Laman

Minggu, 05 Mei 2019

Film Ambu : Gambaran Kasih Tulus Seorang Ibu

"Pelukan ibu itu bagaikan rumah, Kamu selalu bisa pulang ke sana dan membagikan  segala keluh kesah" [anonim]

Sebuah quote diatas, Saya rasa sangat mewakili  film Ambu yang Saya saksikan saat screeningnya beberapa hari lalu. Sebuah film perdana garapan Skytree Pictures yang disutradarai oleh Farid Dermawan. Berkisah tentang Ambu Misnah (Widyawati) yang ditinggalkan anak perempuan satu-satunya, Fatma (Laudya Cynthia Bella), pergi dari rumah mereka di Baduy, demi cintanya pada pemuda Jakarta.

Lama jauh dari tempat ia dibesarkan, kehidupan Fatma tak selalu bahagia. Pria yang di nikahinya kerap berlaku kasar padanya. Fatma memiliki anak bernama Nona (Lutesha) yang telah menginjak usia remaja. Gejolak usia muda kerap kali membuat Fatma kewalahan menghadapi kelakuan putrinya.


Hingga suatu ketika, Fatma mengajak Nona untuk pulang ke rumahnya dan menemui kembali Ambu Misnah yang lama jauh dari pandangan mata. Setibanya di Baduy, tak serta merta kedatangan Fatma di sambut, ada penolakan dan rasa sakit hati yang mendalam dari luka yang pernah ditorehkan putri semata wayangnya.

Ambu memiliki alasan tersendiri, mengapa sikapnya tampak dingin kepada anak dan cucunya. Namun dibalik kerasnya seorang Ambu, ia adalah semesta pertama dan terakhir bagi anaknya.

Titien Wattimena selaku penulis skenario film Ambu mengungkapkan "Ambu adalah tentang kegetiran sekaligus keindahan cinta kasih. Bagaimana ibu tak hanya jadi semesta pertama. Ia terus ada dan siap menjadi semesta terakhir kita."


Ambu sendiri adalah panggilan untuk ibu dalam bahasa Sunda yang halus dan santun. Dan film ini tak sekadar menawarkan cerita yang penuh dengan kedalaman rasa. Gambaran ketegaran seorang ibu terhadap anaknya dan konflik batin dalam menghadapi masalah yang terjadi antar generasi diangkat jelas dalam cerita berlatar belakang kebudayaan Baduy.

Orang suku Baduy berasal dari sekelompok masyarakat Sunda. Mereka berada di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Baduy memiliki kearifan lokal yang sangat luar biasa. Sungai, sawah, jembatan akar dan hutan yang sangat indah. Budaya hingga aturan adat  masih dipegang teguh hingga kini oleh masyarakat setempat.

Secara umum masyarakat Baduy  mendapat penghasilan dari menjual kain tenun. Uang yang didapat bisa mensejahterakan mereka karena tidak memerlukan banyak uang untuk listrik, sampo ataupun sabun, semua masih serba alami dan asri.

“Baduy memang kami pilih karena kecantikan dan kesederhanaan alamnya, seperti yang tercitra dalam karakter Ambu Misnah, Fatma dan Nona. Kami berharap film ini bisa diterima khususnya oleh kaum wanita Indonesia sebagai fokus dari karakter di film ini."  Farid Dermawan berujar.

Untuk original soundtrack film Ambu ini salah satunya berjudul 'Semesta Pertamaku' yang diaransemen oleh Andi Rianto. Ada yang istimewa sebab aktris senior yang juga terlibat dalam film itu yakni Widyawati kembali unjuk kebolehan dalam dunia tarik suara.

Film Ambu sudah bisa disaksikan di bioskop Indonesia mulai 16 Mei 2019 didukung oleh pemain dengan kualitas akting yang sudah berpengalaman seperti Widyawati, Laudya Chintya Bella, Lutesha, Endhita, Andri Mashadi dan Baim Wong.

Ada baiknya siapkan tisu atau sapu tangan ketika menyaksikan film Ambu, bukan karena ceritanya yang picisan tapi justru karena konsep cerita yang sangat menyentuh terlebih ketika rindukan sosok ibu begitu menggetarkan hati.

Mengingatkan Kita bahwa cinta seorang ibu pada anaknya sungguh tak bertepi, sebuah kasih yang tak terbantahkan dan tak terpatahkan. Bagaimanapun sang ibu marah ataupun keras bersikap. Bahkan seberapa jauhnya berada, seorang ibu masih memiliki rasa sayang untuk anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar