Laman

Selasa, 09 September 2014

Ekspesdisi ke Cikuray 2821 mdpl (Part.II)

Melanjutkan cerita sebelumnya, setelah beritirahat dari keletihan melawan dingin malam berselimutkan sleeping bag, jam 2 dini hari kami bersiap-siap untuk menuju puncak agar bisa menyaksikan matahari pagi menyambut dunia dari tanah tertinggi di Cikuray.
Perjalanan kurang lebih 2 jam dari pos bayangan tempat kami mendirikan tenda. Bermodalkan senter/ headlamp kami menembus pekatnya malam melawan dinginnya angin terus mencari pijakan yang sekiranya cukup aman untuk di tapaki, tetap waspada karena suasana masih sangat gelap. 

Sesekali beristirahat, saat hendak mencapai tujuan di buatnya kami takjub dengan langit malam berhiaskan banyak bintang, kami rekam dalam memori ingatan. Setelah penuh perjuangan, akhirnya kami tiba ke tujuan, pucak. Wuahh..ada rasa bangga, haru menyergap saat menyaksikan panorama ketika sang fajar hendak terbit. Dan saat itu suasana sudah sangat ramai sekali, mencari-cari area lalu menunaikan shalat subuh. Meskipun riuh ramai, ada kekhusyuan, kenyamanan dalam relung hati di kala bisa bersujud kepada-NYA di alam tebuka.

Bergabung bersama yang lain menanti keindahan detik-detik mentari pagi yang hendak menyapa dunia, dengan samudra awan bak permen kapas, sebuah kekaguman yang tak dapat digambarkan hanya sekedar lewat kata. Sungguh indah maha karya-Mu, Tuhan. 
Setelah menyaksikan mentari terbit, saya dan yang lain menyusuri sekitaran puncak cikuray dengan berbagai sudut pemandangan yang berbeda. Dari puncak Cikuray terlihat gunung papandayan dan ciremai.
Yang tak kami siakan tentu saja mengabadikan moment-moment bersama di puncak Cikuray, ada senyum puas dan rasa syukur setelah melewati perjalanan dan perjuangan yang memang tidak mudah.
Di puncak Cikuray terdapat sebuah bangunan, mungkin semacam tugu, sedihnya masih banyak orang-orang tidak bertanggung jawab yang melakukan vandalisme (mencoret-coret bangunan tersebut, padahal setahu saya bangunan itu baru saja di cat kembali oleh orang-orang yang memang pecinta alam) usaha mereka sama sekali tidak di hargai oleh orang-orang egois yang tidak dapat memahamai eksistensi menjaga lingkungan.
Sekitar jam 06.30 kami turun dari puncak untuk kembali ke tempat camping mempersiapkan makanan lalu berkumpul bersama, acara ramah tamah, tukeran kado lalu packing untuk turun gunung.

Ya, perjalanan turun pun tidak mudah. Selain jalurnya yang sempit pun curam jarang sekali menemukan jalur yang datar. Tak satu-dua orang diantara kami yang terjatuh. Sungguh kaki lemas dibuatnya. Ya, meskipun dengan susah payah, akhirnya kami dapat kembali turun, berkumpul bersama di sebuah warung di pos pemancar.

Selepas Ashar, mobil pick up yang di sewa berangkat mengantar kami menuju terminal Garut. Di atas mobil pick up sendiri kami harus rela berdesakan menahan kaki yang keram kurang lebih hampir 2 jam.

Perjalanan kami pun selesai, di terminal Guntur kami berpisah, karena memiliki tujuan yang berbeda. Saya dan beberapa yang lain mendapat bus terakhir ke Jakarta- kampung Rambutan. Meski harus duduk seadanya di samping sopir yang tak ada sandarannya, alhasil mata yang ngantuk tidak membuat saya bisa tertidur pulas. 

Tiba di terminal Kampung Rambutan, menjelang dini hari. Dan satu yang pasti ke esokan paginya saya tidak bisa bangun dari tempat tidur terlebih kaki menjadi keram dan sulit dibawa berjalan.

Melakukan ekspedisi, perjalanan, pertualangan ke gunung memang sangat melelahkan tak sedikit yang menyatakan itu hanya sebuah perjalanan sia-sia. Namun, sebuah rasa rindu untuk kembali bisa menapakinya hanya bisa di rasakan bagi mereka yang pernah melakukannya.
Pemandangan seperti inilah yang sangat dirindukan untuk bisa kembali melihat panorama alam, lukisan indah Sang Kuasa. 
Sejatinya pendakian ke gunung tak hanya sekedar mengejar puncak atau menikmati mentari pagi. Tapi lebih dari itu adalah rasa kebersamaan untuk saling bahu membahu, beriringan mencapai tujuan. Saya selalu mengaitkan pendakian gunung sama halnya seperti filosofi sebuah kehidupan.
Untuk mencapai puncak tertinggi, diperlukan perjuangan, pengorbanan yang tak mudah. Adakalanya terjatuh jalan berliku dan terjal, namun dengan kesungguhan hati apa yang menjadi tujuan akan di gapai. Meski harus tertatih, meski harus menunggu dan tetap harus bersabar.
Untuk para pendaki, cintailah alam sebagaimana seharusnya. STOP VANDALISME, GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH. Tinggalkanlah jejak sebagai manusia beradab. Alam negeri ini terlalu indah jika harus di kotori oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Semua harus ada keseimbangan hidup. Jangan salahkan alam jika suatu hari kelak menunjukan  taringnya menguai kemarahan karena sikap-sikap kelalaian manusia yang tidak bisa menjaga alam sebagaimana seharusnya.

5 komentar:

  1. Pemandangan yang indah...sesuai dengan perjuangan untuk mendapatkannya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener sekali mas Bro..ya,,seperti itulah utk mendapatkan hal indah dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah :)

      Hapus
  2. Subhanalloh... pemandangannyaaaa :) suka banget lihatnya, tapi aku gak berani naik gunung hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang keren banget. Wuahh..apalagi kalau liat langsung...semakin kagum dgn Kekuasaan Allah yg Maha Besar :)

      Hapus
  3. Ingat jaman kuliah, Gunung Cikuray dan Papandayan biasanya jadi satu paket perjalanan :)

    BalasHapus