Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Rabu, 06 Agustus 2014

Senyum Keceriaan di Idul FItri

Kala itu mentari pagi hangat menyinari, suasana yang cerah menambah keceriaan bagi umat muslim dalam menyambut kemenangan selepas sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Gema takbir telah menggema sejak sore sebelumnya, mengungkan kebesaran nama ilahi. Seluruh masyarakat muslilm berbondong-bondong menuju masjid terdekat untuk menunaikan shalat iedul fitri, tak terkecuali saya dan keluarga. Masjid lebih ramai dari biasanya, hal yang lumrah terjadi. Dua rakaat pun ditunaikan, dilanjutkan khutbah dari khatib yang bertugas kala itu mengenai makna idul fitri.

Usai menunaikan shalat ied, kami sekeluarga saling bermaafan. Di sinilah kesyahduan di rasakan ketika permintaan maaf  terhantur kepada orang tua dan mendapatkan pelukan hangat di kemudiannya. Selepas itu open house kepada para tetangga dan saudara yang datang silih berganti, saling bersilaturahim bermaaf-maafan. Ada yang pernah menyatakan ketika tangan saling berjabat dengan hati yang tulus maka lunturlah segala kesalahan.Lalu kemudian giliran kami sekeluarga bergantian berkeliling menyusuri rumah tetangga dan saudara di sekitar yang kiranya di tua kan.
Ada senyum dan tawa melengkapi perayaan idul fitri, moment dimana biasanya keluarga besar saling berkumpul. Meski mungkin ada saat dimana tangis menjadi pecah ketika semakin menyadari bahwa sudah ada beberapa diantara keluarga yang telah tiada, namun keharuan yang singgah tidak menjadikan idul fitri penuh duka. Jumlah keluargapun semakin bertambah karena hadirnya anak-anak dari sepupu yang telah berkeluarga semakin melengkapi keceriaan dan riuhnya kebersamaan. Tentu saja yang paling tidak ketinggalan di moment idul fitri itu adalah saat anak-anak kecil mengantri meminta ampau seakan sudah menjadi tradisi serta kebiasaan yang telah lama ada dan menjadi ciri khas.

Senyum Keceriaan idul fitri bersama keluarga
Warna-warni idul fitri seakan merekahkan senyum pada langit, seluruh umat muslim saling melebur dalam suka cita. Tak ada lagi kebencian tak ada lagi dendam. Semua saling berlomba-lomba tampil berbeda dan mempesona dengan pakaian-pakaian baru yang telah jauh di persiapkan untuk tampil lebih baik di hari raya. Tempat tinggal yang ditata sedemikian rapi bahkan tak sedikit orang pun merenovasi rumah agar terasa lebih nyaman ketika menyambut para tamu. Segala hidangan dan kue beraneka ragam di suguhkan.

Menikmati ibu kota yang lebih senyap dari biasanya, berkeliling ke rumah-rumah saudara lain yang memilih untuk menetap ke pinggiran Jakarta. Bahkan ada seorang teman yang mengatakan lebaran di kampung jauh lebih ramai di banding moment idul fitri di ibu kota. Di Jakarta perayaan idul fitri mungkin tak semeriah di beberapa pelosok daerah tanah air yang khas akan tradisi, namun bukan berarti perayaan idul fitri menjadi kehilangan makna. Hari kemenangan tidak menjadikan perbuatan baik yang telah di tanam dan dilatih selama ramadhan harus usai, justru menjadi awal menempa diri menjadi insan yang lebih baik serta bertakwa.

Senyum idul fitri itu, bukan masa saat berhura-hura atau meriuh ramaikan dengan bunyi petasan yang memekakan telinga. Masa dimana seharusnya saling menginstropeksi diri  untuk perbaikan ke arah yang lebih baik. Sebagaimana slogan yang sering di gaungkan kembali suci di hari yang fitri.

Ramadhan mungkin telah berlalu, Idul fitri sudah lebih sepekan terlewati namun suasana masih terasa hingga kini. Semua masih saling bermaafan di kala idul fitri tak ada perjumpaan. Semoga saja hikmah idul fitri itu sendiri tak pernah lekang, dengan saling tetap menjalin silatuhim, meruntuhkan segala dendam hingga senyum antar sesama tak akan pernah pudar.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar