Laman

Selasa, 26 April 2016

Jejak Kisah Laskar Gerhana : Jelajah Belitung Timur ( III )

Pagi menjelang, saat itu adalah hari terakhir kami di Belitung. Chekout hotel lebih cepat kami ingin segera mengeksplore keindahan alam pulau Belitung lainnya. Destinasi pertama yang kami kunjungi adalah Danau Kaolin.

Setibanya di lokasi sungguh suhu udara sangat panas dan gersang, jelas sekali terlihat sisa-sisa pertambangan di sana namun tetap tidak menyurutkan semangat saya beserta teman-teman mengeksplore, membidik dan mengabadikan keindahan danau dari balik lensa kamera.


Saat pertama melihatnya birunya danau mengingatkan saya dengan panorama kawah putih Ciwidey. Tapi tunggu dulu, saya mengibaratkan danau ini adalah ironi sebuah keindahan di balik kehancuran sebab kecantikan warna biru tersebut bukan murni berasal dari alam seperti pegunungan.  Lubang-lubang yang berada disekitarnya merupakan sisa penambangan kaolin yang di biarkan saja tanpa ada proses penghijauan kembali, yang berakibat ke depannya akan semakin merusak lingkungan hingga tidak heran mengapa lokasi itu panasnya sangat menyengat. 

Kaolin digunakan untuk bahan dasar keramik dan mineral. Sifatnya nya yang halus, bersih, putih, kuat serta daya hantar listrik serta daya hantar panas yang rendah sehingga saat ini sering di manfaatkan sebagai bahan industri seperti kertas, kosmetik, pasta gigi, makanan, cat dan lain-lain.

Seusai dari Danau Kaolin kami singgah dahulu ke Bandara untuk menghantar teman-teman yang mendapat flight penerbangan jam 1 siang, walau nampak sekali wajah kecewa mereka tidak bisa menalnjutkan eksplore perjalanan berikutnya. Ahh..saya bersyukur sekali bisa mendapat penerbangan sore.

Berikutnya perjalanan kami adalah menuju Belitung TImur daerah manggar, menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam lumayan membuat saya bisa beristirahat sejenak. Di area tersebut banyak beberapa lokasi iconik seperti replika sekolah Muhammadiyah Laskar Pelangi, Museum kata milik Andrea Hirata dan sebuah bangunan yang di beri nama kampung Ahok.

Setibanya di kecamatan Gantung  / Gantong kami tiba di replika SD Muhammadiyah Gantong laskar pelangi. Menginjakan kaki di sana, seakan memutar kembali dalam memori perjalanan Ikal, Lintang dan sahabat-sahabatnya yang berjuang demi mendapat sebuah pendidikan. Terletak di atas bukti pasir serta berdekatan dengan sebuah danau, beratapkan seng  dengan kayu-kayu  bangunan terlihat lapuk dan rapuh membuat bangunan ini nampak kuno.


Memasuki ruang kelas, suguhan bangku serta meja-meja kayu membawa nuansa nostalgia masa sekolah yang cukup kuat. Berada di dalamnya benar-benar mengingatkan interior desain saat anak-anak laskar pelangi belajar dengan ibu Muss tanpa banyak perbedaan dengan yang di film. Serunya lagi saya dan teman-teman bermain sekolah-sekolahan di laskar pelangi (ahh..sungguh sebuah kenangan yang manis).

Melaju ke lokasi berikutnya tidak jauh dari replika SD Muhammadiyah kami pun mengunjungi museum kata Andrea Hirata. Penulis kenamaan yang telah memperkenalkan Belitong hingga ke mata dunia melalui karya fenomenalnya Laskar Pelangi yang kemudian di angkat ke layar lebar dan mencapai box office selama masa pemutarannya.

Museum Kata didirikan oleh Andrea Hirata terletak di Jalan Raya Laskar Pelangi No.7, Gantong, Belitung Timur. Menyimpan berbagai macam literatur dari berbagai jenis, bisa ditemukan literatur musik, seni, anak dan masih banyak lagi jenis lainnya dan pastinya bisa menemukan novel-novel karya Andrea Hirata, yang juga bertindak sebagai kurator di museum ini.


Setiap ruangan di dalam museum kata menggunakan nama-nama dari para tokoh nyata dalam kisah Laskar Pelangi seperti ruang Ikal, ruang Lintang, dan ruang Mahar. Ilustrasi menarik mengenai film dan novel laskar pelangi terasa cukup kental terasa dengan di pajangnya beberapa pigura foto adegan dalam film laskar pelangi.

Satu penggambaran untuk area ini adalah unik di desain seperti rumah adat melayu, interior di tata sedemikian rupa dengan warna-warni ceria. selain itu radio kuno yang di letakan di ruang tengah semakin mebuat kesan yang artistik. Di tempat ini juga disediakan tempat untuk pengunjung menulis dan membaca buku koleksi museum. Sampai di bagian paling dalam museum, makan akan ditemukan dapur yang di dekorasi menyerupai warung kopi serta menyajikan kopi kuli.


Sebuah konsep bangunan
historical dalam  konsep sebuah literatur  dan seni. Puas mengeliling setiap sudut museum kata, saya dan teman-teman segera melaju ke destinasi terakhir sebelum  akhirnya ke bandara untuk kembali.

Lokasinya hanya beberapa belas menit saja dari lokasi sebelumnya, kami pun singgah dan tiba di sebuah bangunan seperti rumah adat kayu, Kampung Ahok namanya. Berada didepan di rumah kediaman orang tua Ahok (Basuki Tjahja Purnama) yang merupakan putra asli Belitung Timur tersebut. Di dalamnya terdapat kuliner UKM masyrakat setempat dari  mualai  jenis makanan kering dan jajanan serta beberapa diantaranya khas dan hanya bisa di temui di Belitung.


Tujuannya di bangun lokasi itu adalah untuk mendayakan masyrakat dan tersalurkan kreatfitasnya, jadi Belitung tak hanya sekedar pantai tapi terdapat juga beberapa lokasi menarik lainnya. Waktu kian bergulir, kami pun harus segera kembali. Menempuh perjalanan ke Bandara hingga 2 jam dan menunggu keberangkatan saling berbagi kisah, cerita juga tawa.

Terima kasih banyak untuk kesempatan yang telah diberikan pihak Detik.com, Blogdetik, PasangMata serta pihak terkait kepada saya dan teman-teman yang tergabung dalam “Laskar Gerhana Detik.com”. Tentu saja ini sebuah pengalaman berharga yang tidak akan mudah untuk di lupakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar