Laman

Rabu, 02 September 2026

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa Menuju Masyarakat Mandiri dan Berdaya

Ditengah tantangan global yang kian kompleks, dibutuhkan kemandirian dan masyarakat berdaya. Lewat forum lintas sektor, Dompet Dhuafa menggelar Kongres Kemandirian yang di laksanakan pada 29 Agustus 2026 bertempat di Patra Jasa Yudistira Grand Ballroom Kuningan, Jakarta selatan. Mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga filantropi, komunitas, praktisi pemberdayaan, serta penerima manfaat. 

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa

Mengusung tema “Satu Forum, Satu Peta Jalan Kemandirian Bangsa”, Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pemberdayaan masyarakat dan merumuskan langkah konkret menuju masyarakat yang lebih berdaya dan mandiri. Adapun yang dibahas dalam forum ini adalah sejumlah isu strategis, mulai dari kesehatan, ketahanan sosial, pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi untuk berbagi gagasan dalam merumuskan langkah nyata dan konkret membangun masyarakat lebih mandiri.

Acara diawali dengan sambutan tari saman khas Nangroe Aceh Darussalam yang menampilkan gerak lincah para siswi SLB Mekarsari Cibinong, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sekaligus menampilkan tayangan program kemanusiaan yang telah dilakukan filantropi Dompet Dhuafa selama 33 tahun berkiprah.

Memasuki sesi acara, sambutan singkat dan doa bersama yang dipimpin oleh Prof. Dr. Drs. Djawahir Hejazziey, S.H., M.A., M.H. selaku Ketua Dewan Syariah Dompet Dhuafa serta Guru besar UIN Syarif Hidayatullah. Berikutnya adalah sambutan dari Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini mengungkapkan terlaksananya Kongres Kemandirian setidaknya memiliki dua tujuan utama : 

  1. Memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan dan pembangunan Indonesia dengan membuat suatu forum yang memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan bagi bangsa, dan akan terus memberi sumbangsih terhadap perbaikan kehidupan bangsa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
  2. Memperkuat jaringan alumni penerima beasiswa Dompet Dhuafa. Dimana para alumni yang telah memiliki sebaran luas telah menempati posisi strategis di tengah masyarakat. Kondisi ini ditenggarai menjadi potensi yang dapat dikonsolidasikan untuk memberikan masukan terhadap pembangunan bangsa sekaligus meningkatkan kualitas program Dompet Dhuafa. 

Kongres Kemandirian Ahmad Juwaini

Fokus 5 Pilar Program Dompet Dhuafa

Dalam kegiatan Kongres Kemandirian tersebut, lembaga filantropi dan kemanusiaan secara simbolis menyalurkan dana pendidikan melalui program Merdeka UKT yang disalurkan kepada 56 mahasiswa dari 42 perguruan tinggi di Indonesia.

Untuk mencapai perubahan dalam bidang pendidikan, program yang diterapkan Dompet Dhuafa menggagas pendidikan karakter dalam membangun kekuatan habitat terhadap penentuan sikap dan perilaku untuk melakukan perubahan.

Dompet Dhuafa mengedepankan lima pilar program yakni Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Sosial, serta Dakwah dan Budaya dengan tujuan mewujudkan kebaikan untuk memberdayakan umat melalui pendayagunaan zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya baik dari individu, kelompok, maupun perusahaan.

Dalam mewujudkan hal ini tentu tidak lepas dari peran serta semua lapisan masyarakat untuk membangun kolaborasi, dan beraksi bersama mengatasi berbagai masalah kesenjangan serta ketimpangan di negeri ini.

Tercetusnya Dompet Dhuafa berawal dari niat lihur jiwa-jiwa para jurnalis Harian Umum Republika yang tergerak untuk membantu sesama di tahun 1993. Tepat pada 2 Juli 1993, hadir kolom donasi Dompet Dhuafa di halaman utama Harian Umum Republika, sehingga diputuskanlah tanggal tersebut sebagai hari lahirnya lembaga filantropi dan kemanusiaan Dompet Dhuafa.

Dalam pilar pendidikan, Pembina Dompet Dhuafa, Yudi Latif juga menyoroti akan sistem pendidikan yang menurutnya masih mewarisi pola pendidikan kolonial. Oleh karenanya, sistem pendidikan perlu diarahkan untuk memutus sistem lama dengan membangun jiwa pemberdayaan dan kewirausahaan. Hal ini sudah diterapkan oleh Dompet Dhuafa yang turut mengembangkan pendidikan berorientasi pada kemandirian.

Kongres Kemandirian Yudi Latif

Diskusi Panel isu kesehatan dan sosial

Di moderatori oleh dr. Yosilia Nursakina, MPH, DIC, MBA serta menghadirkan 4 narasumber diantaranya:

1. DR. Sumarjaya, SKM, MM, MFP, C.F.A. (Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI)

Memaparkan pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional, hal ini mencakup respons darurat (emergency response), mobilitas tenaga cadangan kesehatan, serta efisiensi skema pembiayaan krisis (APBN, APBD, dan filantropi).

2. drg. M. Atiatul Muktadir (Dokter gigi dan influencer).

Menekankan pentingnya konsep kemandirian kesehatan berkesinambungan. Dimana seharusnya kemandirian kesehatan bukan sekadar mengobati orang sakit, melainkan menjaga masyarakat agar tetap bertahan dalam kondisi sehat sepanjang waktu. Adanya juga harapan pemerataan tenaga medis di seluruh Indonesia, agar dapat mengatasi permasalahan kesehatan dasar masyarakat secara inklusif.

3. Ivan Ahda, M.Si. (Strategy and Advisory Director KTM Solution)

Menilai perlunya peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam mengawal program-program sosial dan kesehatan. Sehingga pentingnya membangun sistem rujukan kerentanan yang menghubungkan layanan medis dengan dukungan sosial serta pemberdayaan.

4. Salahuddin Yahya (Direktur Potensi dan Sumber Daya Sosial, Kementerian Sosial RI).

Memperkirakan perlu adanya pergeseran paradigma penanganan masalah sosial dari sekadar penyaluran bantuan menjadi pemberdayaan berkelanjutan. Kemensos pun telah berupaya mendorong proses graduasi dan pemberdayaan sosial agar masyarakat memiliki ketahanan ekonomi dan tidak kembali jatuh miskin saat menghadapi krisis atau masalah kesehatan.

Kongres Kemandirian Panel diskusi

Suasana panel diskusi berjalan cukup dinamis, setiap narasumber membagikan pandangannya dan para tamu yang hadir pun dapat melontarkan pertanyaan sesuai pembicaraan topik yang sedang berlangsung ataupun dapat mengemukakan pendapatnya.

Kemandirian bukan sekedar berkaitan dengan ketahanan ekonomi namun juga membutuhkan kualitas manusia, institusi yang kuat, serta ekosistem ekonomi yang produktif. Melalui Kongres Kemandirian ini, Dompet Dhuafa berharap kolaborasi yang dibangun dapat berkembang menjadi agenda nyata dan berkelanjutan, termasuk melalui optimalisasi jaringan alumni dan pemanfaatan dana zakat, infak, sedekah, serta wakaf secara produktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar