Laman

Selasa, 04 Februari 2014

..:: Tak Kan Lari Jodoh Di Kejar ::..

Ilustrasi gambar ( sumber : pinterest )
 
         Aku berdiri di pinggiran pantai menikmati angin senja, menatap pematang lautan luas terbentang. Aku masih terfikirkan akan pertanyaan ibu semalam perihal pernikahan. Ya, usiaku sudah 27 tahun, dimana usia sudah cukup matang untuk berumah tangga. Bukannya tidak ada yang tertarik padaku, beberapa pemuda pun sudah terang-terangan melamarku namun masih ada ketidak yakinan dalam hatiku, bahkan tidak sedikit pula sejak masa sekolah dulu yang mengajak menjalin kasih atau istilahnya pacaran namun aku sama sekali tidak tertarik akan hal itu.
           Sama seperti kebanyakan gadis lain, akupun pernah menyukai seseorang tapi aku lebih memilih untuk memendamnya sendiri.  Seseorang itu tak lain adalah guru mengaajiku dahulu, usia kami masih cukup muda kala itu ia 20 tahun sedangkan aku masih berumur 10 tahun. Tapi, entah dimana keberadaannya saat ini, kabar terakhir yang aku dengar ia sudah berkeluarga dan menetap di ibu kota.
            Aku menceritakan kegundahanku pada sahabatku di sebrang pulau sana, ia seorang wanita yang bijaksana dan kini pun telah berumah tangga dengan pilihan hatinya.
            “Aku ndak tahu, mesti bagaimana. Sampai saat ini belum ada yang sreg di hatiku” Curhatku pada Fajri
            “Sabar..tawakal. Perbanyak sedekah, shalawat dan shalat malam harus lebih ditingkatkan, Insya Allah kamu akan mendapatkan laki-laki saleh yang kamu dambakan” jawabnya
            “Tapi, aku mesti bagaimana meyakinkan ibu ?aku bingung..” ucapku dengan nada putus asa
            Beberapa hari setelah perbincangan itu, Fajri kembali menghubungiku. Ia mengundangku sebagai pembicara di sebuah workshop yang kebetulan temanya memang tepat dengan gelar yang tersanding di belakang namaku, komputer.        Aku memang lebih memilih menjadi tenaga pengajar di kampung dan karena kebetulan bertepatan dengan hari libur sekolah aku memenuhi undangan tersebut.
            Workshop tersebut berjalan lancar, seperti yang direncanakan. Akupun segera kembali ke kampung halamanku, namun beberapa hari kemudian Fajri memberikan sebuah kabar untukku.
            “Farah..ada seorang pemuda yang ingin berta’aruf denganmu. Ia sudah melihatmu di acara workshop lalu karena kebetulan ia adalah rekan kerja suamiku ia meminta bantuanku untuk meminta persetujuan darimu. Bagaimana apakah kamu bersedia ?” Tanya Fajri melalui telepon
            Aku pasrahkan hatiku, setelah istikharah aku menyetujuinya. Kami pun saling bertukar biodata dan saling berkomunakasi melalui pesan elektronik dengan diperantarai Fajri. Selang tiga bulan kemudian kami pun semakin mantap, lalu pada waktu yang telah di tentukan Pria tersebut menemui aku ditemani Fajri dan suaminya untuk membicarakan perihal hubungan tersebut lebih lanjutnya.
            Pagi ini langit begitu cerah, di salah satu masjid, aku menunggu Fajri dan yang lainnya. Beberapa saat kemudian penantianku berkahir yang ku tunggu akhirnya datang juga. Kami segera memasuki ruang masjid yang memang pagi itu masih kosong.
            Ketika pertama kali aku melihat sosok pemuda dihadapanku, aku serasa pernah mengenalnya tapi entah dimana. Itu memang pertama kali aku melihatnya langsung, karena ta’aruf yang kami lakukan memang tidak menyertakan gambar diri kecuali ia yang memang sudah melihatku saat acara workshop beberapa hari lalu.
            Di perantarai Fajri dan suaminya, terjalinlah pembicaraan bagi kami untuk mengenal satu sama lainnya. Pemuda yang ku ketahui bernama Yudha itu memulai pembicaraan.
            “Sebelumnya mungkin hal ini mengejutkan Farah. Saya juga tidak menyangka jika Farah menyetujui permintaan ta’aruf dari saya, setelah sekian lamanya saya tidak pernah lagi melihat Farah” Ucapnya yang terang saja membuat aku heran, bukankah ini pertemuan kami kedua setelah acara workshop tersebut.
            “Saya adalah senior Farah di kampus dahulu, wajar jika Farah merasa heran karena sebelumnya Farah memang tidak mengenal saya, namun saya beberapa kali sering melihat Farah saat mengisi kajian di Masjid kampus dan diam-diam saya telah mengagumi Farah. Beberapa tahun setelahnya kita tidak pernah lagi berjumpa, ketika saya sudah memantapkan diri untuk menjalankan syariat agama,  langkah ihktiar yang saya lakukan adalah mendekatkan diri pada Allah dan memohon pada-NYA untuk diberikan-NYA petunjuk mengenai siapa yang akan  menjadi belahan jiwa saya. Pada beberapa malam sosok Farah kerap hadir di mimpi saya, dan saya pun tidak menyangka akan berjumpa lagi dengan Farah dan orang dekat saya pun ternyata mengenal Farah, mungkin inilah jalan yang Allah tunjukan bagi saya” Yudha menjelaskan panjang lebar yang hanya bisa membuatku terharu.
            Seperti itulah jalan Tuhan, menakdirkan kehidupan seseorang melalui skenarionya yang indah dengan dipertemukan dua pasangan jiwa pada waktu dan caran-NYA yang tepat, ketika semua telah berjalan lebih baik dan saling memantapkan hati. Tak perlu dengan memaksakan diri hingga melakukan hal-hal yang melanggar perintah agama, kerena ketika Allah telah menggariskan jodohnya apapun dan bagaimanapun caranya kelak akan dipertemukannya jua.

# TAMAT #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar