Laman

Rabu, 13 November 2013

Memory Of Sunrise

                Zahira masih berdiri termangu menatap cahaya mentari, menembus hangat melalui jendela kamarnya. Ia ingin lebih lama merasakan senandung alam yang membawanya kembali merasakan kenangan manis yang pernah dimilikinya. Sejak dahulu ia memang sangat menyukai sunrise, selepas sholat subuh biasanya ia selalu berkeliling di sekitar komplek rumahnya lalu ke sebuah taman kota dan di sebuah sudut tempat yang tidak banyak dijamah orang ia menikmati kehangatan mentari. Ya di tempat nan teduh itu cahaya dan sinaran mentari membias dengan kadar proporsional.
            Hingga di sebuah ketika, Zahira merasa terusik akan kehadiran sosok lain di tempatnya. Seorang pria, penampilannya cukup sederhana. Dalam beberapa kali Zahira melihat orang tersebut mendecak-decakkan lidahnya
            “Maaf sepertinya kehadiran saya mengganggu anda” ucap laki-laki itu
            “Ahh..ga’ biasa aja..!!” Zahira menjawab bingung, ia pun duduk tak jauh dari laki-laki tersebut. Zahira merasa ada yang aneh dengan laki-laki tersebut dengan ragu-ragu Zahira mencoba mengibas-ngibas tangannya di depan wajah laki-laki tersebut dan Zahira terkejut dengan keadaan laki-laki tersebut.
            “Astaga…dia tidak dapat melihat” Gumam Zahira pelan
            “Apa kamu bicara sesuatu ?” Tanya laki-laki itu “Jika kamu tidak nyaman dengan kehadiran ku, aku akan pergi” lanjutnya      
         “jangaan..tidak usah, aku sama sekail tidak merasa terganggu” Jawab Zahira “Aku hanya terkejut saja ada yang tau tempat persembunyianku, hehehehe..” Zahira terkekeh
            “Entah kenapa kakiku mengarahkan ke tempat ini, suasananya agak nyaman dan jauh dari hingar-bingar..tempat ini sangat cocok untuk orang yang patah hati dengan menyendiri,,atau jangan-jangan kamu sedang patah hati ya??” Tanya laki-laki itu
            “Ahh..ga’ aku memang suka saja di sini. Aku suka menikmati sinaran mentari yang menembus melalui celah-celah pohon itu. Sehingga kehangatannya pas saja menurutku.” Jawab Zahira
            “Sunrise..bukan kebanyakan orang lebih suka menikmati sunrise itu dari  atas gunung atau di pantai..tapi kamu malah aneh..menikmatinya di tempat teduh dimana mentari tidak tampak secara keseluruhan” Laki-laki itu berkomentar
            “Aku punya alasan mengapa aku tidak suka menikmati mentari dari tempat-tempat itu” Zahira mulai murung
            “Maaf sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara..oh,ya aku Fauzan. Senang bisa berkenalan dengan kamu, aku harus segera pergi” Laki-laki bernama Fauzan itupun meninggalkan Zahira dalam kegundahannya.
            Dulu Zahira memang sangat suka melakukan pendakian, namun kejadian beberapa tahun silam di Semeru membuatnya trauma. Di tengah perjalanan pendakian, cuaca tiba-tiba saja memburuk dan kondisi medan yang memang tidak baik sehingga terjadilah kecelakaan itu. Zahira kehilangan sahabat baiknya, sahabat setia yang selalu bersamanya semenjak kecil, Alvian. Betapa terguncangnya Zahira saat itu, hampir ia tidak mampu untuk melanjutkan perjalanannya. Dalam beberapa waktu Zahira tenggelam dalam duka kehilangan yang teramat sangat, hingga ia tidak mau lagi menginjakan kaki ke pegunungan.
            Beda hal dengan suasana pantai, semasa kecil ia hampir saja tenggelam saat bermain di pesisir pantai saat acara berlibur besama keluarganya. Dan itu membuatnya tidak terlalu menyukai pantai.
            Mungkin hanya sunrise satu hal yang ia sukai,  Alvian lha sahabat terdekat yang telah mengenalkannya akan keindahan menikmati sunrise. Zahira memang bukan seperti gadis pada umumnya, yang up to date akan perkembangan mode atau fashion. Meskipun begitu ia adalah gadis yang cerdas, terbukti dengan gelar Sarjana Komputer yang di sandangnya.
            Saat siang menjelang Zahira teringat akan sosok Fauzan, laki-laki itu memberikan kenyamanan yang pernah di berikan sahabatnya Alvian. Sejak pertemuan saat itu, mereka pun akhirnya sering bertemu membahas banyak hal. Hingga tanpa mereka sadari ‘virus merah jambu’ itu menyerang mereka.
            Zahira begitu mengagumi sosok Fauzan, yang tidak putus asa pada takdir. Ia juga cukup cerdas terbukti dari beberapa pertanyaan yang di ajukan Zahira hampir semua terjawab olehnya. Dan Fauzan adalah seseorang yang religius, kekurangannya tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap taat pada ajaran agama.
            Tapi tidak pada Fauzan, ia tidak percaya diri untuk jatuh cinta lebih dalam pada Zahira. Meskipun ia tidak dapat melihat kecantikan Zahira dari matanya, namun ia bisa merasakan ketulusan dan cantiknya perangai Zahira melalui hatinya.
            “Aku ingin kamu meminangku ke orang tua ku” Ucap Zahira secara gamblang kepada Fauzan
            “Tapi,apakah keluargamu bisa menerima keadaanku ini??” Fauzan berucap ragu
            “Aku pasti mampu meyakinkan orangtuaku..”
            “Sebaiknya kamu bicarakan dulu baik-baik pada keluargamu. Apapun keputusan yang kamu ambil nantinya aku siap menerima. Jika Allah memang meridhai kita bersatu, Insya Allah tidak akan ada halangan yang berarti dan kita pasti mampu melaluinya.” Fauzan berkata bijak
            Malam harinya, Zahira pun menyampaikan niatnya pada kedua orang tuanya.
            “Apa kamu sudah pikirkan secara matang?? Kamu tahu bagaimana keadaan Fauzan itu??” Ayah Zahira murka
            “Apa yang salah, keadaannya itu bukan keinginan dia. Ketabahannya telah membuat Zahira menyayangi dia, Zahira ingin menikah dengannya bukan karena fisik semata maupun materi. Tapi lebih pada keyakinan hati Zahira bahwa Fauzan itu yang terbaik untuk Zahira.” Zahira tetap berusaha meyakinkan orang tuanya
            “Apa yang bisa di harapkan dari orang yang memiliki kekurangan seperti itu nak..ibu tidak mau bukan kebahagiaan yang kamu dapat tapi justru kesulitan karena merawat dia yang tidak sempurna” Sang ibu buka suara
            “Astagfirullah ibu, itu sudah menyalahi kodrat yang telah Allah tetapkan. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya, Zahira yakin Fauzan adalah laki-laki yang tepat untuk hidup Zahira” Zahira tetap pada pendiriannya
            “Kamu fikirkan lagi sebelum akhirnya nanti malah penyesalan yang kamu terima..!!” Sang ayah pergi berlalu, masih bersikeras tak bisa merestui hubungan Fauzan dan Zahira
            Waktu silih berganti, dalam setiap sujudnya Zahira selalu memohon agar hati orang tuanya melunak dan bisa merestui Fauzan bersanding dengannya. Hingga akhirnya, doa-doa dua insan yang dimabuk asmara itupun terjawab, orang tua Zahira melihat kesungguhan dan perangai yang baik dari Fauzan dan mereka pun merestui hubungan putrinya.
            Zahira sangat bahagia menyambut hari pernikahannya, ia begitu bersemangat mempersiapkannya. Kurang dari satu minggu lagi pernikahan sederhana itu akan di gelar, undangan pun telah menyebar ke beberapa kerabat dan orang terdekat saja. Namun, takdir berkata lain tepat di hari pernikahannya, di mana semestinya menjadi hari bahagia untuk sepasang sejoli itu pun berganti duka. Mobil yang membawa rombongan pengantin pria mengalami kecelakaan, semua penumpang pengalami cidera namun yang terparah adalah Fauzan, keadaannya sungguh kritis.
            Dengan busana kebaya putih nan anggun, Zahira menanti kehadiran datangnya sang mempelai pria dengan gelisah. Perasaannya semakin tak menentu, sudah lebih satu jam Fauzan belum datang juga dimana semestinya akad itu sudah berlangsung. Hingga kemudian, Zahira mendapat kabar duka itu. Ia segera berlari menuju rumah sakit tempat Fauzan di rawat, di sepanjang jalan tak henti-henti air mata membasahi pipinya.
            “Sudah nak..sabar, kita doakan Fauzan baik-baik saja” Sang ibu mencoba menenangkan
            Zahira semakin kalut, semakin terisak lalu menghambur dalam pelukan sang ibu “Zahira takut bu..terjadi sesuatu yang lebih parah pada Fauzan”
            Tiba lha Zahira beserta keluarga di rumah sakit, ia segera menuju ruang Unit Gawat Darurat dimana Fauzan terbaring. Namun tiada yang mampu menolak kehendak Tuhan, beberapa saat setelah kedatangan Zahira, Fauzan menghembuskan nafas terakhirnya. Fauzan tak mampu bertahan karena benturan cukup keras di kepalanya. Zahira semakin terguncang, ia pun jatuh pingsan.
            Gerimis mengiringi pemakaman Fauzan, wajah Zahira yang pucat dengan matanya yang sembab tak mampu berhenti meratapi kepergian calon pendamping hidupnya tersebut. Zahira terbayang akan kenangan-kenangan bersamanya dengan Fauzan, meski waktu perkenalan mereka teramat singkat namun telah menancapkan kenangan yang indah dalam hidupnya dan meyakinkan dirinya bahwa Fauzan lha laki-laki yang tepat yang telah lama dinantikannya untuk menemani sisa hidupnya.
            Fauzan bisa menjadi kakak untuk zahira, menjadi sahabat. Ia hadir saat Zahira merindukan Alvian sahabat sekaligus laki-laki yang pernah ia cintai. Dan hanya  Fauzan lha yang mampu membuat harinya kembali berwarna,merakan kembali getar-getar perasaan yang telah kian lama membeku, seseorang dimana dengan suka rela Zahira berbagi tempat  rahasianya menikmati sunrise.
            “Aku ingin menikmatinya melalui jendela ini, sunrise selalu sama. Hanya keadaan lha yang kini telah berbeda. Tiada lagi yang membuat ku tersenyum merasakan kehangatan mentari bersama karena kamu tidak lagi disini” Ucap lirih Zahira menatapa mentari yang mulai meniggi memulai hari yang baru.

# TAMAT #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar