Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Senin, 06 Oktober 2014

Segenap Impian Ke Tanah Suci



http://siethie.blogspot.com            Aku terbangun di sepertiga malam ini, ketika aku hendak ke kamar mandi untuk membasuh air wudlu ku dengar rintihan yang amat pilu. Suara tangisan ibu yang tengah berdoa akan mimpi terbesarnya untuk bisa mengunjungi baitullah.
            Aku hanya bisa termenung sedih, merasa tidak berguna karena belum mampu mewujudkan harapan ibu di usia senjanya. “Ya, Allah kabulkah harapan dan doa ibu” dalam hati aku pun turut mendoa dan mengamini setiap untaian kata permohonan wanita yang telah sangat berjasa padaku. Aku pun kemudian bergegas menunaikan niatku.
            Ini adalah malam terakhir aku di rumah, esok aku harus kembali ke kota karena masa cutiku telah selesai. Rasanya ingin sekali berlama-lama tinggal bersama ibu, dan kali ini adalah kunjungan pertamaku setelah dua tahun tidak sempat aku menjenguk ibu. Sudah sering kali aku mengajak ibu untuk tinggal bersama ku di kota tapi selalu saja ibu menolak.

            Ibu tinggal sendiri di rumah peninggalan almarhum Bapak, beliau tidak ingin meninggalkan istana sederhana yang telah dibangunnya bersama laki-laki yang di cintainya. Aku sangat paham betul, jika Bapak dan Ibu sangat ingin sekali menyampurnakan rukun islam, namun nasib tak dapat ditolak. Bapak harus pergi mengubur impian bersama jasadnya dan menyerah karena sakit liver yang di deritanya.
            Sejak lama sebenarnya Bapak dan Ibu sudah menabung untuk mewujudkan impian mereka, tetapi mereka terkena tipu oknum tidak bertanggung jawab yang membawa kabur hasil jeri payah mereka selama ini.
            “sedih sudah barang tentu nak, mungkin Allah belum mengizinkan kami untuk berkunjung ke sana” Ucapan Bapak kala itu
            Aku sangat bangga memiliki orang tua yang memiliki kesabaran luar biasa seperti mereka.
* * *
            Mentari pagi bersinar hangat, burung-burung bernyanyi dengan kicauan. Suasana alam di kampung ini masih cukup kental terasa, berat sekali rasanya harus beranjak pergi meninggalkan kembali kampung kelahiran dengan udara yang bersih.
            Aku menemui ibu di kursi kayu depan rumah, beliau tengah duduk sendiri menyantap teh hangat dan singkong rebus.
            “Sarah..mari nak duduk sini” ibu berujar ketika menyadari langkahku mendekatinya
            Aku pun duduk di dekat ibu.
            “kamu mau berangkat jam berapa ?”
            “Nanti bu..sekitar jam 10 an” jawabku
            Ibu menghela nafas “ibu itu sebenarnya masih kangen sama kamu”
            Aku menggenggam tangan ibu “Sarah juga bu, jika saja Sarah bisa memilih, ingin sekali rasanya tinggal lebih lama bersama Ibu”
            “ya, sudah nduk..kamu kan harus segera kembali ke kota. Banyak tanggung jawab yang harus kamu selesaikan”
            “Ibu ikut Sarah aja ya ke kota. Biar Sarah bisa menjaga ibu” Untuk kesekian kalinya aku membujuk
            Ibu menggeleng tersenyum “Ibu ndak akan sanggup hidup di kota besar. Ibu sudah cukup bahagia tinggal disini”
            Aku pun tak sanggup lagi untuk terus membujuknya.
            Sebelum waktu menunjukan jam 10 aku berpamitan pada Ibu, ku cium tangannya terlihat kembali mata sendunya melepaskan kepergianku.
* * *
            Perjalanan kereta yang memakan waktu hampir seharian, berhasil membuat pinggangku pegal-pegal. Keluar dari stasiun aku segera mencari taksi untuk mengantarku kembali ke kontrakanku.
            Telepon genggamku berdering, di layar tertera nama kontak Annisa.
            “Assalamualaikum..” sapaku
            “Wa alaikumsalam warrahmatullah..”jawab suara di seberang
            “Ada apa ka?” tanyaku
            “kamu sudah kembali ke Jakarta ?”
            “baru tiba ka’ ini masih di jalan mau ke kontrakan”
            “bagaimana kabar ibu ?”
            “Ibu sehat, beliau bahkan titip salam untuk kakak dan keluarga. Ibu bertanya kapan kalian akan mengunjungi Ibu ?”
            “Aku belum sempat, Mas Guntur saja masih sibuk berlayar, Syakira belum bisa diajak untuk berpergian jauh…”
            Cerita pun terus berlanjut.
            Annisa adalah kakak kandungku, ia telah menikah dan sudah lama tinggal di Jakarta. Sebenarnya Ka’Annisa adalah orang yang baik, hanya saja ia memang cukup perhitungan masalah finansial. Cukup wajar karena ia bekerja di perbankan bagian keuangan. Ketika permasalahan yang menjerat Bapak dan Ibu yang terkena tipu waktu itu, Ka’ Annisa lah yang paling marah.
* * *
Setibanya di kamar kontrakanku, aku merapikan barang-barang yang sekiranya cukup berantakan karena di tinggal penghuninya.
‘praaaaang’
Suara kaleng terjatuh, aku mengambil dan hendak membuangnya ke kantong plastik yang sudah berada di tanganku semenjak tadi. Tapi tunggu aku jadi teringat sesuatu.
Dari kaleng bekas seperti ini lah Bapak mendidikku untuk bersikap hemat, menyisihkan sebagian hak yang kita miliki selebihnya di sisihkan untuk kewajiban seperti sedekah maupun infak. Bapak yang bekerja sebagai tukang bakso keliling di kampung selalu membawa beberapa kaleng di gerobaknya. Tak sedikit orang yang menyindir dan mengejek Bapak di kala beliau mengatakan bahwa ia menyiapkan satu kaleng untuk menunaikan niatnya menginjakan kaki ke Baitullah. Sedikit demi sedikit beliau sisihkan selama beberapa tahun hingga uang yang dikumpulkan tercukupi, walau pada akhirnya kenyataan berkata lain dimana ada saja orang-orang yang tega menodai niat suci seperti Bapak dan Ibu.
“Bukan rezeki kita nduk, mungkin orang tersebut lebih membutuhkan uang itu. Insya Allah akan digantinya yang hilang nanti dengan yang lebih baik” ucapan Ibu, coba menanangkanku yang  kala itu justru aku lah yang paling tidak ikhlas dengan musibah tersebut hingga menangis. Ka’ Annisa bahkan sudah melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib namun tak pernah ada hasil, oknum-oknum tersebut selalu berhasil lolos.
Sesungguhnya, jika saja Bapak dan Ibu mau menerima tawaran mas Guntur untuk berangkat ke Mekah beberapa tahun silam pasca musibah itu mungkin gelar Haji telah tersemat di depan nama mereka. Namun, Bapak dan Ibu menolak secara halus niat baik Mas Guntur, karena saat  itu mereka tahu betul bahwa Mas Guntur dan Ka’ Annisa sedang berjuang merintis usaha dan memperbaiki kondisi kehidupan keluarga mereka.
Musibah yang menimpa Ibu dan Bapak tidak menyurutkan niat mereka untuk bisa menginjakan kaki ke tanah suci. Mereka pun memulai kembali sdikit demi sedikit kali ini dengan usaha yang lebih keras dari sebelumnya, tapi aku selalu dapat pancaran keikhlasan di wajah mereka.
Bapak itu adalah laki-laki yang baik dan lugu, beliau bahkan pernah di tipu oleh saudaranya sendiri perihal harta warisan dari kakek. Sehingga pematang sawah dengan jumlah berhektar-hektar itu pun raib di ambil alih olah saudara-saudaranya.
“Bapak kenapa tidak bersikap tegas. Kenapa saudara-saudara Bapak itu tega sekali mengambil hak waris yang harusnya jatuh ke tangan Bapak ?” itu pertanyaan yang ku ingat yang di lontarkan Ka’ Annisa, saat itu usiaku baru sepuluh tahun dan belum terlalu memahami apa maksud pembicaraan mereka
“Kita tidak boleh tamak nak. Harta itu tidak di bawa mati, kelak nanti ketika Bapak tiada pun Bapak lebih ingin mewariskan kalian dengan ilmu dan budi pekerti yang baik yang akan mendoakan Bapak. Karena doa anak-anak yang saleh akan menjadi amalan tak terputus bagi orang tuanya ketika di alam keabadian” terang Bapak membelai rambutku dan Ka’Annisa.
Bapak dan Ibu mendidik kami dengan sangat baik, bukan dengan harta benda tapi lebih kepada dasar-dasar ilmu agama. Hal itulah yang membuat kami tumbuh menjadi manusia yang lebih takut pada Tuhan-Nya dan bersikap mandiri.
