Laman

Sabtu, 08 Desember 2018

Dinamika Masyarakat Pesisir Dalam Film Impian 1000 Pulau

Sejauh yang Kita ketahui selama ini, terutama dalam sektor wisata Kepulauan Seribu merupakan destinasi yang cukup diunggulkan. Tetapi tahukah bagaimana kehidupan masyarakat setempat yang sejatinya jauh dari daratan.


Adalah Galang (Karel Susanteo) yang ingin mengejar mimpi namun mendapat tentangan dari sang ayah (Rifnu Wikana). Diceritakan sebagian besar penduduk Kepulauan Seribu umumnya berprofesi sebagai nelayan menggunakan jaring muroami menggunakan Kompresor. Akan tetapi penggunaan jaring muroami bukan tanpa resiko. Para nelayan yang menyelam hingga kedalaman berpuluh meter sering kali tak mengikuti prosedur selam bahkan penggunaan alat tradisional macam kompresor bisa menyebabkan kelumpuhan hingga kematian.



Para pemerhati lingkungan menilai jika jaring muroami berpotensi merusak terumbu karang. Ukuran mata jaring yang kecil juga memerangkap ikan-ikan kecil. ini baru sebagian tayangan yang di sampaikan, di sisi lainnya kehidupan anak-anak Pulau seakan kurang memadai dari segi pendidikan sebab sebagian besar orang tua mereka hanya berharap anak-anaknya menjadi nelayan. Tapi tidak bagi Galang dan Kawan-kawannya, Ia punya mimpi untuk diwujudkan bisa kuliah film sebagaimana cita-citanya. Tapi segalanya tak berjalan mudah tanpa rintangan.



Di sisi lain, Kita akan melihat sisi kehidupan masyarakat Pulau yang cukup nestapa adalah ketika ada penduduk yang meninggal. Terbatasnya lahan sehingga mereka tidak punya lahan khusus pemakaman. Disamping itu urusan mengangkut jenazah dari satu pulau ke pulau yang akan dijadikan lokasi pemakaman pun tak kalah pelik. Pembawaan jenazah umumnya menggunakan pakai ojek kapal, dan ongkosnya pun tidak murah.

Merupakan hasil sinergi empat pilar utama bangsa yakni pemerintah, komunitas, pelaku usaha dan akademisi untuk membuktikan kekuatan dari kata gotong royong. Film Impian 1000 Pulau berusaha menampilkan sisi kehidupan sisi lain kota Administrasi DKI Jakarta yang dominan dengan perkotaan metropolitan, juga memiliki sisi kehidupan masyarakat pesisir. Mengambil latar tempat di pulau Pramuka, Kelapa Dua dan Perak serta perairan di Kepulauan Seribu.

Karya generasi muda yang melibatkan siswa-siswa kreatif dari 10 SMA. Film non  komersil, yang menggerakan program donasi #1ticket1mangrove untuk bisa menyaksikan film ini, nantinya satu tiket yang dibeli berarti telah menanam satu bibit mangrove sebagai aksi nyata masyarakat Indonesia untuk membantu merestorasi kerusakan Mangrove.

Meski bisa dikatakan ini film non komersil akan tetapi yang terlibat didalamnya adalah publik figure yang sudah cukup punya nama, selain Teuku Rifnu Wikana ada juga Asri Welas, Yoriko Angeline, Chico Kurniawan, serta Arafah dan Bintang Emon alumni Stand up Comedy Academy.

Film Impian 1000 Pulau tidak hanya sekedar cerita, tetapi menampilkan diamika dan realita masyarakat pesisir di seluruh Indonesia yang memang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Masyarakat setempat tentunya ada pemerataan dan perbaikan kesejahteraan yang juga dapat mereka rasakan,setidaknya dengan memberdayakan potensi yang ada.

Melalui film ini tentu saja ada harapan dapat mengangkat Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata di Provinsi DKI Jakarta. Semakin banyak wisatawan yang berkunjung, ekonomi di Kepulauan Seribu pun dapat meningkat. Disamping itu pelestarian terumbu karang, penyu dan hutan bakau kian di galakan.

Sebagai efek sosial, seluruh keuntungan dari film ini akan didedikasikan untuk pengembangan UMKM berbasis Eco-wisata di Kepulauan Seribu, serta multiplikasi pembuatan Film ataupun TV Series yang dikerjakan oleh anak usia sekolah dalam satu tahun ke depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar