Laman

Jumat, 21 November 2014

Jejak Waktu di Indonesia Internasional Book Fair 2014

Ini cerita sekitaran 2 minggu lalu kurang lebih, hari minggu diakhir pekan. Niat awal sebenarnya ingin menyisipkan quality time bersama teman-teman baik saya. Rencana saat itu adalah berkunjung ke acara Indonesia Internasional Book Fair. Pagelaran pameran tak hanya melulu soal buku, beberapa stand juga berdiri utk mengenalkan kerajinan tangan atau seni khas beberapa negara yang turut berkontribusi seperti Saudi Arabia misalnya. Dimana ada stand yg memprlihatkan sulaman berkaligrafi layaknya kiswah yg menyelimuti ka'bah, ada stand membuat henna atau hiasan tangan, saya sempat tertarik tadinya tapi ah, antriannya lumayan panjang, akhirnya batal saja.

Bersama Lili,saya menunggu kedatangan seorang teman lagi yg masih dijalan, kami melihat-lihat ke dalam sebentar dahulu sambil menunggu kedatangannya. Selang beberapa waktu akhirnya yg kami nanti pun tiba, Aan datang bersama adiknya.

Waktu sudah menunjukan pukul 12 ada informasi mengabarkan bahwa Bunda HTR sudah ada dan tengah mengisi acara di panggung utama. Secara saya cukup mengagumi penulis handal tersebut, kamipun segera menuju lokasi. Berhubung Aan tak bisa berlama-lama ia langsung ke tujuannya semula mengunjungi stand Korea dan saya stay di bangku penonton menyaksikan acara dari Bunda HTR.
Mengusung tema "sahabat mas Gagah" bunda HTR bersama FLP mengajak para pecinta film dan sastra utk mewujudkan karya fenomenal itu agar bisa di visualisasikan secara tepat. Mengajak masyarkat utk menjadi founder dan turut serta berkontribusi mewujudkan tayangan yg layak dan lebih baik.

Di acara tersebut Bunda HTR juga menantang beberapa orang utk memeran tokoh-tokoh seperti yang ada di dalam buku. Bagi yg mendapat dukungan terbanyak melalui tepuk tangan penonton area panggung utama berkesempatan mendapatkan buku 'ketika mas gagah pergi' versi cover terbaru, free.
 Usai acara sayapun ingin turut bergabung bersama yg lain, foto bareng  bunda HTR. Seperti yg sudah-sudah saya malah jadi canggung bisa berdekatan dengan penulis kenamaan dimana karyanya sangat saya kagumi. Beruntung akhirnya datang seorang Winda, satu angkatan diatas saya di flp sebenarnya berniat bertemu bunda HTR juga. Walau sempat kehilangan keberadaannya, akhirnya satu sosok penggemar ungu itu ditemui kembali. Ingin mendekati tapi beliau sibuk berfoto dengan penggemar lainnya.

Tahukah apa yg terjadi kemudian ? Kami bertiga akhirnya mengikuti bunda HTR dari belakang menuju tujuan yg entah kemana. Kami jadi lucu sendiri..untuk meminta foto bersama aja selayaknya seorang secreet admirer yang memebuntuti sosok yg dikaguminya.

Dan..yup..akhirnya kami berhasil bisa foto bersama bunda HTR,,ah sungguh beliau ini orang yg sangat ramah sekali. Jika dibandingkan dengan beliau yg sudah banyak maha karya sastranya, pendiri forum literasi kenamaan bahkan namanya masuk pada jajaran wanita cukup berpengaruh setingkat international masih bisa menyambut hangat,,yg siapalah kami ini. Sungguh seorang penulis yang membumi. Semoga akan selau seperti itu. ^-^

Waktu jam kian berputar menunjukan hari semakin sore. Sayangnya Aan dan Lili harus pulang lebih dahulu, rasa-rasanya quality time kami terlalu sedikit. Baiklah sebelum berpisah kami mengabadikan moment bersama dahulu di depan papan note stand korea.
 Saya dan Winda pun melanjutkan perburuan. Mengunjungi stand-stand lain,entah sudah berapa kali kami 'thawaf' berkeliling di area yg sama. Sebelum magrib pihak informasi mengabarkan bahwa ada penulis Habiburrahman El Shirazy atau yang akrab disapa kang Abik di stand Republika. Kamipun segera berlari meluncur ke  lokasi. Owalah tak dinyana area sudah dipadati pengunjung. Ternyata ada sosok lain yang rupawan, pantas saja area di mayoritasi para akhwat ia adalah Kholidi Asadil Alam atau yg lebih dikenal Azzam di film ketika Cinta Bertasbih.
 
Hari itupun bertepatan dengan peluncuran novel barunya kang Abik, oh..sungguh beliau pun cukup ramah. Ya,,akhirnya saya bisa menyimpulkan orang-orang seperti mereka lah penulis sejati. Dimana kesederhanaan dan keramahan serta kebijaksanaan tak hanya sekedar obralan kata-kata atau penampilan layaknya hanya pencitraan semata.

Kami benar-benar lupa waktu,saat kami hendak keluar dari istora nyatanya banyak beberapa stand yang di bongkar karena hari itu adalah hari terakhir dari pagelaran Indonesia Internasional Book Fair. Oh..oh..rupanya sudah jam 20.00 kami masih berada dikawasan senayan. Beruntung busway beroperasi hingga malam.

Tidak menyesal saya bisa berkunjung ke Indonesia Internasional Book Fair, ada cerita unik dan mengesankan dalam setiap jejak waktu yg terlewati.

2 komentar:

  1. Huah kereeeeen. Bisa foto sama mbak Helvy, kakaknya mbak Asma Nadia.
    Haha, km termasuk beruntung juga ya bisa foto2 sama guest star nya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..mba biasanya mah kaga berani. Beliau bener2 orangnya ramah,,jd makin mengagumi

      Hapus