Dua tahun berlalu, dari Bapak dan Ibu memulai kembali langkah ikhtiar mereka. Bapak runtuh, beliau jatuh sakit dan menurut diagnose dokter Bapak mengalami sakit Liver yang sudah cukup parah karena terlambat penanganannya. Uang yang telah dikumpulkan kembali pun habis untuk perawatan dan obat-obatan Bapak. Namun, Allah berkehendak lain, genap satu bulan perawatan Bapak akhirnya harus menyerah dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku bahkan sempat pingsan ketika jasad Bapak hendak di kebumikan, meski aku tahu dalam hal ini Ibu lah yang paling merasa terpukul atas kehilangan belahan jiwanya. Beruntung sertifikat rumah yang digadaikan untuk pengobatan Bapak dapat ditebus kembali oleh Ka’ Annisa.
* * *
Hari pertama ku masuk ke kantor setelah beberapa hari cuti, aku melewati papan pengumuman dan terhenti berdiri karena ada informasi yang membuatku tertarik. Perusahaan akan memberikan reward kepada kearyawan yang telah lama mengabdi di perusahaan tempatku bekerja, yakni sebuah perjalanan religi umrah ke tanah suci.
Aku berfikir sejenak
“mungkin ini bisa menjadi salah satu jalan untuk dapat mewujudkan harapan Ibu” aku bergumam dalam hati
Meskipun aku tahu, pasti tak mudah Karena sebelumnya ada beberapa tes yang harus di lalui belum lagi peserta yang ikut pun aku tahu pasti tidak sedikit. Kriteriaku telah terpenuhi dari beberapa syarat yang diajukan aku pun segera meminta formulir ke bagian HRD.
“Semoga Engkau meridhai ikhtiarku ya, Allah”
Serangkain tes kujalani, aku bahkan hampir menyerah di buatnya. Hasil keputusan tiga bulan ke depan. Akupun tak berani banyak berharap, jika itu memang rezeqiku Allah pasti akan memudahkan jalan-NYA.
Runtinitas pekerjaan telah menyita perhatianku bahkan aku hampir melupakan satu hal jika saja salah seorang teman tidak memberitahukannya.
“Sarah…selamat ya, kamu salah satu karyawan yang mendapat reward..” ucapnya datang tergopoh-gopoh ke meja kerjaku
Reward ? reward apa ?”aku justru jadi lupa ingatan
reward umrah itu..”
Senyum bahagia menghiasi wajahku “Sungguhkah ? namaku ada di salah satu yang terpilih ?”
Akupun segera berlari menuju ruangan HRD dan menanyakan perihal tersebut.
“Iya..selamat ya Sarah. Kamu berhasil mendapatkan reward untuk perjalanan religi umrah ke tanah suci untuk dua orang” ucap Ibu Rita selaku manager HRD
“Dua orang bu ?” antara percaya dan tidak percaya bercampur rasa bahagia dan haru
“iya..reward ini memang di peruntukan hanya untuk lima karyawan terpilih, namun dua dintaranya di beri kesempatan untuk mengajak satu orang. Jadi total kami memberangkatkan tujuh orang untuk Umrah” Ibu Rita menjelaskan
“Alhamdulillah…” rasa syukur tak henti terucap dari mulutku
Aku pun tak sabar untuk segera mengabari ibu di kampung.
* * *
Setengah tahun berlalu, tak henti ibu meneteskan air mata kala berdiri di depan ka’bah, dan mendoakan orang-orang terkasihnya.
Ketika beberapa hari perjalanan umrah tersebut kini aku bisa melihat senyum ibu. Senyum bahagianya di kala telah berhasil mewujudkan harapan dan impiannya untuk menunaikan perjalanan umrah ke tanah suci.
Allah memang telah merencanakan semuanya dengan indah, diberinya kesempatan aku bersama Ibu untuk menunaikan Umrah bersama dengan fasilitas terbaik yang aku dapat dari reward tempatku bekerja. Semoga suatu hari nanti bisa ku genapkan menunaikan ibadah haji untuk kembali ke tanah haram, negeri tempat kelahiran Rasulullah.

_ T A M A T 

4 komentar:

  1. Subhanallah, terharu sekali… ditunggu tulisan selanjutnya (penasaran)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sahabat, sudah bersedia mampir dan sejenak membacanya ^_^

      Hapus
    2. Terima kasih kembali sahabat, :) salam

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus