Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Senin, 30 Maret 2015

Hiking ke Gunung Pulosari

Gunung Pulosari merupakan gunung berapi di kabupaten Pandeglang, Banten. Memiliki ketinggian 1346 mdpl, tidak terlalu tinggi memang dibanding gunung berapi lain di Indonesia. Tapi jangn menganggap remeh, jalur pendakian cukup "gurih" dengan akar dan bebatuannya juga trek yang menanajak. Kalau bisa di ibaratkan perbandingannya 11:12 hampir serupa gunung ciremai (Linggarjati) ataupun cikuray.

Sumber Wikipedia menyebutkan gunung pulosari tidak pernah terjadi letusan  namun terdapat aktivitas fumarol yang terjadi di dinding kaldera dengan kedalaman 300 Meter. Bagi masyarakat Banten gunung ini cukup kramat sebab di perkirakan sebagai lokasi kerajaan Sunda antara tahun 932 dan 1030. Disamping itu kerap kali ditemui situs-situs gunung dalam bentuk bebatuan.
Saya bersama beberapa orang lain berjumlah kurang lebih 20 dengan dikomandani yang kami panggil Bang Ipung melakukan hiking pada tanggal 20-21 maret lalu. Start titik ketemu menggunakan kereta menuju rangkas bitung dan kemudian dilanjutkan dengan mobil tronton yang sudah disewa dan disiapkan untuk mengantar kami ke kaki gunung Pulosari. Perjalanannya saja dari stasiun cukup memakan waktu kurang lebih 2 jam. Setibanya, kami segera menunaikan shalat dan mengisi perut yang belum terisi. Di saat hendak siap memulai perjalanan tiba-tiba hujan turun cukup deras,dan akhirnya kami menunda perjalanan sekiranya hingga hujan mereda.
Jalur awal pendakian masih cukup landai, melintasi ladang dan kebun milik penduduk, belum ada rintangan yang berarti hanya saja jalanan yang becek selepas hujan membuat kami harus hati-hati karena jalanan yang licin. Sekitar satu setengah jam kami menemui kembali sebuah pondok dan warung juga aliran suara gemericik dari Curug Putri melengkapi perjalanan kali itu. Karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dan mengejar waktu untuk tiba di tempat camping dengan segera kami harus tetap melanjutkan perjalanan meski hujan turun kembali dan kami harus mengenakan jas hujan.

Melewati parit disisi dekat sebuah warung, rintangan perjalanan di mulai. Jalur semakin menanjak, ditambah tanah dan bebatuan yang licin, kami harus sigap berpegang pada kokohnya akar yang melintang. Serasa de javu mengulang kembali perjalanan saat ke cikuray, istilah D3+J kerap kali dijumpai (Dagu ketemu dada ketemu dengkul+ jidat) :D tapi tidak separah gunung di Garut tersebut, di Pulosari masih cukup banyak bonus yang di jumpai.
Sekitar satu setengah jam kemudian kami tiba di kawasan kawah, dan disini lah umumnya pendaki membangun tenda, karena untuk ke atasnya lagi akan sangat sulit ditemui kontur tanah yang datar. Belerang yang berada di Gunung Pulosari ini tidak terlalu berbau sehingga cukup aman untuk mendirikan tenda, dan karenanya baru kali ini saya tidur di gunung kepanasan termasuk teman-teman yang lain. Kondisi di luar cukup dingin dengan angin malam yang bertiup namun di dalam tenda serasa sauna saat jam tidur tersebut, bahkan beberapa diantara pendaki lain lebih memilih tidur diluar tenda bahkan di lapak warung di sekitaran dan tidak usah khawatir pula, Di Pulosari sudah dilengkapi mck sehingga para pendaki tidak perlu repot mencari semak-semak untuk buang air.

Sekitar jam 5, selepas menunaikan shalat subuh kami bergegas untuk melakukan summit attack,jalur kali ini lebih parah lagi dibanding sebelumnya. Terjal, berbatu, melintasi batang pohon dan akar ditambah jalanan yang sangat licin hingga beberapa kali tak sedkit dari kami hampir terjatuh. kurang lebih 1 jam an kami mencapai puncak bayangan berupa dataran terbuka yang sempit dan akan bertemu percabangan. Melewati kembali vegetasi hutan hujan tropis terus melangkah menapaki jalur yang sudah menyelimuti pakaian,celana dan tangan yang berlumpur tanah.

Perjuangan yang tidak mudah menahan rasa lelah dan letih setelahnya kami tiba di puncak Gunung Pulosari. Berupa dataran yang tidak terlalu luas juga terdapat alat pemancar pemantau gempa meskipun tidak mendapatkan sunrise setidaknya kami menyaksikan pemandangan yang cukup indah, sebuah maha karya Tuhan tiada ternilai. Meskipun harus bersabar beberapa saat setelah kabut yang menutupi langitnya berarak menghilang meperlihatkan keindahan panorama alamnya.

Pemandangan Puncak Mt.Pulosari
Pemandangan Puncak Mt. Pulosari
Mengutip kata-kata bijak dari seorang  Soe Hok Gie :
" Dunia itu seluas langkah kaki
Jelajahilah dan jangan takut melangkah
Hanya dengan itu kita bisa mengerti 
Kehidupan dan menyatu dengannya."

Oleh sebab itu, berjalanlah engkau diatas muka bumi yang terhampar luas anugerah ciptaan-Nya. Berkali-kali miris dan sedih dimana kini habitat alam tak lagi bersih, terlalu banyak sampah berserakan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dan melakukan vandalisme. Jangan pernah mendaki jika hanya untuk merusak keindahan alam.

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya..pemandangan yg masih natural emang keren :)

      Hapus
  2. wah hobi hiking ya mbak...pasti seneng banget ya kalo sudah sampe puncak, serasa capeknya hilang semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak..Kalau udah di titik puncak rasa lelah serasa terbayarkan :)

      Hapus
  3. Ka ada ngga angkot yang menuju ke basecamp lgsung ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepegetahuan saya, mayoritas pada bawa motor/mobil pribadi, kalopun ada angkot itu carteran

      Hapus
  4. Perempuan n hiking ke gunung. Wuih, keren. Daku cuma penginnya aja, tapi kenyataannya takut. Hohoho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi pada kenyataannya,,terkadang klo mw dilawan. Sedikit demi sedikit fobia bs teratasi lho mba :-)
      Dan bnyk penuturan menyatakan kalo naik gunung itu "Nagih" :D

      Hapus
  5. wah sampai hari ini gue belom pernah naik gunung.. kerennnn itu pemandangannya.. mantappp banget.. lain kali kalau mau daki lagi ngajak - ngajak yah... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiihh..keren banget mas Bro..apalagi saat menatap hamparan samudera awan yg begitu indah. Bakalan menimbulkan rasa rindu untuk kembali :)

      Hapus