Laman

Rabu, 19 Februari 2014

Pulang Untuk Kembali Mengukir Kesan Di Setiap Jejaknya

Apakah yang terbesit dalam pikiran sahabat ketika mendengar kata "pulang"? kembali ke rumah setelah melakukan sebuah perjalanan? ya,itu benar atau kembali ke kampung halaman yang istilah kerennya orang lebih kenal mudik yang umumnya dilakukan ketika hari raya. Ehmm..benar juga tapi yang terbesit dalam pikiran saya ketika mendengar kalimat ini adalah kembali ke rumah abadi, tahu kan apaan? kematian.  Hanya sekedar mengingatkan suatu hari kelak akan kita tempuh masa itu. Sebuah perjalanan pulang menuju alam berbeda seorang insan untuk bertemu Tuhannya. Mengapa kematian sering di ibaratkan dengan kata pulang? sebab kata pulang sendiri lebih dimaknai dari kembalinya sebuah perjalanan, ya perjalanan dalam dunia fana. (ihhh,,ko jadi serem begini yang dibahas)

Well, kembali ke pembahasan utama. Terkait dengan tema yang di usung dalam blog competition ini bertema travel saya ingin berbagi kisah mengenai makna pulang dalam beberapa trip perjalanan yang saya lakukan.

Sejauh apapun langkah, beribu kilometer dilalui hakikatnya tujuan utama pada akhirnya adalah kembali pulang. Bertemu kembali dengan orang terkasih yakni keluarga yang tengah menanti. Pulang tidak saja berarti perjalanan fisik namun juga mental dan tekad yang harus di lalui dengan sebuah usaha dan pengorbanan ketika berjumpa dengan orang terkasih menjadi penyemangat langkah untuk kembali.

Travelling adalah salah satu hal yang saya sukai dan mulai di tekuni terakhir belakangan ini (halah semacem kaya profesi saja jadinya). Tapi, melakukan destinasi ke sebuah tempat adalah salah satu cara menenangkan diri dari segala penat setelah banyaknya aktifitas yang menghimpit di hari-hari biasanya. Melalui sebuah survei, terakhir belakangan ini travelling semakin banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Sebenarnya terlalu banyak hal-hal indah yang harus di eksplor dari negeri ini, puluhan gunung tertanam anggun di bumi Indonesia, hamparan pantai indah tak terhitung jumlahnya, ratusan pulau mengisi tanah negeri ini dan masih banyak panaroma lain yang tak bisa dijabarkan satu per-satu. Ratusan wisatawan asing hilir mudik mengunjungi Indonesia, hanya untuk merasakan sendiri sensasi keindahan negeri yang berjuluk negara kepulauan ini. Bahkan pernah ada yg menyatakan Indonesia adalah negeri istimewa yang Tuhan ciptakan selayaknya surga dunia terhampar luas dai semananjung barat hingga timurnya. Alangkah meruginya, masyarakat yang tidak menyadari keindahan dari negerinya sendiri bahkan tidak menghargainya dengan mencemarkan lingkungan dan merusak kawasan alamnya.

Sejatinya dalam setiap perjalanan yang saya lakukan tentu saja semua itu bermakna, semua akan meninggalkan kesan yang tak mudah untuk terlupa. Yang masih jelas teringat dalam pandangan saya adalah perjalanan yang belum lama ini dilakukan, sebuah destinasi yang sebenarnya memang sangat saya impikan sejak lama, sebuah pendakian.

Kesan mendalam itu begitu melekat karena itulah pendakian gunung pertama bagi saya yang di lakukan tepat di hari sejarah bagi hidup saya. Ya, saat pergantian usia ( jujur hal ini memang sudah sangat saya harapkan ) berpadu, bersatu bersama alam. Menikmati keindahan maha karya Tuhan yang luar biasa. Ada perasaan kagum, bersyukur, takjub yang tak mudah tergambarkan.

Banyak kisah yang bisa diceritakan dalam perjalanan yang dilalui, termasuk ketika kembali ke titik nol. Yupps, salah satunya adalah saat kembali "pulang" ke tempat camping dari puncak Tegal Alun, Gunung Papandayan. Perjalanan mendaki yang menelan waktu hampir dua jam ternyata perjalanan menurun hanya memakan waktu lebih sedikit, inilah uniknya sebuah perjalanan di gunung.


Perjalanan pulang yang menurun memang lebih mudah namun tetap menerapkan kehati-hatian ekstra karena kala itu jalannya pun cukup licin dan agak berbatu jika tidak waspada yang ada bisa terperosok dan jatuh (uuhh,,lumayan sakit juga).

Kisah lainnya pun tak kala menegangkan saat saya dan tim akan turun gunung ke posko utama. Saat itu perjalanan pulang kami di iringi kabut super tebal dan rintik hujan, namun tidak menghentikan langkah kami. Ya, tetap nekat karena hujan turun hanya sekedar gerimis (mungkin ucapan sampai jumpa dari alam ).

