Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Senin, 13 Oktober 2014

Cerita Perjalanan Dieng-Prau ( II ) : Summit Gunung Seribu Bukit

Kembali melanjutkan cerita sebelumnya, kami semua bersiap-siap untuk summit gunung Prau dengan ketinggian 2565 mdpl. sedikit ulasan tentang gunung Prau, berada di perbatasan kabupaten Kendal dengan Wonosobo, Jawa tengah. Gunung yang juga di kenal sebagai gunung seribu bukit, asal muasal nama prau sendiri disematkan karena  Gunung Prau ini terlihat seperti perahu terbalik bila kita melihat ke arah selatan dan barat daya dari jalan raya di sekitar Weleri, Kendal, dan sekitarnya.
Kami melewati jalur dieng dimana view awal yang kami saksikan adalah hamparan perkebunan sayur yang sangat luas dan subur. Tanaman tumbuh dengan sangat baik di sana, ah..sungguh takjub dibuatnya. Untuk trecking kami saat itu tidak terlalu sulit, perjalanan yang cukup landai dengan hanya beberapa tanjakan, meskipun begitu tetap saja rasa lelah menggelayuti dan tidak sedikit di beberapa langkah perjalanan kami beristirahat, saling sapa dengan pendaki lain.
Karena kami memulai pendakian sekitar siang hari sekitar jam 2 an jika tidak salah. Kami pun sempat menyaksikan sunset di ketinggian, ah..betapa indahnya maha karya Tuhan. Berpadu bersama alam di langit senja yang mulai temaram bersama kawan-kawan seperjuangan. Itulah yang akan selalu menjadi kisah untuk bisa dikenang.
Perjalanan terus kami selusuri, hari semakin gelap dan dingin mulai menusuk-nusuk. Melewati hamparan bukit gunung teletubies kami terus berjalan di bawah langit yang mulai gelap. Akhirnya tiba juga kami di tempat camp, kalau saya memperkirakan sekitar tepat magrib karena saat itu ada seorang pendaki yang melantunkan adzan, semakin membuat teduh dan hikmat dikala bisa mengagungkan nama ilahi di hamparan alam nan luas seperti itu.

Setelah tenda selesai dibangun dan peralatan di siapkan, segala konsumsi dikeluarkan sebagian yang lain bersiap untuk memasak panganan, dan yang lainnya merapihkan tenda tempat beristirahat.Karena tidak kuat dengan dinginnya angin yang menerpa bahkan tenda kami pun sampai bergoyang-goyang, akhirnya kami memutuskan untuk membuat makanan di dalam tenda.

Usai makanan selesai disajikan, kami menyantapnya bersama. Selesai itu menjelang tidur untuk saling mengakrabkan satu dan yang lainnya di buat permainan. Ya..ada canda, tawa, ceria, semua berpadu. Saya sempat keluar tenda, wuahh..taburan bintang di angkasa sungguh sangat mempesona sayangnya saya tidak dapat mengabadikan moment tersebut karena camdig tidak dapat mengkap gambar kerlap kerlip keindahan bintang-bintang yang bertabur indah tersebut.

Sekitar jam 10 an kami bersiap-siap istirahat untuk hunting sunrise esok pagi, pastinya moment seperti ini lah yang selalu di nantikan saat menadaki gunung. Sekitar pukul 5 pagi usai menunaikan shalat subuh saya menyusul yang lain berjalan ke arah perbukitan. Dinginnya pagi kala itu sungguh-sungguh menusuk tulang, menggigil di buatnya.
menyaksikan hamparan samudera awan yang sangat memikat, mananti sang surya menyapa dunia. Dari sebrang bisa terlihat sangat jelas gunung sindoro dan sumbing yang bisa disaksikan dari gunung Prau ini. Kami menelusuri lokasi, mencari-cari tempat dan view yang menarik untuk diabadikan dan satu hal yang pasti jeprat-jepret kamera sudah menjadi hal yang lumrah.
Sekiranya cukup menikmati pemandangan indah di sekitaran Prau, kami kembali ke tempat camping memasak untuk santap makan pagi dan bersiap-siap packing untuk turun gunung. Jika tidak salah perkiraan kami bersiap-siap turun kala itusekitaran jam 09.30 kembali menelusuri jalan, melewati perbukitan teletubies (sayang saat kami ke sana rerumput bukit tidak menghijau seperti saat musim penghujan).

Siang, tengah hari kami sudah meninggalkan kawasan pegunungan Prau. Kami singgah sebentar untuk bersih-bersih diri di rumah penduduk yang tak lain adalah guide yang menemani selama perjalanan kami. Setelahnya kami singgah di pusat oleh-oleh dan menyantap makanan khas Dieng, Mie Ongklok.

Sekitar jam 4 sore kami tiba di terminal, beradu berkejar bersama waktu karena informasi yang kami dapatkan mobil terakhir menuju Jakarta adalah jam 4 sore. Namun, ternyata meleset bus berangkat ngaret dan baru meninggalkan terminal di jam 5 sore. Alhasil tibalah kami di Jakarta di luar perkiraan sebelumnya, saling berlomba bersama waktu mengejar aktivitas dan runtinitas sebagaimana biasanya.


Saya menemukan quote yang cukup menarik seperti berikut :
Travelling itu membuat kita mengenal siapa kita sebenarnya. Bagaimana kita bereaksi pada hal Yang tidak di inginkan ketika di tempat baru.

10 komentar:

  1. Heeeem pengalaman yang mengasikan bisa mendaki dan menyatu dengan alam... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat mengasyikan dan sangat berkesan pastinya

      Hapus
  2. Tidak semua orang bisa mendaki karena alasan tertentu. Tulisanmu memenuhi keingintahuan orang-orang demikian

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mba..semoga artikelnya bermanfaat ^_^

      Hapus
  3. mbak mbak.. nyampe jakarta jam berapa?

    aku juga mau ke prau niih,tapi via kereta bukan bus :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita naek bus kurang lebih perjalanan 14 jam tergantung macet atau ga..setiba di jkt saat itu jam 06 pagi di terminal kp. rambutan. mungkin klo kereta bisa lebih cepet :)

      Hapus
  4. semoga saya bisa ke sana. Aamiin ^_^

    BalasHapus
  5. saya belum pernah lewat jalur dieng, yg katanya lebih landai drpd jalur patak banteng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, ga sesadis di petak banteng :D

      Hapus