang seimbang untuk keluarga terutama untuk anaknya nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe..iya mak, ini sepertinya mencakup berbagai kalangan juga

      Hapus
  7. Yayasan Lembaga Konsumen, ya. Crk ah nanti ada apa aja di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuu..kita gali dan cari info sebanyak2nya

      Hapus
  8. Nonton tv film kartun Sambil Nyemil Dan kurang bergerak bisa bikin obesitas. Kasihan kalau sampai obesitas. Bawaan cape kalau kemana mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Efek kurang gerak ga baik juga utk kesehatan

      Hapus
  9. Anakku sering minta SKM coklat, sekarang sudah ga aku kasih lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlebih setelah tau kandungan yg ada di dalamnya ya Mba

      Hapus