Selamat Datang Sobat, Jangan Lupa Tinggalkan Jejak ya... ^_^
Monarch Butterfly 2

Jumat, 26 Juli 2013

Idul Fitri ( Lebaran ) Dengan Kesederhanaan

Menjelang lebaran idul fitri, masjid - masjid yang awal ramadhan penuh sesak berangsur shaft shalat pun semakin maju alias masjid menjadi sepi. Justru departement store semakin penuh disesaki lautan manusia, belum lagi jika departement store tersebut menawarkan diskon besar-besaran tak ayal beberapa orang bisa saling bertengkar bersaing mendapatkan barang yang di inginkan dengan harga miring.
 http://rakyatsulsel.com/wp-content/uploads/2012/08/15.08-Pasar-Senggol-mdfajar.jpg
Selama ini Idul Fitri selalu identik dengan mudik dan baju lebaran. Entah sejak kapan tradisi baju lebaran ini mengakar karena dari zaman saya masih dalam kandungan pun sudah banyak yang menerapkan perihal tradisi baju lebaran ini. Menurut saya kemungkinan orang-orang dahulu menerapkan tradisi ini untuk menyenangkan anak-anak mereka selepas menunaikan kewajiban Ramadhan semacam sebuah hadiah.

Padahal jika kita renungkan idul fitri adalah hari kemenangan, hari raya bagi umat muslim di seluruh dunia. Dalam kemegahan Idul Fitri tidak selayaknya juga untuk tampil berlebih-lebih namun sekarang moment idul fitri lebih sering dijadikan ajang fashion show. Semua tak mau kalah bersaing tampil berbeda dari biasanya. Dengan sikap-sikap orang - orang seperti itu justru akan menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial bagi masyarakat menengah kebawah.

Alangkah lebih indah jika idul fitri di maknai dengan kesederhanaan, justru dengann saling berbagi dan bersilaturahim bersama keluarga, saudara dan para tetangga. Tidak diwajibkan juga harus dengan baju baru, jika ada baju yang masih terlihat baik dan layak di kenakan. Rasulullah pun tidak pernah menganjurkan untuk tampil bermewah - mewahan karena beliau sendiri hidup dalam kesederhanaan.

Menurut survei, neraca perkeonomian pembelian konsumen pada menjelang idul fitri mengalami grafik yang cukup tinggi itu lebih dikarenakan hasrat seseorang ingin tampil sempurna dan terbuai akan iming - iming dikon besar, umumnya para ibu yang lebih sulit mengontrol keuangan jika sudah menginjakan kaki di departement store.

Namun jika semua orang memiliki simpati yang tinggi pada tetangganya, saudaranya mampukah mereka melihat disekitaran mereka masih banyak yang lebih membutuhkan daripada hanya sekedar menghamburkan uang dengan baju baru apalagi sampai berlebihan. Mungkin saja di sebuah sudut rumah ada seorang ibu yang menangis lantaran tidak bisa memenuhi keinginan anaknya untuk membeli baju baru. Sudah sepatutnya kita memiliki rasa empati, di kesucian hari kemenangan bukankah seharusnya dirayakan bagi semua kalangan ? tidak hanya untuk mereka yang memiliki finansial berlebih ?

Teladanilah Rasulullah dengan gelar ke nabi annya tidak menjadikan beliau hidup dalam kemewahan. Rasul Muhammad SAW lebih sering tampil apa adanya, bersahaja dan sederhana. Lalu kita yang hanya sebagai umatnya, tidak malukah jika terus bermewah - mewah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar