Laman

Rabu, 15 Januari 2014

Makna Hidup Dari Sebuah Perjalanan

Ilustrasi gambar cerpen (sumber : Pinterest)
 
            Malam kian larut, Alfian memasukan motor besar nya di garasi, seperti kebiasaannya ia selalu pulang menjelang dini hari setelah mengikuti balap liar bersama teman-temannya.
            ‘Click’ suara saklar dinyalakan. Lampu ruang tamu yang semula padam menjadi terang benderang, dan sosok sangar sang papah sudah menanti kedatangannya seakan ingin menelannya bulat-bulat.
            “Dari mana saja kamu ??!!” Hardik sang papah
            Dengan cueknya Alfian menjawab “Apa perduli Papah”
            “Kamu ini lancang sekali !! hidup masih ditanggung orang tua sudah berani melawan kamu” Papah Alfian semakin murka
            “Orang tua seperti apa dulu yang mesti dihormati”
            Dan tanpa diduga sebuah tamparan mulus mendarat di wajah putih Alfian.        
          “Mau jadi apa kamu jika seperti ini terus. Pulang larut malam tanpa tujuan yang jelas, kuliah sering bolos. Tidak ada rasa bersyukurnya sama sekali kamu, Mamah Papah kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu, kebahagiaan kamu” sang Papah semakin murka
            “Kebahagiaan seperti apa yang Mamah Papah berikan ? sejak Alfian kecil, mamah dan papah selalu sibuk bekerja, apa kalian mengerti kemauan Alfian. Bukan keluarga seperti ini yang Alfian harapkan Pah..” Alfian berkata sinis kemudian pergi meninggalkan rumah membawa motor besarnya.
            Motor Alfian menderu memecah pekat malam ibu kota, ia mengendarainya dengan kecepatan tinggi, di balik helm yang digunakan ia menangis. Alfian seorang anak tunggal dari orang tua yang super sibuk, ia tumbuh sebagai remaja yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua. Selama ini ia disuguhkan akan kemewahan dan materi melimpah dari kedua orang tuanya, namun sesungguhnya bukan itulah yang ia inginkan. Sejak dahulu ia sangat mendambakan keluarga yang harmonis yang selalu ada untuknya.
            Hatinya pilu, kerontang akan perhatian hingga tak heran ia mencari kebahagiaan semu bersama teman-temannya. Minuman keras dan balap liar itu sudah menjadi santapan sehari-harinya. Tapi, ia tetap berusaha membatasi diri dengan yang namanya obat-obatan terlarang, bukan tidak mau bahkan ia pernah hampir terjerumus dalam lembah nista itu.
            Malam itu ia tak punya arah tujuan, yang ada dalam fikirannya melajukan segera motornya menghilangkan sesak yang menggelayut dalam hatinya.
            Sinar mentari pagi hangat menyinari, embun-embun pagi beradu mesra di dedaunan. Alfian belum sempat tertidur sejak semalam, ia singgah di sebuah warung kecil memesan teh hangat. Sepertinya ia sudah jauh melangkah, tempat ia singgah cukup asing baginya. Rupa-rupanya ia sudah berada di pinggiran luar kota.
            Hari itu ia memutuskan untuk ke tempat kost teman kuliahnya, sekedar menumpang istirahat. Setelah staminanya terasa membaik Alfian melanjutkan perjalanan.
            Alfian mengetuk pintu kamar kost sahabatnya. Lama tak di buka hampir saja ia mendobraknya, tiba-tiba muncul sesosok remaja jangkung rapi berkemeja.
            “Alfian..tumben pagi-pagi sudah ke sini ??” Tanya sahabatnya itu “lo ga kuliah ?”  “Lagi cape banget nih..gue numpang tidur di sini ya? Biasa..gue nitip absen”
            “Kebiasaan lo ga pernah berubah ya..ya udah masuk, gue tinggal ke kampus ya.” Pamitnya
            Alfian segera membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur milik sahabatnya.
            “Hadii..ini kalau lo mau pake motor gue” Alfian melempar kunci sepeda motornya “STNKnya juga udah lengkap di situ”
            “Ga usah sob..! gue berangkat ya”
            “Yoi..hati-hati di jalan bro” ujar Alfian kemudian ia tenggelam dalam lelapnya
            Malam harinya, di pinggiran taman kota Alfian dan Hadi berbicang satu sama lain sambil menikmati nasi goreng keliling.
            “Lo ada masalah lagi sama orang tua lo??” Tanya Hadi
            “Gue ga ada masalah dirumah, kalo orang tua gue dinas ke luar kota atau luar negeri. Sebenernya gue tertekan banget sama kondisi begini. Sejak dulu gue ga pernah sekalipun bisa menghabiskan waktu bersama, di hidup mereka cuma kerja dan kerja ga ada pentingnya gue di mata mereka” Alfian berucap ketus
            “Lo ga boleh ngomong begitu sob. Bagaimanapun mereka itu orang tua lo, yang harus lo hormati, mereka kaya gitu pasti tujuannya buat kebaikan lo” Hadi berkata bijak
            “Ah..males gue cerita ke lo..ujung-ujungnya ceramah !! udah ah…gue pengen ke tempat track” Alfian bangkit dan hendak meninggalkan Hadi
            “Alfian..lo harus berhenti ngelakuin hal-hal ga berguna kaya begitu, ga ada untungnya juga”
            “lama-lama lo kaya bokap gue ya” Alfian jengkel dan menyalakan mesin motornya, melaju meninggalkan Hadi
            Hadi hanya bisa menghela nafas. Ia sadar betul, sesungguhnya Alfian itu adalah seorang remaja yang baik, ia hanya butuh arahan karena selama ini kurang perhatian.
            Di satu sudut rumah mewah, orang tua Alfian mulai merasa khawatir akan keberadaan putra semata wayangnya.
            “Di cari dong pah,,anak tidak pulang seharian. Di hubungi ga aktif-aktif hpnya nih” mamah mulai panik
            “Biar saja ! anak lancang seperti itu tidak patut di kasihani, nanti jika uangnya habis juga akan merengek pulang” Jawab papah sinis
            Mamah yang sejak tadi hilir mudik khawatir, duduk disamping Papah
            “Papah ini tega sekali sama anak sendiri, semua kartu-kartunya juga papah blokir. Bagaimana dia makan, bagaimana dia tidur” Ucap mamah Alfian cemas “ini salah papah anak sendiri ko di ajak berantem” tambahnya
            “Lho..mamah jangan hanya menyalahkan Papah dong, ibunya disini kan Mamah yang harusnya ngurusin anak itu” Papah jengkel dan meninggalkan Mamah yang masih terus mencoba menghubungi Alfian
            Malam itu Alfian tenggelam lagi di sebuah club malam, ia ingin meluapkan segala resahnya. Walaupun ia sadar betul kesenangan yang ia dapat saat ini hanyalah semu belaka. Ia benar-benar buntu, tak ada jalan baginya, ia merasa sendiri.
            Sedangkan di rumah mewahnya, Mamah mulai jatuh sakit karena beban memikirkan puteranya. Genap satu minggu Alfian pergi meninggalkan rumah tanpa kabar sedikitpun.
            “Pah..apa sudah ada kabar dari Alfian ?” Tanya Mamah dengan sudara parau
            “Belum Mah..tapi Papah sudah memasukan laporan orang hilang kepada polisi” Papahnya pun menjawab lesu
            “Mamah takut terjadi apa-apa sama anak kita..apalagi diluar sana banyak kriminalitas terjadi” Mamah menangis
            “Sabar Mah..Alfian pasti di temukan. Kita percayakan saja sama polisi” Papah mencoba menenangkan
            “Iya kalau masih hidup kalau ternyata sebaliknya…Mamah tidak berani membayangkan
            “Mamah jangan berfikir negatif terus, kita doakan ia dalam keadaan baik-baik saja. Ini yang akhirnya membuat mamah sakit, Mamah istirahat saja. Inget kan pesan dokter, Mamah jangan terlalu banyak fikiran.” Papah mengingatkan
            Setelah minum obat pemberian dokter, Mamah pun bisa bersikap tenang dan tertidur.
