Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Kamis, 23 Februari 2017

Napak Tilas "Jelajah Mangga Dua dan Pecah Kulit"

Sejarah ada tidak untuk dilupakan, dari segala yang terjadi bisa diambil segala pembelajaran. Minggu, 19 Februari 2017 bersama teman-teman yang tergabung dalam komunitas Indonesia Herritage, kami mengunjungi beberapa tempat yang menyimpan nilai historical. Dengan tema "Jelajah Mangga Dua dan Pecah Kulit" titik kumpul Kami adalah sekitar jalan fatahillah - Kota Tua Jakarta. Meskipun hujan sempat mengguyur dari semalaman, ternyata tidak menyurutkan semangat peserta untuk tetap mengikuti jelajah sejarah tersebut.
Peserta ID Herritage (Doc. ID Herritage)

Sejarah Fatahilah.


Dikomanadani dengan seorang yang di sapa dengan Kang Asep, membagi-bagi kami yang yang hadir dari jumlah sekitar seratus orang ke dalam beberapa kelompok. Dan Saya sendiri tergabung dalam team Abu-Abu yang di bimbing oleh Mba Putri.

Kang Asep sempat menjelaskan sejarah museum monumental Fatahillah dan sekitarnya. Sebelumnya bangunan tersebut pasca kemerdekaan adalah balai kota walikota Jawa Barat karena sebelumnya Jakarta menjadi satu bagian dari propinsi Jawa Barat. Adapun nama fatahillah disematkan lantaran lokasinya berada di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Stasiun Jakarta Kota.

Pertama, Kami menelusuri sepanjang jalan lada, area yang menghubungkan lokasi fatahillah menuju stasiun Jakarta Kota. Mengapa dinamakan demikian, belum bisa dijelaskan secara pasti, namun dahulunya area itu dikenal dengan rawa macan sebab merupakan rawa-rawa dimana penduduk setempat dahulunya menemukan banyak macan di sekitar area tersebut.

Stasiun Jakarta kota merupakan bangunan yang cukup monumental di kawasan Kota tua, di design oleh seorang arsitek Indo campuran kelahiran Tulungangung yakni Frans Johan Louwrens Ghijsels, menggunakan kombinasi teknik modern barat dan berpadu dengan tradisional setempat. Maka dari itu stasiun ini memiliki banyak julukan seperti Gedung Hindia atau Het Indische Bouwen karena memiliki seni tinggi dan berfilosofi.

Bentuk stasiun ini serupa dengan yang ada di negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis dan Belanda. Pilar-pilarnya dan garis-garis lurus baik yang horizontal ataupun yang vertikal.

Stasiun ini selesai sekitar tahun 1929 dan masih cukup awet hingga saat ini. Meski sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan perbaikan, tapi bangunan utamanya masih kokoh. Disempurnakan konstruksi yang anti gempa. Karena tiang-tiang di sana menggunakan sistem engsel. Jadi meski terkena getaran, tidak akan mudah runtuh.

Gereja Sion.

Berlanjut ke Gereja Sion, lokasinya berada di Jl Pangeran Jayakarta No. 1, Jakarta Barat. Dahulunya Gereja Sion dikenal dengan nama De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Luar Portugis Yang Baru, menandai bahwa lokasinya berada di luar dinding kota Batavia ketika itu. Pada masa itu Gereja Sion juga dikenal dengan nama Belkita, dan karena semula diperuntukkan bagi para Portugis hitm sehingga sering di sebut Black Portuguese Church. Diperuntukan untuk portugis protestan.
Sebelum dibangun sebagai gereja sebelumnya di bangun pondok untuk belajar agama pada tahun 1675. Peletalkan batu pertama di tahun 1693 dan mulai diresmikan pada thn 1695. Kata Sion diambil dari bahasa Alkitab yang memiliki arti bukit atau tempat tertinggi. Mimbarnya cukup antik mengusung gaya Barok terbuat dari kayu hitam (Ebony). Terdapat tiang ulir dan bagian atasnya menyerupai mahkota.

Pada balkon terdapat organ pipa atau Orgel, jika dilihat dari samping memperlihatkan dimensi balkon. Ornamen motif bunga daun berwarna keemasan di depan orgel, dan tangga kayu menuju ke balkon. Jam digital berwarna merah di bawah balkon menunjukkan angka tanggal dari haru tersebut. Orgel ini akan di fungsikan pada moment tertentu seperti natal dan peringatan hari lainnya.
Orgel Gereja Sion (Doc.Pri)
Jelajah Kawasan Pecah Kulit.

Area ini sekarang lebih dikenal dengan Jl. Pangeran Jayakarta, adapun sejarahnya adalah Pieter Erberveld Seorang warga Batavia berdarah Indo-Jerman yang begitu membenci pemerintah Batavia yang saat itu dikuasai Belanda dengan sistem pemerintahan sewenang-wenang. Beberapa kali Pieter Erbelverd melakukan perlawanan dengan dibantu oleh Raden Kartadriya.

Dituduh sebagai pemberontak, Erberveld diganjar hukuman yang sangat kejam. Tangan dan kakinya diikatkan ke 4 ekor kuda kemudian ditarik ke 4 arah yang berbeda. Tentu saja badannya robek dan berhamburan di jalan. Lokasi tempat eksekusi Erberveld yang terletak di tepi Jacatra-weg ini kini dikenal dengan Jalan (Kampung) Pecah Kulit, yang sekarang menjadi Jalan Pangeran Jayakarta.

Kepala Erberveld ini kemudian ditusuk dengan pedang dan dijadikan monumen sebagai peringatan kepada warga agar tidak melawan Belanda. Dibuat pula sebuah prasasti sepanjang sekitar 8 meter di kawasan Kampung pecah kulit namun seiring perkembangan prasasti tersebut di pindahkan ke Museum Taman Prasasti.

Makam Raden Ateng Kartadria.

Pitu Gerbang Makam Kramat Rd Ateng (Doc.Pri)
Seorang pribumi yang mendukung dan berperan bersama dengan Piter Erberveld. Tidak jauh berbeda, Beliau pun dihukum mati dan diganjar hukuman yang sangat kejam oleh Belanda. Jasad Raden Ateng Kartadria, tidak ada yang tahu lebih jauh mengenai sosok beliau. Menurut penuturan, jasad Raden Ateng Kartadria ditemukan warga sudah dikubur dengan bentuk tanah mencorok ke atas seperti punukan batu.
Makam Radeng Ateng (Doc.Pri)

Makam Souw Beng Kong.

Terletak dalam sebuah gang sempit di Jalan Jayakarta yang dulu bernama Jacatraweg atau Jaketra Road. Wafat pada 1644 di usianya yang ke 50 tahun. Keberadaan makam Souw Beng Kong berhimpitan dengan pemukiman Gang Taruna di kawasan Mangga Dua, Jakarta Barat. Kondisinya kurang terawat dengan terali pagar dan ruang sempit, kolam yang melengkapi makam pun nampak sangat kotor dan berlumut.
Makam Souw Beng Kong (Doc.Pri)
Souw Beng Kong atau di sebut Bencon, dalam naskah Belanda merupakan salah satu figur penting dalam pengembangan awal kota Batavia, lahir sekitar tahun 1580.

Adalah seorang Kapitan Cina Pertama di Batavia sekitar 1628, dengan kedudukannya itu maka bisa dikatakan Souw Beng Kong sebagai pria yang ikut menentukan wajah Batavia masa itu.

Tugas utamanya sebagai kapitan ialah, mengurus semua warga Tionghoa di Batavia, mempunyai tanggung jawab sebagai juru bicara warga Tionghoa pada masa jabatannya. Selain itu ia juga memiliki kapal, mengurus tempat judi, pembuatan uang tembaga, serta mengawasi rumah timbang bagi semua barang milik orang Tionghoa. Mengawasi pembangunan rumah-rumah para pejabat Belanda.

Perjalanan napak tilas sejarah itupun disudahi dengan rintik hujan yang mengiringi. Ternyata banyak kisah sejarah yang tak terungkap dan tidak banyak orang mengetahui dari suatu tempat yang disinggahi bahkan di kediaman sendiri.

9 komentar:

  1. Wah aku aja belum tahu. Ajak ajak kakak lain waktu.

    BalasHapus
  2. Aaah aku paling suka ke Kota tua, tapi lebih suka lagi pas belum ada pedagang tumpah rush di sana. Soalnya jadi makin sedikit spot fotonya dan sampahnya banyak ��

    BalasHapus
  3. Hei mba, aku pernah jadi volunteer di Riau Heritage. Seru bisa tau napak tilas Riau yang dulunya nggak pernah tau hehe..
    Senang pastinya bisa kumpul bareng dan napak tilas bareng juga :)

    BalasHapus
  4. Kawasan pecah kulit itu kayaknya paling unik deh.... Dari namanya sudah mengundang rasa penasaran

    BalasHapus
  5. waha syik sekali, ay aku paling suak yg berbau vintage , unik aad sejarah yg menyertainya dan kadang ada mistisnya

    BalasHapus
  6. Selalu senang deh kalau main ke kawasan KoTu. Mba, BTW kalau mau gabung di komunitas Indonesia Heritage gimana caranya?

    BalasHapus
  7. Serunya ada acara kayak ginian Mbak. Jadi inget cerita lampau ya. Bangunannya apik2

    BalasHapus
  8. saya kapan bisa mengunjungi tempat-tempat di atas yaa?

    BalasHapus
  9. aku taunya daerah sana hanya kota tua dan stasiun aja mbak. ternyata ada makam juga ya disana..

    BalasHapus