Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Rabu, 14 Mei 2014

Kutemukan Cinta di Merbabu

Hari ini adalah langkah awal baru bagiku, yang akan menjadi pengalaman pertama untukku berpetualang di alam bebas bersama beberapa orang teman yang memang sudah sangat berpengalaman menjelajahi ketinggian gunung. 

           http://img.lensaindonesia.com/uploads/1/2014/02/mau-tahu-cara-rayakan-valentine-berkesan-tapi-tetap-murah-4-300x200.jpg
               Bersama delapan orang lainnya berangkatlah kami ke stasiun menggunakan transportasi kereta api  yang akan mengantar kami ke tujuan kota Semarang yang kemudian dilanjutkan menggunakan bus nantinya. Kawasan pegunungan Merbabu akan menjadi sejarah bagiku yang sejatinya sangat takut akan ketinggian. Ketika tengah asyiknya berbincang dengan salah seorang sahabatku saat berjalan mendekat ke pintu masuk stasiun, langkahku terhenti kala melihat sosok tinggi dan tegap itu berdiri di peron stasiun.
              

             Salah seorang dari kami menyapanya, rupanya ia sudah menunggu lama kedatangan kami.
            "Teman-teman ini adalah senior kita, Tegar yang akan memimpin ekspedisi petualangan kita kali ini” Adam mengenalkannya
            “Hai..semua. Persiapan kalian sudah lengkap kan ?” Sapanya di lanjutkan pertanyaan kemudian
            Dalam hati ku bergumam “oh..ternyata namanya Tegar “ dia seorang senior yang tinggal beberapa bulan lagi akan melewati sidang skripsinya yang aku tahu tentangnya ia memang pecinta alam sejati, entah sudah berapa gunung dan alam yang telah di jelajahinya di negeri ini. Sejak awal melihatnya dulu saat aku menjadi mahasiswa baru di kampus , aku sudah menyimpan ketertarikan padanya ketika itu ia menjadi wakil senat. Ah, tapi siapalah aku hanya seorang mahasiswi biasa yang tidak popular. Tegar itu sosok laki-laki cuek dan dingin, itulah kenapa begitu sulit mencuri perhatiaannya mungkin sudah berpuluh-puluh mahaiswi patah hati karenanya.
            Kami semua memulai perjalanan dan menghabiskan beberapa jam di perjalanan hingga tiba di basecamp. Adam dan Tegar yang mengurus perizinanan, kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali. Karena hari sudah menjelang sore kami pun membagun tenda untuk beristirahat.
            Saat malam hari,dari balik tenda aku melihat Tegar memetik gitar dan bersenandung pelan. Ia semakin membuatku terpesona.
            “Putri..kamu tidak ikut keluar ? menghangatkan badan di api unggun dan minum kopi hangat”
Tanya Dini, sahabatku memasuki tenda dengan segelap moccacino hangat favoritenya
            “aku cape, ingin langsung tidur aja”
            “ayo keluar dulu, ada informasi yang ingin disampaikan Tegar” Dini menarik sleeping bag yang hendak ku kekenakan dan akhirnya aku  menyerah mengikutinya keluar berkumpul bersama yang lain.
            “Teman-teman, pendakian akan kita mulai menjelang subuh hari, harapannya kita bisa menikmati matahari terbit dari puncak Merbabu” Tegar memulai ucapannya di sambut senang dan sorak riuh teman-teman  mengeluarkan pendapatnya masing, sedangkan aku hanya semakin kelu menatap mata elang laki-laki di hadapanku ini dimana kini ia tengah menjadi central perhatian teman lainnya.
            Malam semakin gelap, kami pun beristirahat di tenda masing-masing. Aku berusaha mencari posisi nyaman agar mata mau terpejam  melawan dinginnya malam. Tepat pukul empat pagi kami semua sudah siap bergegas untuk melanjutkan pendakian, barang-barang ditinggal di tenda dan kami mulai mendaki dengan berbekal alat penerangan dan keperluan logistik secukupnya.
            Beberapa jam kami melakukan perjalanan, dan kerap kali aku merasa kelelahan begitupun beberapa yang lain. Tegar begitu sabar menghadapi kami yang umumnya adalah pendaki pemula bahkan tak segan  ia meolong mengulurkan tangan membantu perjalanan ketika melewati medan yang sulit.
            “ulurkan tangannya” Tegar mengulurkan tangan untuk membantu aku berjalan di tebing ketinggian dan aku  menyambutnya, ah..ada perasaan senang seakan hati berdetak kencang ingin melompat keluar
            Dengan susah payah, akhirnya aku dan teman-teman yang lain berhasil sampai di puncak Merbabu. Hamparan samudra awan yang indah menyambut dan memanjakan mata kami, secercah sinar mentari merangkak naik. Betapa indah kuasa Tuhan, sebuah maha karya tak ternilai, dari puncak Merbabu ini pun terlihat semburat gunung Merapi yang berselimutkan awan putih.
            Aku memandang sekeliling tak henti mengagumi panorama alam nan indah ini.
            “Seorang pendaki akan merasakan kepuasan yang luar biasa saat ia berhasil mencapai puncak. Seperti itu adanya pula filosofi kehidupan” Tegar tiba-tiba saja sudah berada disampingku, ia berucap beradu dengan angin dan kabut pagi
            Aku memandang menatapnya dan kembali berpaling di kala mata kami saling beradu
            “iya..benar, seperti filosofi hidup. Untuk mencapai puncak tertinggi membutuhkan perjuangan yang gigih dank kerja keras serta pantang menyerah akan kau temukan indahnya keberhasilan setelah kepayahan.” Aku menanggapi ucapannya
            “ternyata kamu mampu memahami arti sebuah filosofi” Tegar berucap dengan senyum termanis yang dimilikinya
            “dan aku juga baru tahu seorang Tegar yang dingin ternyata memiliki senyum yang manis juga” aku mencoba menyambut ucapannya dan berusaha untuk semakin mencairkan suasana
            “Tegar…Putri, berkumpul disini. Kita berfoto bersama” teriak Adam di sat puncak, sisi yang lain
            Setelahnya, kami pun turun untuk kembali ke tenda. Di saat istirahat itulah aku mengeluarkan kameraku, hasil jepretan amatir seorang Putri. Di beberapa banyaknya slide foto pemandangan dan tentu saja diriku, terselip gambar-gambar Tegar yang aku ambil secara diam-diam. Ah, dia tetap keren meskipun wajahnya tak menghadap langsung kamera.
            Di sebuah sudut aku melihat Tegar tengah asyik membidik alam dengan kameranya, ia begitu menikmati kesendiriannya mengabadikan pemandangan kawasan Merbabu.
            “Tegar..kita balik ke basecamp jam berapa ?” Adam menghampiri
            “dua jam lagi kurang lebih, beritahu saja dulu yang lain untuk siap-siap”
            Tegar duduk diatas rerumputan, disusul kemudian Adam
            “coba gua liat hasil jepretan lo” pinta Adam
            dengan sukarela Tegar memebrikan kamera dslr nya begitu saja, sepertinya ada hal yang dia lupakan. Adam begitu seksama melihat hasil potret karya Tegar sambil sesekali mengagumi bidikan seoraang finalis fotografi di sebuah tabloid nasional itu. Di sebuah slide, Adam terlihat mengerutkan kening saat terpampang beberapa candid camera dengan satu objek yang sama.
            “kenapa banyak foto Putri di sini ?” Adam bertanya heran
            Tegar yang tadi mulai berbaring di rerumputan segera menyadari ke khilafannya, dan merebut kembali kameranya dari tangan Adam.
            “bukan apa-apa. Hanya objek, natural banget ya dia” Tegar berusaha untuk mengalihkan
            “ahh..lo suka kali sama Putri. Ngaku aja sob sama gue” Adam mulai menggoda
            “Ga…” Tegar menjawab salah tingkah dan pergi meninggalkan Adam
            “Kalau suka bilang, sebelum diambil orang nantinya” Adam berteriak berusaha agar Tegar mendengar ucapannya
            Tegar berjalan ke arah tendanya, melewati pelataran tempat api unggun semalam. Tegar mencoba bertanya perihal keramaian yang tengah terjadi
            “wah..seru banget kayanya ada apa ini ?” tegar bertanya penuh rasa ingin tahu
            “itu si Putri di tembak Radit pake lagu. Romantis banget” Dini memberikan jawaban
            Seketika itu juga wajah ceria Tegar berubah seratus delapan puluh derajat, ia langsung bergegas memasuki tendanya.
            Selama perjalanan turun kembali ke basecamp tak henti-hentinya godaan teman-teman mengiringi langkah karena kejadian yang dilakukan Radit tadi.
            Perjalanan kali ini di pimpin oleh Adam, sedangkan Tegar berada di belakang kami.
            “kenapa wajah Tegar muram seperti itu ?” aku bertanya dalam hati sambil sesekali memperhatikan Tegar dan langkahku
            Namun  tiba-tiba saja kakiku terantuk sebuah batu dan mengeluarkan darah yang terus mengalir. Aku mencari tempat yang agak datar dan dengan sigap Tegar mengeluarkan perlengkapan P3k kemudian mengobati lukaku.
            “Yang lain boleh jalan duluan. Nanti kita ketemu di basecamp” Tegar memerintahkan
            Adam tetap memimpin perjalanan teman-teman yang lain. Dari kelompok kami yang tersisa adalah Radit, Tegar dan tentu saja aku.
            “Apa kamu masih kuat berjalan ?” tanya Tegar
            Aku berusaha berdiri namun aku kembali terjatuh. Rasanya aku ingin menangis kala itu.
            “Naiklah ke punggungku” Ucap Tegar
            “Apa ?” aku pasti salah mendengar
            “Jika ingin segera sampai, cepat naik kepunggungku”
            Akhirnya kupun menurutinya, walau merasa agak tidak enak hati sebelumnya. Carriel milikinya dibawakan Radit, sedangkan milikku sudah dibawakan Adam sejak tadi.
            “betapa nyamannya punggung Tegar ini” aku berkata dalam hati
            “kamu bicara sesuatu ?” tanyanya
            “Ah..tidak. “ aku  mengelak “Aku minta maaf sudah sangat merepotkan kamu dan yang lainnya” sesalku
            “ga apa-apa, hal ini bisa terjadi pada siapapun ko” jawabnya lembut
            Radit sudah berjalan jauh di depan kami.
            “Aku dengar kamu baru jadian sama Radit. Selamat ya” Ucap Tegar
            “Aku ga jadian sama Radit” jawabku singkat
            “kenapa ?”
            “Sudah ada orang lain yang mengisi hatiku”
            “siapa ?”
            Aku bingung harus menjawab apa “ehmm..laki-laki dingin yang memiliki senyum yang manis” jawabku sekenanya
            Tegar terlihat berfkikir dan tiba-tiba saja langkahnya menjadi penuh semangat.
            “kamu ko jadi senyum-senyum begitu “ tanyaku heran
            “hanya merasa bahagia saja. Aku pikir aku telah kalah, namun ternyata love never fails” jawabnya seraya menyunggingkan senyum merekah
            Aku tersipu “ternyata selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tegar pun memiliki perasaan serupa.” Bisik ku dalam hati
            Tegar begitu hati-hati membawaku di punggungnya, dan hal  ini semakin membuatku merasa nyaman berada dekat dengannya.

# T A M A T #

Tidak ada komentar:

Posting Komentar