            Mentari bersinar terang kembali, menyinari alam jagad raya, ketika membuka pintu kostnya Hadi menemukan Alfian tergeletak tak berdaya usai menghabiskan beberapa botol minuman keras.
            “Alfian..kenapa kamu disini. ayo masuk..” dengan keterkejutan Hadi menanyakan perihal keberadaan Alfian dan memapahnya ke dalam kamar “lo pasti mabuk-mabukan lagi, kapan lo mau berubah !!” cecar Hadi
            Dengan setengah sadar Alfian menanggapi pertanyaan Hadi
            “gue kesepian…gue butuh sesuatu yang ngebuat gue nyaman”
            “Tapi bukan begini caranya. Lo harus ikut gue minggu depan” Perintah Hadi
            “Kemana”
            “Mendaki gunung. Dalam setiap ekspedsi langkah dan  perjalanan lo akan menemukan makna sebuah kehidupan dan ketika lo mencapai puncaknya lo akan bisa melihat kuasa Tuhan yang tiada bandingannya. Lo akan bisa mengambil hikmah kita ini tak lebih dari sebutir debu dari maha karya ciptaan-NYA. Alam selalu menjadi wadah pembelajaran hidup terbaik, percaya sama gue” Hadi menjelaskan panjang lebar
            “Tapi..gue belum pernah mendaki sebelumnya” Alfian ragu
            “Ga ada sebuah pencapaian sebelum ada permulaan. Lo harus bisa memaknai arti hidup dengan cara positif, bukan seperti yang selama ini lo lakuin”
            Alfian terdiam, berfikir
            Hari itupun tiba, Alfian memutuskan untuk ikut serta dalam pendakian. Mereka terdiri atas delapan orang termasuk Hadi dan Alfian. Sebelum keberangkatan secara sembunyi-sembunyi Hadi menghubungi kediaman keluarga Alfian dan kebetulan Papahnya yang mengangkat telepon Hadi meminta izin kepada orang tua Alfian untuk mengizinkan putranya melakukan perjalanan ke Puncak Gunung. Meski awalnya sempat tidak menyetujui, dengan sedikit pengertian akhirnya Hadi pun berhasil meluluhkan pendirian dari Orang tuanya Alfian.
            Tim Mereka akan melakukan pendakian ke Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebelum pendakian dimulai , setiap tim mengecek segala persiapan dan kebutuhan, dan tak lupa memanjatkan doa bersama.
            Perjalanan pun dimulai, itu  adalah langkah awal dan pengalaman baru bagi Alfian dan ia sangat menikmatinya. Saat itu tidak terlalu banyak tim yang mendaki, selain bukan malam 1 sura dimana biasanya puncak Gunung Lawu ramai oleh peziarah selain pendaki pastinya. Hingga beberapa jam kemudian, ketika telah mencapai ketinggian seribu delapan ratus meter dari permukaan tanah. Alfian mulai merasa kelelahan, pusing dan kedinginan. Hadi yang berada disampingnya segera menyadari itu
            “Guy’s kita istirahat dulu. Alfian Mengalami Mountain Sickness.” Pinta Hadi kepada anggota tim lainnya
            Mereka pun mencari lokasi yang sekiranya bisa dijadikan tempat istirahat. Hadi segera menyelimuti Alfian yang menggigil, dan memberikan air mineral yang dibawanya.
            “Jika kalian merasa kelelahan, jangan sungkan untuk menyampaikannya untuk beristirahat” Pesan Ferdi sebagai ketua tim, Ia sudah hafal betul medan pegunungan karena ia sudah lama berkecimpung, sebagai anggota Pencinta Alam Indonesia sejak masa sekolah.
            Ketika kondisi Alfian mulai stabil, mereka pun melanjutkan perjalanan hingga ke puncak gunung. Rasa haru dan bahagia menyelimuti perasaan Alfian, bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia bisa berada di ketinggian ribuan meter dari permukaan tanah, Hadi dan anggota lainnya segera sujud syukur telah berhasil mencapai puncak tanpa halangan berarti. Tidak lupa mereka mengabadikan moment bersama di  Tugu Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu. Menikmati matahari terbit dari puncak gunung yang tinggi akan menjadi kenangan tak terlupa bagi Alfian.
            “Hadi..terima kasih, ya telah mengajakku menjalani petualangan luar biasa ini, walaupun hampir saja aku menyerah” Alfian mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh
            “Sama-sama kawan, sekarang bisa kamu renungkan kan banyak hal luar biasa dalam hidup ini, dibanding menenggelamkan diri dalam perilaku negatif.” Jawab Hadi
            Alfian tersenyum dengan rasa haru dan pandangan matanya tak henti menatap takjub alam di sekitarnya.
            Mereka pun tak menyiakan kesempatan berjalan dan menikmati keindahan alam lainnya, seperti  di sisi barat yang terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho.
            Menjelang siang mereka pun berniat untuk turun, semula semua baik-baik saja namun di tengah perjalanan awan mendung menutupi langit tak lama setelahnya hujan turun dengan lebat dan angin bertiup kencang.
            “Guy’s hati-hati jalanan licin” Ferdi mengingatkan teman timnya
            Mereka pun menyalakan senter yang mereka bawa untuk membantu penerangan
            “Guys..gawat senter gue ga nyala. Padahal baterainya masih baru” Hadi mulai panik
            Tak jauh berbeda dengan yang lain pun, mereka mengalami hal serupa, dan senter yang masih bisa menyala adalah milik Ferdi. Dengan penerangan yang sangat terbatas Ferdi memimpin anggota timnya menyusuri jalan.
            Dengan kondisi yang gelap dan kabut yang menebal membuat pandanganpun ‘mengabur’. Alfian terjatuh, terjembab di ke pinggir lereng. Sekuat tenaga Hadi menahan dan mencoba menarik tangannya dibantu teman-teman lainnya. Situasi yang tidak kondusif semakin memperparah keadaan, Alfian semakin putus asa rasa takut akan kematian pun mebayang di sudut matanya.
            Teringat lah segala dosa dan kesalahannya selama ini, termasuk dengan orang tua bahkan terhadap Tuhan-NYA. Ah…sudah lama sekali ia tidak berdoa, ya hanya itulah yang kini di fikirannya dan bisa dilakukan.
            “Allah..jika ini adalah akhir kehidupanku tolong maafkan segala kesalahanku. Namun jika Engkau masih memberikanku kesempatan aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Aku ingin bertaubat Pada-MU” Alfian menangis lirih
            Rasa kecemasan pun menghinggap pada Hadi, ia telah berjanji akan menjaga Alfian selama masa perjalanan, ada amanat yang dititipkan orang tua Alfian kepadanya. Di bawah deras hujan sambil berusaha menarik lengan Alfian kembali ke atas, Hadi berdoa “Allah..selamatkanlah kami semua dalam perjalanan ini. Hilangkan segala kendala yang silih berganti menghampiri. Tolong beri kami kekuatan untuk dapat menolong sahabat kami ini”
            Anggota tim lainnya, tidak menyerah mereka bersusah payah menarik Alfian. Dan Allah memang Maha Baik, karena kesungguhan dan kekuatan doa akhirnya Alfian dapat ditarik kembali dari tepi lereng jurang yang cukup curam. Alfian begitu ketakutan, tubuhnya masih gemetaran tidak hanya karena suasana dingin yang semakin mencekam namun juga karena keadaan yang baru saja di lewati. Ia bersyukur Allah masih menolongnya meski luka dipelipis dan lututnya yang robek terkena bebatuan, tapi kesempatan hidup yang Allah berikan tidak akan di sia-siakannya lagi, Ia berjanji dalam hati.
             Ketika kondisi sudah agak kondusif mereka melanjutkan perjalanan untuk turun dari gunung. Ketika mencapai posko 4 mereka beristirahat dan Alfian mendapat pertolongan untuk mengobati lukanya. Beberapa jam setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan kembali hingga turun sempurna dari gunung, dan sudah banyak tim lain yang berkumpul disana.
            Merekapun kembali ke kediaman masing-masing, Alfian memutuskan untuk pulang dan meminta maaf pada kedua orang tuanya.
            Alfian segera berhambur mencium tangan kedua orang tuanya, dan memeluk mereka. Dari mata kedua orang tuanya pun timbul haru, apa yang telah membuat anaknya berubah sedemikian rupa. Mereka rela mengambil cuti untuk menunggu kembalinya Alfian ke rumah. Ada rasa penyesalan telah melewatkan masa tumbuh kembang puteranya selama ini, bahkan cenderung bersikap otoriter memaksakan kehendaknya kepada sang putera.
            “Maafin Alfian Pah..Mah..Alfian sudah melakukan kesalahan selama ini dan membuat Papah dan Mamah khawatir dan kecewa sama sikap Alfian” ia menangis bersimpuh kepada kedua orang tuanya
            “Maafin kami juga nak, tidak memberikan kasih sayang yang semestinya kepada kamu” ucap papahnya
            “Mamah sudah memutuskan keluar dari pekerjaan dan memutuskan menjadi ibu yang baik untuk kamu nak” Mamah menggenngam tangan Alfian
            Alfian sangat bahagia sekali, semua yang telah dilewatinya menjadi pembelajaran berharga yang tidak ternilai. Ia pun meyakini bahwa Allah akan memaafkan hamba-NYA yang ingin bertaubat dan mengabulkan doa hamba-NYA yang memohon dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana terkandung dalam Surat Al Baqoroh  ayat 186 : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
            “Papah sudah memutuskan tidak akan lagi memaksa kamu untuk melanjutkan kuliah di jurusan Ekonomi,demi melanjutkan bisnis Papah. Kamu boleh mengambil sesuai dengan kemampuanmu dan kegemaranmu, otomotif kan ?”
            “Sungguh Pah ? terima kasih” Alfian tersenyum bahagia
            “Nak..mengapa kamu luka-luka seperti ini ?” Mamah khawatir
            “Ini Alfian dapat dari sebuah pembelajaran hidup berharga. Mamah tidak usah terlalu khawatir Alfian baik-baik saja.” Alfian mencoba menenangkan ke khawatiran orang tua nya. Ia menyembunyikan kejadian sebenarnya yang dialaminya, dimana hampir saja ia tidak bisa lagi berjumpa dengan orang tuanya ketika tengah berada di garis antara hidup dan mati.
            Alfian sangat bersyukur, semua keadaan menjadi membaik. Ketika ia mulai menyadari makna sebuah kehidupan, ketika ia mulai lagi mengenal Allah, Tuhan yang telah menciptakannya. Allah swt telah berfirman : “ jika ia mendekat padaKu sejengkal ,Aku akan mendekat padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta, Aku akan mendekat padanya sedepa. Jika ia datang padaKu dengan berjalan, Aku akan datang padanya dengan berlari” (HR Muslim) .

# T A M A T #

2 komentar:

  1. Ceritanya mengingatkan jaman masib sekolah dulu, mendaki gunung memang banyak makna secara spiritualitas. Mendaki gunung juga secara tidak langsung sebagai praktek manajemen risiko, wis lah dadi pengin neh .. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya mencoba menjiwai karakter si tokoh ini melalui pengalaman teman-teman yg oernah naik gunung. karena sejujurnya saya sendiri belum pernah ngerasain beradventure ria ke gunung. Maad kalo masih banyak kekurangan disana-sini, terima kasih mas sudah bekunjung ^_^

      Hapus