Laman

Kamis, 26 Desember 2013

Kesan @Yogyakarta : Memorial Perjalanan Seru (Part. II)

Melanjutkan perjalanan saya dan kawan di Yogya akhir November lalu...
Setelah berfikir dengan banyak pertimbangan, akhirnya saya dan kawan-kawan memutuskan 'kabur' ah..istilahnya ko jadi negatif begitu. Kami akhirnya tidak lagi melanjutkan kegiatan #BN tersebut ke Desa Tembi. dengan langkah mandiri kami mencoba mencari angkutan untuk tiba di jalan raya utama. Waduuh,, jalanan di area sekitar joglo abang itu benar-benar sulit sekali kendaraan umum bahkan tidak ada, sempat berfikir untuk kembali tapi sudah kepalang tanggung sudah beberapa meter kami menjauh dari lokasi acara.

Dan, akhirnya kami memutuskan utk menjadi 'Nebengers', awalnya kami ragu-ragu karena sikap gengsi, sampai akhirnya kami nekat juga mencari tumpangan (hahaha, sumpah ini menurut saya seru banget), Alhamdulillah ada sebuah mobil berhenti dan memberikan tumpangan pada kami, tidak hanya sampai di jalan raya utama tapi sampai mengantar di depan kost salah satu dari kami.
Istirahat sesaat. Sehabis maghrib kamipun berjalan-jalan kota Yogyakarta, menikmati malam menjadi orang Yogya sehari. Menumpang Trans Yogya, Rinda menjadi guide kami selama di kota gudeg. Ia mengajak kami berjalan-jalan, namun malam itu Yogyakarta padat banget dengan kendaraan dan macet panjangpun tak terelakan, konon kabarnya kala itu banyak kegiatan Nusantara yang tumpah ruah di Yogyakarta, tak hanya blogger Nusantara ada juga Pekan Olahraga Mahasiswa Se-Nusantara belum lagi malam perdana pembukaan pasar malam di alun-alun utara.

Sempat menyinggahi Benteng Vredenburg, karena suasana gelap kami tak dapat mengabadikan lokasi dan area Benteng pun hanya di buka untuk bagian tertentu saja. Setelahnya kami pun menikmati ramainya Nol Kilometer dimana banyak para muda-mudi sering menghabiskan waktu.
Puas berkeliling kami melanjutkan berjalan-jalan ke Alun-Alun, sungguh Yogyakarta agak sulit mendapatkan transportasi publik kecuali yang tradisional, hingga akhirnya dengan rasa letih kami berjalan dari alun-alun utara ke alun-alun selatan. Ketika tiba, kami pun menyeruput minuman wedang ronde, ada kejadian lucu saat itu. Seorang transgender mengamen di sekitar lokasi, dan ia menggoda salah seorang pemuda yang duduk tak jauh dari kami. lucu juga melihat ekspesi ketakutan pemuda itu, menjadi sedikit hiburan bagi kami. Area lokasi kami duduk pun tak jauh dari arena sepeda nyala yang khas di Yogyakarta, dan beberapa meter di depannya ada dua buah pohon beringin yang terkenal dengan "mitos"nya.

Paginya, mungkin karena keletihan efek jalan-jalan semalaman, kami pun mengundur waktu keberangkatan untuk trip wisata di Yogya lainnya. Kami baru benar-benar melaju sekitar jam 9an setelah sarapan dan keperluan lainnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Candi Borobudur Magelang. Sebelumnya kami naik TransYogya ke terminal Jombor, dimana setelah itu kami menaiki bus yang menuju Borobudur. Alhamdulillah perjalanan cukup lancar kurang lebih satu jam setengah kami tiba juga di Kawasan Candi. Pengunjung saat itu cukup banyak, baik lokal maupun internasional. Syukurlah situs peninggalan kerajaan Budha ini masih memilik daya tarik pengunjung luar negeri untuk menjelajahinya.

Kami menapaki setiap jejak candi dengan relief-relief dan patungnya yang memiliki nilai sejarah hingga puncak di atas. Sungguh pemandangan dari atas candi jauh lebih indah,tak kami sia-siakan mengabadikan moment-moment di situs bersejarah tersebut.
Menjelang sore kami kembali ke kost, untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta. Masih banyak yang ingin kami jelajahi sebenarnya, namun apa daya waktu tak mengizinkan, kami sudah harus naik kereta sebelum jam 5 sore.

Menapaki setiap jejak keindahan negeri ini memang tak kan pernah ada habisnya. Terlebih bagi saya Yogayakarta adalah sebuah kota yang unik yang selalu menyisipkan sebuah kerinduan untuk dapat kembali lagi mengunjunginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar