Laman

Senin, 08 September 2014

Ekspedisi Cikuray 2821 mdpl (Part. I)

Inigin berbagi cerita lagi, seputar petualangan saat mendaki di dua pekan terakhir bulan Agustus lalu. Tujuannya adalah gunung Cikuray dengan ketinggian 2821 mdpl.

Gunung Cikuray termasuk sebagai gunung yang tidak aktif dan identik dengan bentuknya yang menyerupai kerucut raksasa. Oleh karena itu, berdasarkan karakteristik bentuknya, di gunung ini sulit ditemukan mata air sepanjang perjalanan menuju puncak. Merupakan Gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat, setelah Ciremai (3.078 mdpl), Pangrango (3.019 mdpl), Gunung Gede (2.958 mdpl).
http://siethie.blogspot.com
Menurut para ahli sejarah, Gunung Cikuray awalnya bernama Srimanganti. Di lereng gunung zaman dahulu terdapat mandala ( pemukiman para pendeta). Di tempat inilah kerajaan tulis menulis berlnagsung, banyak naskah sunda yang dituliskan saat itu dan masih di teliti oleh para sejarahwan. Oke..karena cerita kali ini adalah membahas seputar perjalanan dan petualangan selama ke cikuray jadi tidak menjabarkan terlalu rinci seputar gunug cikuray tersebut.

Titik awal pertemuan di masjid terminal Kp. Rambutan. Jujur saya sendiri baru bertemu dengan yang lain pada hari itu. Sedangkan yang lain sudah saling mengenal karena tergabung dalam suatu komunitas. Dan wahh.. yang membuat saya salut mayoritas mereka adalah akhwat. iya,,akhwat dengan penampilan syar'i dengan rok dan jilbabnya yang panjang. Jujur sempat minder sebelumnya.

Jam 10 malam bus yang mengantar kami berangkat, menuju Garut. Karena kelelahan sepanjang jalan saya hanya tertidur dan ketika membuka mata sudah sampai di terminal Garut sekitar jam 3 dini hari jika tidak salah. Lalu kami pun menuju ke basecamp. untuk melengkapi keperluan lainnya.

Melaksanankan shalat subuh terlebih dahulu dan tepat jam 06 pagi kami berangkat ke kawasan Cikuray, dengan menyewa mobil semacam ELF (angkot) dan angkot biasa. Perjalanan pun dimulai dengan ala kadarnya, pun harus makan pagi di dalam mobil.

mengawali Perjalanannya melalui desa Dayeuh Manggung kecamatan Cilawu, Garut yang kabarnya akses jalan lebih mudah dibanding jalur lainnya. Sekitar 1-2 jam kami tiba di kaki gunung cikuray, perjalanannya yang sangat menanjak membuat mobil sulit sakali untuk berjalan. Hamparan kebun teh menyegarkan mata dengan warnanya yang hijau. Kabut tebal menambah dingin suasana kala itu. Dan ada insiden tidak mengenakan terjadi saat dimana problem di angkot ELF di rombongan lain yang tiba-tiba tidak kuat menanjak lalu berjalan mundur ke belakang hampir-hampir menabrak kami yang ada di mobil angkot lainnya. Jika saja tidak ada selokan mungkin mobil itu bisa terjatuh ke jurang. Namun, kejadian tersebut sempat melukai salah seorang diantara kami karena hampir telat menyadari mobil yang berjalan mundur itu. Syukur Alhamdulillah tidak ada kejadian fatal.

Akhirnya perjalanan di lanjutkan dan kami putuskan untuk berjalan kaki saja ke kaki gunung di pos pemancar. Sebelum memulai pendakian sebagaimana biasanya, dilakukan doa bersama untuk segala kelancarannya. 
Mendata diri dahulu di pos pemantau Gunung Cikuray...melewati hamparan kebun teh yang luas. Track-track awal masih bershabat karena kami di suguhkan pemandangan yang sangat indah. jalan setapak dengan hamparan kebun teh yang luas setalahnya akan dijumpai jalur dengan bukit ilalang. Beberapa meter diatasnya perjalanan sudah mulai berat, di setiap sisi hanya hutan-hutan lebat, trackingnya yang super dahsyat karena struktur gunung yang memang sangat mengerucut tersebut, dengan kemiringan sekita 45 derajat. Benar-benar memacu adrenalin. ke tangkasan sangat dibutuhkan dalam pendakian kali ini. Harus berpegang dengan akar-akar pohon yang menjalar. istilah pendakian 3D (Dengkul, Dada, Dahi) benar-benar berlaku di sini, adakalanya harus merayap karena kaki yang sudah mulai kelemasan dan lelah dari struktur tanah yang terus saja menanjak.Belum lagi kabut, sampai-sampai lensa kamera saya pun berembun.

Selama perjalanan entah sudah berapa coklat yang kami habiskan untuk menambah energi (sampah kami simpan di daypack),miris juga melihat banyak sampah berserakan di sepanjang jalur pendakian. Track cikuray yang terlalu banyak menanjak benar-benar membutuhkan tenaga ekstra, sehingga kerap kali membuat lutut lemas. Perjalanan yang unik dimana beberapa kali menemukan pendaki yang tertidur saat beristirahat di beberapa jalur.

Lokasi dari 1 pos ke pos lainnya sungguh berjarak, dan sumber mata air hanya terdapat di dekat pos 2. Itulah sebabnya kami membekali diri dengan persediaan air minum yang lebih. Sempat terpisah dari kelompok, mendapat bantuan dari tim pendaki lain, itulah hal yang menyenangkan dari yang namanya pendakian gunung, semua bisa saling tolong menolong walau tidak mengenal sama sekali. Untuk pendakian normal butuh waktu 7-8 jam hingga sampai ke puncak Cikuray.

Jarak tempuh saya dan beberapa teman mungkin lebih lama, karena kebanyakan istirahat selama pendakian. Biarlah yang terpenting sampai ketujuan dalam keadaan baik-baik saja. Teman-teman yang lain sudah membuka tenda di pos 6 bahkan sudah sempat memasak, namun ada perubahan dimana lokasi camping dipindahkan ke atas lagi berdekatan dengan pos 7, biasanya lebih di kenal dengan pos bayangan. 

Yaa,,pada akhirnya tenda yang sudah berdiri mesti dibongkar kembali, menembus gelap karena saat itu sudah jam 06 sore jika tidak salah. Wahh,, rupa-rupanya jarak yang kami tempuh lumayan cukup jauh dari tempat camping sebelumnya. Meski lelah menggelayuti dengan Carrier yang masih di punggung, segera kami bangun kembali tenda untuk bisa beristirahat segera.

Yupp..sekiranya ketika semua sudah beres kami makan dahulu sebelum tidur. Senyum dan tawa bersama tim di tenda saat makan malam kala itu melebur rasa lelah. Kami pun berniat untuk tidur tidak terlalu malam agar bisa menanjak kembali dini hari nanti menuju puncak, agar bisa menyaksikan sang surya terbit di hamparan samudra awan yang kabarnya cikuray adalah salah satu tempat untuk menyaksikan sunrise dengan indah.
 
Kisah selanjutnya, akan saya lanjutkan di posting berikutnya.
To be Continue . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar