Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Rabu, 02 Oktober 2013

Mengenal Motif Batik dan Filosofinya

Menyambut hari batik nasional pada tangggal 02 oktober ini, saya akan memposting tentang suatu hal yang berkaitan dengan kebudayaan istimewa warisan asli Indonesia, yup tak lain dan tak bukan mengenai batik.

Batik adalah sebuah mahakarya seni Indonesia yang mendunia dan menjadi kebanggaan kita semua. Sebagai warisan dari leluhur, batik harus dilestarikan. Di balik kecantikan motifnya, ternyata ada filosofinya lho. Batik tidak hanya tentang motif dan warna, tapi juga arti mendalam di setiap motifnya.

Beberapa motif batik yang kita tahu seperti parang, sido luhur dan lain sebagainya lahir dari sebuah filosofi yang 'diawetkan' dalam sebuah motif batik. Setiap pembuat batik membuat batik dengan hati-hati, seksama dan nyaris tanpa cela karena batik menyimpan sejuta makna. Ini dia arti filosofi dari beberapa motif batik yang bakalan akan membuat Anda terpesona.
1. Sido Luhur
http://antoniuscp.files.wordpress.com/2013/03/sidomulyo.jpg
Motif satu ini biasanya dipakai oleh pengantin saat resepsi atau upacara pernikahannya. Dengan motif dasar seperti wajik, batik satu ini memang memiliki kemewahan tersendiri. Tidak hanya cantik, batik Sido luhur memiliki filosofi yang dalam. Saat pengantin menggunakan batik bermotif sido luhur ini diharapkan mereka akan berbudi luhur dan menjadi pasangan suami istri yang bermartabat.

2. Sido Mulyo
http://pareanom.com/wp-content/uploads/2012/12/bap-456-wiyar-yogya-tulis-petilan-sidomulyo-granit-1.jpg
Hampir sama dengan sido luhur, motif dasar batik ini adalah wajik. Namun detil dan warnanya lebih muda. Filosofi dari batik motif sido mulyo adalah harapan agar keluarga yang dibina akan terus menerus mendapat kemuliaan meskipun mendapat suatu kesulitan. Bahasa Indonesia dari kata mulyo adalah mulia.

3. Sekar Jagad
 http://adiyuta26.files.wordpress.com/2013/03/sekar-jagad.jpg
Motif batik Sekar Jagad lebih kompleks dan berwarna-warni. Batik ini cocok digunakan oleh wanita yang menyukai fashion dan sentuhan colourful dalam baju yang digunakannya. Motif dasar dari batik Sekar Jagad adalah ornamen motif ini berupa aneka bunga dan tanaman yang tumbuh di seluruh dunia, tersusun di dalam bentuk-bentuk elips.

Seperti warna warninya yang ceria, batik ini memiliki filosofi kebahagiaan dan kegembiraan. Bila Anda akan melangsungkan acara syukuran atau akan diwisuda, batik motif Sekar Jagad cocok dipakai untuk mengekspresikan kebahagiaan Anda.

4. Parang
 http://2.bp.blogspot.com/_puKeKOGUkLA/TUu2DeIz7fI/AAAAAAAAAFQ/PTTW7DFKH8A/s1600/PARANG.JPG
Sederhana, seperti itulah gambaran dari batik parang. Dibuat di atas kain berwarna putih, batik parang didominasi warna cokelat dan krem. Motifnya tidak banyak ornamen, sederhana dan membumi. Motif parang ini memiliki filosofi dan 'aturan' untuk pemakainya. Motif parang yang sederhana namun warnanya tajam melambangkan ketajaman berpikir dan kepemimpinan.

Motif parang termasuk ragam hias larangan, artinya hanya raja dan kerabatnya diijinkan memakai. Besar kecilnya motif parang juga menyimbolkan status sosial pemakainya di dalam lingkungan kerajaan. Ukuran motif parang pun diatur karena motif ini termasuk salah satu motif yang dibuat secara khusus.

5. Udan Riris
http://ibuontosoroh.files.wordpress.com/2011/07/udan-riris.jpg
Hujan, dimaknai sebagai rezeki. Air yang jatuh dari langit, mengaliri sungai-sungai, parit-parit di sawah, sumur di rumah-rumah. Udan dalam bahasa Indonesia berarti hujan, dan makna dari batik dengan motif asimetris ini adalah rezeki yang mengalir tiada henti. Orang-orang biasanya menggunakan batik motif ini saat sedang panen raya, mendapatkan banyak rezeki dan momen-momen bahagia lainnya.

6. Kawung
 http://batik-kendal.com/wp-content/uploads/2013/07/MOTIF-BATIK-KAWUNG.jpg
Motif ini konon diciptakan oleh salah satu Sultan Mataram. Motif ini diilhami oleh sebatang pohon aren yang buahnya kita kenal dengan kolang kaling. Motif ini dihubungkan dengan binatang kuwangwung. Pohon aren dari atas (ujung daun) sampai pada akarnya sangat berguna bagi kehidupan manusia, baik itu batang, daun, nira, dan buah. Hal tersebut mengisyaratkan agar manusia dapat berguna bagi siapa saja dalam kehidupannya, baik itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Makna lain yang terkandung dalam motif kawung ini adalah agar manusia yang memakai motif kawung ini dapat menjadi manusia yang ideal atau unggul serta menjadikan hidupnya menjadi bermakna. Motif Kawung ini biasanya digunakan oleh kerabat kerajaan.

7. Ceplok
http://harryani.files.wordpress.com/2010/11/ceplok-bligon.jpg
Motif ini merupakan modifikasi dari motif kawung. Motif ini dihubungkan dengan kepercayaan orang Jawa, yaitu Kejawen. Dalam ajaran Kejawen ada kekuasan yang mengatur alam semesta. Disini Raja dianggap sebagai penjelmaan para dewa. Raja ini dikelilingi oleh para pembantunya yaitu para bupati. Orang jawa memaknai ini sebagai “kiblat papat kelimo pancer”. Dewa atau Tuhan sebagai pusat yang mengatur segala. Arah timur mengartikan sumber tenaga kehidupan, karena arah dimana matahari terbit. Arah barat mengartikan sumber tenaga yang berkurang, karena tempat tenggelamnya matahari. Arah selatan mengartikan puncak segalanya, dihubungkan dengan zenith. Arah utara sebagai arah kematian.

8. Semen 
http://2.bp.blogspot.com/-aNNe_FxKVp4/TcdQ5aI6bAI/AAAAAAAAAG4/Geyj7CKxrrk/s1600/semen+jlekithit+bledhak.jpg
Motif ini berasal dari kata sami-samien, yang berarti berbagai macam tumbuhan dan suluran. Pada motif ini sangat luas kemungkinannya dipadukan dengan ragam hias tambahan lainnya, antara lain: naga, burung, candi, gunung, lidah api, panggungan dan lar, sawat atau sayap. Apabila ditinjau dan dirangkai secara keseluruhan dalam motif batik Semen mempunyai makna bahwa hidup manusia dikuasai (diwengku) oleh penguasa tertinggi (Kartini, 2005, 11).

Dalam hidup, kehidupan kita sebagai manusia diwarnai dengan berbagai macam godaan yang menentukan jalan kita. Bila kita sesat maka kita akan terjerumus ke dalam neraka yang disebut sebagai tempat paling sengsara dan menyedihkan. Namun jika hidup kira diwarnai dengan kebaikan maka kita kan bahagia karena kita akan masuk surga sebagai tempat paling bahagia dan mulia. Motif ini biasanya digunakan oleh golongan menengah.

9. Truntum
http://ubatik.files.wordpress.com/2010/08/kawung-picis.jpg
Motif ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai symbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum). Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari penikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

10. Parikesit
http://4.bp.blogspot.com/_qJojdABfRXg/TUpJBMr7RqI/AAAAAAAAABc/7oh6G9pHgy4/s320/sepasang%2Bmerpati%2Bcopy.jpg
Mengandung makna bahwa untuk mencari keutamaan harus dilandasi dengan usaha keras dan gesit. Tentu usaha keras dan gesit itu tanpa harus meninggalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bukan sebaliknya usaha keras dan gesit dengan cara kotor, pasti akan sangat dihindari. Sebab dampak yang ditimbulkan akan sangat berat dan yang jelas pasti akan menjadi bumerang bagi diri-sendiri. Dengan usaha keras dan gesit itulah diharapkan bisa membangun keluarga inti yang sejahtera lahir dan batin.

11.  Sidamukti
http://ubatik.files.wordpress.com/2010/08/sido-mukti-2.jpg
Mengandung makna kemakmuran. Demikianlah bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat. Orang hidup di dunia adalah mencari kemakmuran dan ketentraman lahir dan batin. Untuk mencapai kemakmuran dan ketentraman itu niscaya akan tercapai jika tanpa usaha dan kerja keras, keluhuran budi, ucapan, dan tindakan. Namun untuk mencapai itu semua tentu tidaklah mudah. Setiap orang harus bisa mengendalikan hawa nafsu, mengurangi kesenangan, menggunjing tetangga, berbuat baik tanpa merugikan orang lain, dan sebagainya, agar dirinya merasa makmur lahir batin. Kehidupan untuk mencapai kemakmuran lahir dan batin itulah yang juga menjadi salah satu dambaan masyarakat Jawa dan tentu juga secara universal.
Kehidupan masyarakat Jawa banyak menggunakan simbol-simbol, termasuk pula dalam upacara daur hidup seperti mitoni. Masih banyak upacara-upacara lain yang menggunakan kain bermotif batik untuk perlengkapan upacara, seperti upacara ruwatan, upacara seserahan, upacara penobatan, upacara tolak bala, dan sebagainya.

12. Megamendung
 http://medogh.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/Batik-Mega-Mendung-Khas-Cirebon.jpg
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk megamendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus. Terlepas dari makna filosofi bahwa Megamendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehinga bentuknya harus menyatu. Dilihat dari sisi produksi memang mengharuskan kalau bentuk garis lengkung megamendung harus bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pada saat pemberian warna pada proses yang bertahap (dari warna muda ke warna tua) bisa lebih memudahkan 

13. Barong
 http://harryani.files.wordpress.com/2010/11/barong-purbonegoro.jpg
Motif batik ini berasal dari kata “batu karang” dan “barong” (singa). Parang Barong merupakan parang yang paling besar dan agung, dan karena kesakralan filosofinya motif ini hanya boleh digunakan untuk Raja, terutama dikenakan pada saat ritual keagamaan dan meditasi.

Motif ini diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta.

Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri

Batik yang selama ini kita beli dengan berbagai motif ternyata menyimpan filosofi yang dalam sekali ya. Betapa bangga kita tinggal di Indonesia, di setiap karya seninya tersimpan arti dan makna yang luhur dan bijaksana.
Sumber : Berbagai Sumber

3 komentar:

  1. ternyata motifbatik mempunyai makna dan filosofi yang dalam ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena Indonesia kaya akan budaya unik yg khas

      Hapus
  2. Terimakasih untuk sharing informasinya.. Tertarik untuk mempelajari cara membuat batik tulis, cara membuat batik cap, serta teknik pewarnaan batik?.. Anda bisa memesan paket cd belajar membatik di Fitinline..

    BalasHapus