Perjalanan pulang yang harus kami tempuh sungguh super menegangkan, tanah yang basah kondisi yang berkabut dan jalan setapak perjalanan menurun dengan satu sisi adalah tebing dan sisi lainnya adalah jurang. benar-benar butuh sikap ke waspadaan. Beraneka ekspresi terutama bagi kami yang memang baru pertama melakukan destinasi ke gunung. Rasa ketakutan jelas ada, namun saya berupaya menguasai diri dan beberapa dari kami kerap kali terjatuh, untungnya masih dikisaran jalan setapak itu.

Melewati aliran sungai kecil, dan banyak di manfaatkan untuk mencuci kaki yang berlumuran tanah dan lumpur, serta melewati kembali kawasan kawah dengan jalan bebatuan hingga akhirnya saya dan tim kembali berhasil turun ke posko utama untuk bersiap kembali ke kota asal kami.
Perjalanan berikutnya adalah terminal, ya..akhirnya petualangan dan destinasi kami selesai.Sebelum tiba di terminal, mobil bak salah satu dari kami pun sempat mengalami pecah ban dan perjalanan pun sempat terhambat. Ketika semua hambatan terlewati, tibalah saat bagi kami untuk kembali pulang.

Perjalanan bus selama beberapa jam, akhirnya kembali mengantarkan kami tiba di terminal kampung rambutan tanpa kekurangan satu apapun. Dan lagi-lagi hujan menyambut kepulangan kami di Jakarta. Sebuah perjalanan penuh warna dan kesan yang membekas.

Kembali dan pulang sebagaimana di sebuah pertemuan selalu ada akhir untuk perpisahan. Perjalanan singkat bersama teman-teman baru semakin memperluas lingkungan sosial saya pastinya, menemukan hal-hal baru dan membuat saya labih tahu karakter beragam orang lebih banyaknya.

Pada hakikat, sebuah perjalanan adalah proses menuju suatu akhir yang hendak di capai, dan mampu memetik makna yang terkandung dalam setiap jejaknya untuk akhirnya kembali ke titik awal dimana semua bermula.

* Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba blog Travellin*

18 komentar:

  1. Baca postingannya bikin saya kepingin naik gunung lagi, tapi apa daya, kesibukan juga fisik, kayaknya sudah tidak memungkinkan lagi .. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naek gunung itu "nagih" ya mas..meskipun sulit dan susah payah kayanya tuch pengen lagi,,hehehehe mengexplore kebesaran Tuhan dari ketinggian :D

      hehehe

      Hapus
  2. Aaak, jadi kangen mendaki. Kegiatan yg jaman SMA suatu kepuasan tersendiri karena aku ikut organisasi pecinta alam. Tapi setelah lulus SMA belom dapet kesempatan itu lagi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah..mba pasti udah banyak gunung yg di taklukan nich :)
      bener banget akan dapet kepuasan tersendiri yg sulit utk dilukiskan

      Hapus
  3. pengen coba naik gunung sih, sayang waktu zaman kuliah dulu gak kesampaian. sekarang udah berkeluarga dan punya anak masih kecil makin susah aja kesampean naik gunung, mungkin tar anak uda gedean ya. Eh maaf jadi curhat :). salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe..ga apa2 mba
      next time mungkin ada kesempatan, menikmati keindahan alam dari sudut yg berbeda ^_^

      Hapus
  4. Hai, postingan yang bagus. Ijin blogwalking ya. :-)
    Ada info lomba nulis nih. Kamu bisa Cek ini!
    Makasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk informasi dan kunjungannnya mba ^_^
      tulisannya the best :)

      Hapus
  5. Mba sitie, tahanks ya :)
    jadi tambah referensi euy.
    Mampir ke tempatku ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Husna, ane udah mampir, meninggalkan jejak dan sudah follback :)

      Hapus
    2. Jiaaaaah :)
      Lengkap kap kap :)

      kapan-kapan bolehlah kita traveling bareng Mba :)
      Mba Siti posisi dimana?? Jakarta or jateng???

      Hapus
    3. Boleh..boleh, wah seru tuch
      Posisi ane di Jakarta. Oh ya dirimu ikut jilbab Traveler mba Asma ya?? wahh..pengen dech ikut gabung :)

      Hapus
  6. aku hanya pernah naik gunung yg tingginya 860 meter dpl saja sudah capek nya -__- gimana gunung yg tingginya lebih dari itu? o_O

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe..justru disitu sensasinya mas. lelah dan cape udah pasti tp ketika sampai di titik tujuan waah,,ada rasa puas yg tak tergambar

      Hapus
  7. wah... kapan yia bisa naik gunung, jadi pengin nih, hehehe........

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di niatkan dulu sob..ga akan nyesel saat udah melihat keindahan alam dari sisi yang berbeda :)

      Hapus